Wujudkan Kesejahteraan Petani, Dr. Moeldoko Kenalkan Benih Padi M70D dan M400

270
Foto : Dandim 0813 Bojonegoro, Letkol Inf M. Herry Subagyo dan sejumlah pejabat serta tokoh Kabupaten Bojonegoro, saat berfoto bersama Ketum DPN HKTI, Jenderal TNI (Pur) Dr. H. Moeldoko, S.IP. usai tanam benih padi unggul varietas M70D dan M400, di Desa Campurejo, Kecamatan / Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (20/08/2017) pagi.

Bengawanpost.com, Bojonegoro – Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (Ketum DPN HKTI), Jenderal TNI (Pur) Dr. H. Moeldoko, S.IP. lakukan penebaran benih padi unggul varietas M70D dan M400, di Desa Campurejo, Kecamatan / Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (20/08/2017) pagi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas padi, sehingga akhirnya bisa mensejahterakan kehidupan petani sekaligus mendukung terwujudnya swasembada pangan Nasional.

“HKTI memilih menanam benih padi M70D dan M400 ini, karena kwalitas M70D dan M400 yang dikembangkan M-TANI sangat unggul. M70D, misalnya. Mulai tanam hingga panen hanya membutuhkan waktu 70 hari. Jika dibandingkan dengan masa tanam padi biasa dibutuhan selama 115 – 120 hari / 4 bulan waktu tanam sampai panen, jelas M70D lebih cepat. Bahkan benih M70D ada yang 62 dan 63 hari saja sudah panen. Artinya dalam 1 tahun, bisa tanam dan panen 4 kali,” ujar Dr. Moeldoko mengawali sambutannya.

Selain itu, lanjut Dr. Moeldoko. Sesuai dengan ujicoba menanam M70D di Kabupaten Jember, Jawa Timur telah menghasilkan produksi padi rata-rata sebesar 9,6 ton/ha, jadi kalau ditanam empat kali bisa 28 ton/ha. Panen ini jauh lebih tinggi dari kebanyakan panen padi biasa di Indonesia, yang rata-rata hanya mendapatkan hasil panen sebesar 5 – 6 ton/ha.

“Dengan menanam benih padi M70D, kita sangat optimis dapat meningkatkan produsi padi. Sehingga akhirnya kehidupan petani bisa sejahtera, sekaligus dapat mendukung tercapainya swasembada pangan Nasional. Untuk diketahui, lahan padi di Indonesia ada 8,1 juta hektar, jadi kalau kita tanam 2 juta hektar saja, maka hasilnya 56 juta ton (gabah) atau setara dengan 28 juta ton beras,” tandas Mantan Panglima TNI ini.

Dr. Moeldoko menambahkan, selain benih M70D, HKTI juga ada benih padi varietas M400 yang tak kalah unggul. Disebut M400 karena dalam satu malai padi terdapat 400 biji padi. Satu malai bisa dibilang satu tangkai padi. Keunggulan lain, selama musim ekstrem seperti hujan dan angin kencang, padi M400 tidak akan roboh. Selain itu, daya tahan M400 terhadap hama cukup tinggi.

“Sekarang benih padi unggul HKTI varietas M400 terus dikembangkan pada banyak daerah, termasuk di Kabupaten Bojonegoro ini. Karena dengan tanam benih M400 menghasilkan volume panen padi  rata-rata mencapai 9 ton/ha, dengan durasi masa tanam 90 hari sudah panen, lebih pendek dibanding padi varietas biasa seperti serang, IR64 dan sebagainya. Selain itu, M400 tahan hama dan musim ekstrem,” tambahnya.

Diakhir sambutannya, Dr. Moeldoko mengungkapkan, mengapa dirinya ikut petani, dan tidak ikut menjadi pengusaha / lainnya saja. Menurutnya, hal ini merupakan caranya untuk membangun Indonesia, karena Indonesia sebagai negeri agraris harus benar – benar mampu mewujudkan kesejahteraan rakyatnya yang mayoritas adalah petani.

“Untuk mewujudkan kesejahteraan petani, HKTI melalui programnya seperti tanam benih M70D dan M400 ini, mengajak para petani untuk menggunakan metode bertani yang benar dan baik. Salah satunya dengan metode memuliakan tanah, sehingga dapat menyelamatkan hara tanah juga mengembalikan ekosistem di sawah. Selain itu, perkuatlah koordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dalam menyelesaikan segala masalah pertanian yang terjadi,” imbuhnya.

Masih dalam kesempatan ini, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Djupari mengharapkan dengan program HKTI ini nantinya bisa menjadi penyeimbang petani Bojonegoro. Khususnya program yang terkait dengan metode bertani yang baik dan benar.

“Selama ini metode bertani kita banyak memakai pupuk dari bahan kimia, sehingga membuat tanah di Bojonegoro sekarang sudah rusak. Untuk itu, agar tanah bisa menjadi normal kembali dan tidak semakin rusak, maka kami mengimbau pada para petani untuk menggunakan pupuk organic,” pinta Djupari seraya berharap.

Sementara itu, dalam acara ini tampak dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh Bojonegoro. Diantaranya Dandim 0813 Bojonegoro, Letkol Inf M. Herry Subagyo, Kapolres Bojonegoro, AKBP Wahyu Sri Bintoro, Ketua DPRD Bojonegoro, Hj. Mitro’atin, dan beberapa Kepala OPD Kabupaten Bojonegoro, serta Gapoktan juga lainnya.

Adapun agenda acara Dr. Moeldoko di Bojonegoro. Diantaranya mengunjungi Gudang Beras diwilayah Kecamatan Dander, yang dilanjutkan ke Desa Campurejo Kecamatan / Kabupaten Bojonegoro. Dimana dilokasi ini dilakukan sosialisasi dan tabur benih padi unggul varietas M400 dan M70D. Dan acara terakhir di Bojonegoro, Dr. Moeldoko mengunjungi Pondok Modern Al-Fatimah, di Desa Sukorejo, Kecamataan / Kabupaten Bojonegoro. Lalu rombongan Dr. Moeldoko meninggalkan Bojonegoro menuju Kabupaten Jombang. *[Bp]

LEAVE A REPLY