Tuntut Tuntaskan Kasus Munir, HmI Mbah Lamong Gelar September Hitam

160
Foto : Aktivis HmI Cabang Tuban Komisariat Mbah Lamong mengadakan acara September Hitam di Alun - Alun Kabupaten Lamongan, Minggu (08/09/2019).
Foto : Aktivis HmI Cabang Tuban Komisariat Mbah Lamong mengadakan acara September Hitam di Alun - Alun Kabupaten Lamongan, Minggu (08/09/2019).

Bengawanpost.com, Lamongan – Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) Cabang Tuban – Komisariat Mbah Lamong menggelar kegiatan “September Hitam”, di Alun – Alun Kabupaten Lamongan, Minggu (08/09/2019), tepatnya saat Minggu Ceria (Mince).

Bayu Prasetya, selaku
Koordinator menyampaikan, bahwa kegiatan September Hitam dengan membagikan selebaran yang berisi kasus yang pernah terjadi di Bulan September, bertujuan “Menolak Lupa”. Dalam hal itu, lupa akan kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang pernah terjadi di Indonesia.
Termasuk mengingatkan dan menyadarkan masyarakat bahwa HAM harus dijunjung tinggi dan milik semua orang.

“Kegiatan ini kita laksanakan, karena kita melihat masih banyak permasalahan HAM misalnya kasus pembunuhan aktivis HAM – Munir Said Thalib (Munir) dan segala permasalahan pelanggaran HAM yang ada disekitar kita yang masih terjadi,” ujar Bayu.

Diceritakan Bayu, terkait pelanggaran HAM, maka Bulan September memilki makna sendiri bagi rakyat di Indonesia, seperti Kasus Tanjung Priok pada September 1984, Kasus Semanggi II pada 24 September 1999 dan pembunuhan Aktivis HAM – Munir pada 07 September 2004,” ungkapnya.

Bayu menilai, hampir semua kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia terjadi dan melibatkan Negara sebagai aktor utamanya, dan seakan tidak ada perlindungan HAM di Indonesia, termasuk Kasus pelanggaran HAM – Munir yang juga merupakan mantan aktivis HmI adalah merupakan salah satu contoh pelanggaran HAM yang belum mampu diungkap Pemerintah secara terang benderang.

“Pemerintah harus membuka kembali dan menindak lanjuti dokumen hasil penyelidikan TPF kasus Munir yang dihilangkannya. Karena sebenarnya kalau kita kaji bukan hanya Pollycarpus pihak yang terlibat, masih banyak pihak yang lain yang terlibat,” papar Bayu.

Foto : Aktivis HmI Cabang Tuban Komisariat Mbah Lamong membagikan brosur September Hitam kepada masyarakat di Alun – Alun Kabupaten Lamongan, Minggu (08/09/2019).

Selain itu, Mantan Presiden Mahasiswa STIKIP PGRI Lamongan ini menyatakan, bahwa Pemerintah tidak bisa menutup mata dengan banyaknya permasalahan HAM yang terjadi disekitar kita. Sehingga Bayu mengaku melalui beberapa kasus pelanggaran HAM tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian berbagai pihak.

Selain itu juga, Bayu menyayangkan janji Presiden Jokowi untuk mengungkap kasus – kasus pelanggaran HAM dimasa lalu diawal pemerintahanya tidak terealisasi dan hanya sekedar janji.

“Tidak ada upaya nyata Pemerintahan Presiden Jokowi dalam memperjuangkan, dan membuka kasus – kasus HAM dimasa lalu dan Pemerintah secara perlahan mulai melupakan dan seakan dia telah lupa dengan janjinya,” tandas Kabid PTKP HmI Mbah Lamong ini menegaskan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum HmI Komisariat Mbah Lamong, M. Shodiqul Wahib menyampaikan, bahwa kegiatan September Hitam ini sangat penting, termasuk untuk mengigatkan dan menyadarkan masyarakat tentang sejarah.

“Kegiatan September Hitam pada pagi ini sangat bernilai positif bagi khalayak umum dan HmI khususnya, karena dengan kegiatan semacam ini kita bisa belajar bahwa masa lalu itu dibuat agar kita belajar melangkah dimasa sekarang untuk mencapai masa depan yang lebih baik tanpa terjadi lagi pelanggaran HAM di Indonesia tercinta ini,” pungkas Cak Diqul bersemangat. *[Pdl / Bp]

data bojonegoro

LEAVE A REPLY