Sudahkan Industri Migas Membawa Kesejahteraan Masyarakat

629
Foto : Bupati Bojonegoro, Kang Yoto bersama Kasubdit Menkeu RI, Cecilia Risyana, saat acara "Lokakarya dan kunjungan lapangan Pengelolaan Industri Hulu Migas di Indonesia”, Senin (19/12/2016).

Bengawanpost.com, Bojonegoro – Bertempat di Aston Hotel Bojonegoro, Senin (19/12/2016). Operator Lapangan Proyek Minyak dan Gas Bumi (Migas) Banyuurip Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) menggelar “Lokakarya dan kunjungan lapangan Pengelolaan Industri Hulu Migas di Indonesia”.

Lokakarya yang dibuka Bupati Bojonegoro, Drs. H. Suyoto (Kang Yoto) ini, dihadiri Kasubdit Bimbingan Teksnis Direktorat Pendapatan dan Kapasitas Keuangan Daerah – Kementerian Keuangan, Cecilia Risyana, Manajemen EMCL, perwakilan PT. Pertamina Explorasi dan Produksi Cepu (PEPC), SKPD terkait dan tamu undangan.

“Kegiatan ini diadakan selama 2 hari, dengan menghadirkan narasumber dari SKK Migas. Kita akan mengenal pengolahan industri hulu, dan bagaimana pengelolaan dana pendapatan utamanya Dana Bagi Hasil. Diharapkan agar seluruh peserta mengikutinya sampai selesai, karena yang kami lakukan adalah untuk membangun negeri,” demikian sambutan Vice Presiden EMCL, Muhammad Nurdin.

Selanjutnya Bupati Bojonegoro, Kang Yoto menyampaikan, karena tingginya harapan masyarakat terhadap adanya industry Migas di Bojonegoro, membuat semua orang yakin akan menjadi kaya dengan migas. Inilah yang menumbuhkan semacam “Khayalan Thoyyiban” atau tumbuhnya khayalan yang indah akan minyak dan gas.

“Khayalan Thoyyiban ini dimulai sebelum, sesaat, sedang atau saat puncak produksi. Kini ketika sedang produksi, apa yang ada dibenak mereka adalah bisa ikut mengolah baik maintenance atau operation. Kedua, adalah yang terlibat bukan orang lokal namun para seenseaker yang tau dan terlibat,” ujar Bupati Kang Yoto.

Oleh karenanya, lanjut Kang Yoto. Khayalan Thoyyiban ini harus dimanage dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat, utamanya adalah mereka yang berada dilokasi eksplorasi. Mengapa demikian, karena di tempat minyak ada proses penderitaan yang panjang, Kedua, disekitar kegiatan eksplorasi kecenderungan SDM masih terbatas.

“Dasar ketiga, masyarakat harus dapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang bersama di kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Inilah penerapan sila kelima pancasila, yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Yang mana penguatan ini di maknai pada sisi keadilan distributig dan keadilan partisipatif,” lanjutnya.

Selain itu, Kang Yoto menegaskan, sumber daya migas ini bisa menjadi kutukan, karena kesalahan pengelolaan, khususnya kesalahan Sumber Daya Manusia (SDM). Inilah yang mengakibatkan kutukan karena salah mengelola lingkungan, karena konflik, mental korupsi dan belanja yang tidak tepat.

Untuk menghindari kutukan tersebut, Kang Yoto mengungkapkan. Bahwa Bojonegoro membuat kebijkan penguatan SDM, Infrastruktur pendukung pertumbuhan ekonomi dan penguatan fiskal dalam jangka panjang. Salah satunya melalui Dana Abadi Migas, sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan menyiapkan masa depan anak cucu.

“Harus dipahami betul bahwa anak cucu kita mempunyai hak pula terhadap migas, karenanya kita harus mengelola dengan baik. Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada Allah dan anak cucu kita. Penguatan fiskal ini demi masa depan generasi mendatang, Dana Abadi Migas adalah menyiapkan generasi Bojonegoro. Sehingga kita tidak sekedar meninggalkan cerita sejarah tentang kekayaan minyak kita,” ungkapnya.

Sementara itu, sesi pertama dalam lokakarya ini A Rinto Pudyantoro, Kepala Dinas Perpajakan dan Pungutan SKK Migas, A Rinto Pudyantoro menjadi narasumber yang membahas tentang “Update Isu Hulu Migas dan PSC”, dan juga mengenalkan karya tulisnya, yakni 3 buku tentang Migas.

Adapun 3 buku yang perkenalkan Pria yang lahir pada tanggal 8 Mei tahun 1966 ini. Yang Pertama,  ‘A to Z Bisnis Hulu migas yang di cetak pada tahun 2012 lalu, Proyek Hulu Migas Analisa dan Evaluasi Petro Ekonomi (2014), yang terakhir buku ‘Dialog tanya jawab Migas’ dikeluarkan pada tahun 2015.

Narasumber berikutnya, Kasubdit Bimbingan Teksnis Direktorat Pendapatan dan Kapasitas Keuangan Daerah – Kementerian Keuangan RI, Cecilia Risyana yang memaparkan tentang Dana Bagi Hasil (DBH), baik dari dasar hukumnya, arah, tujuan, jenis, porsi pembagian, siklus penghitungan dan penetapan serta penyaluran DBH.

Lalu narasumber terakhir dari Kepala Dinas ESDM Bojonegoro, Agus Supriyanto yang membahas kebijakan daerah dalam mendukung kegiatan industri migas. Selanjutnya sesudah lokakarya ini, rencananya Selasa (20/12/2016). Para peserta lokakarya akan diajak berkunjung ke lapangan pengelolaan industri hulu migas Blok Cepu. *[Bp]

LEAVE A REPLY