Untuk Pembangunan SDM, AKN Bojonegoro Gelar Seminar Pendidikan Keterampilan

381
Foto : Wabup Bojonegoro, Drs. H. Setyo Hartono saat memberikan sambutan pembukan Seminar Nasional yang digelar AKN Bojonegoro.

Bengawanpost.com, Bojonegoro – Bertempat di GDK Bojonegoro, Akademi Komunitas Negeri (AKN) Bojonegoro menggelar Seminar Nasional dengan tema “Peran guru BP/BK dalam rangka mempersiapkan peserta didik menghadapi persaingan di era masyarakat ekonomi ASEAN melalui pendidikan vokasional / pendidikan keterampilan”.

Seminar yang diikuti 150 guru BP/BK tingkat SMA/SMK ini, menghadirkan beberapa Narasumber, diantaranya dari Poltek Negeri Malang, Jaswadi, SE, M.Si, DBa, Ak., CPA., lalu dari MGBK Jawa Timur,  Dra. Sri Herminingsih dan dari Indonesia – Korea Culture and Study, Mr Chang.

Direktur AKN Bojonegoro, Yudi Pramono dalam sambutannya menuturkan, seminar ini merupakan agenda tahunan, dan tahun ini bekerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri. Karena Bojonegoro harus selangkah lebih maju, khususnya dalam mengarahkan siswa dan pelajarnya untuk mengembangkan karier dimasa depannya.

“Melihat fenomena saat ini di Bojonegoro, yakni adanya perkembangan pada sektor industry, jasa dan minyak. Maka seharusnya di Bojonegoro perlu pendidikan vokasional yang mengambil jurusan perhotelan, perminyakan, dan sektor yang mendukung ekonomi yang tengah berkembang di Bojonegoro,” tutur Yudi, Sabtu (12/11/2016).

Sementara itu dalam sambutannya, Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro, Drs. H. Setyo Hartono berterima kasih kepada guru BP/BK. sebab kedepan tantangannya makin berat. Untuk itu, guru harus bisa memetakan, mana yang bisa menjadi pemimpin dimasa depan. Caranya dengan kejujuran dan menghilangkan sistem pendidikan yang berkiblat pada siapa / kon sinten (kamu siapa), diganti menjadi sistem konsisten.

“Kami meminta para guru untuk melakukaan evaluasi, dan melihat perkembangan siswanya, jangan segan melaporkan jika ada siswa yang sedang bermasalah. Guru harus memberikan penilaian berdasarkan kemampuan siswa, bukan anak siapa atau siapa orang tuanya. Jika kita membedakan, sama saja membangun sistem pendidikan yang tidak baik, ini ternyata akan berdampak pada masa depan,” tandasnya.

Menurutnya, jika disekolah ada yang melakukan intervensi, apakah dalam penerimaan siswa, jangan mau. Untuk sekolah di pinggiran jangan jor – joran nilai, harus seimbang antara kemampuan dan nilai. Hal tersebut harus dilakukan, jika kita mau menghasilkan generasi yang unggul, yang memiliki kedisiplinan.

“Dalam menghadapi MEA, tantangan kita adalah SDM yang memiliki keterampilan. Perlu perenungan, apakah sudah tepat yang kita lakukan pada anak didik kita. Kami contohkan saat pemkab melakukan operasi sayang kepada pelajar, setelah pelajar yang kena razia dikembalikan ke orang tua , dan mereka masuk sekolah kembali, kira – kira apa yang dilakukan setelah anak itu kembali bersekolah,” ujarnya.

Selain itu, Wabup Setyo menyampaikan agar guru mencermati siswanya utamanya yang belum bayar, apakah karena kondisi keluarga / uangnya dibuat jajan. Guru harus melakukaan identifikasi dengan tepat, jangan sampai menimbulkan masalah bagi siswa yang memang ternyata kemampuan orang tuanya yang membutuhkan perhatian.

“Setelah seminar ini, harapannya tak ada lagi ditemui siswa yang nongkrong dipinggir jalan,main game dan lainnya. Mereka harus mengerti tanggungjawabnya. Kita harus menyadarkan bahwa orang tua mereka telah bekerja keras untuk membiayai sekolah mereka dan guru melakukan pendekatan dengan hati kepada siswanya,” pungkasnya. *[Bp]

LEAVE A REPLY