SSR TB – HIV Care ‘Aisyiyah Bojonegoro Harapkan 1 Desa 1 Pendamping Tuberkulosis

608
Foto : SSR TB-HIV Care 'Aisyiyah Bojonegoro bersama Asisten II Setyo Yuliono, Anggota DPRD Bojonegoro, Sally Atyasasmi dan lainnya, usai mengelar “Advocate Key Issue and Policies TB-HIV di Bojonegoro”, Rabu (28/12/2016).

Bengawanpost.com, Bojonegoro – Dalam rangka peningkatan kesadaran semua fihak terhadap pemberantasan penularan penyakit Tuberkulosis (TB) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Bojonegoro. Tim Sub – Sub Recipient (SSR) TB-HIV Care ‘Aisyiyah Bojonegoro mengelar “Rapat Advocate Key Issue and Policies”, di gedung Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (28/12/2016).

Dalam rapat yang dihadiri Asisten II Setyo Yuliono, Ketua PD Muhammadiyah Bojonegoro, Suwito. Kadinkes Bojonegoro, dr Sunhadi, Anggota DPRD Bojonegoro, Sally Atyasasmi, perwakilan RSUD Sosodoro Djatikusuma (SD) Bojonegoro dan lainnya ini, meminta agar secepatnya RSUD SD Bojonegoro menjadi rujukan penanganan TB MDR, karena selama ini pasiennya harus langsung ke RSUD Dr Soetomo Surabaya.

“Karena masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pengobatan dan tuntas berobat menjadi kendala terbesar dalam penurunan penyakit khususnya TB. Maka kami meminta agar secepatnya RSUD Sosodoro Djatikusuma menjadi rujukan penanganan TB MDR, yang selama ini langsung dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya,” pinta Perwakilan SSR TB-HIV Care ‘Aisyiyah, Dian Ika Sukmawati dalam rapat tersebut.

Selain itu, Dian mengharapkan Pemkab Bojonegoro bisa membuat kebijakan satu pendamping untuk pasien TB di setiap Desa. Sehingga pemberantasan penyakit TB dapat berjalan secara efektif, di tenggah jumlah orang terkena TB di Kabupaten Bojonegoro yang setiap tahunnya mengalami peningkatan jumlah cukup singnifikan.

Adapun jumlah penderita TB MDR di Bojonegoro tahun 2013 ditemukan 1 penderita TB MDR. Tahun 2014 terpantau 2 pasien, 1 sembuh karena rutin berobat namun 1 orang meninggal dunia. Lalu tahun 2015 ada 7 kasus, 3 sembuh berobat, 1 pasien DO (Drop Out) dan 3 lainnya meninggal. Kemudian tahun 2016 ini 7 orang penderita TB MDR ditemukan lagi, 3 mengikuti pengobatan tapi 4 pasien DO.

“Kami menyayangkan sikap penderita yang menghentikan pengobatan padahal resiko menularkan TB MDR sedemikian besar. Apalagi ketika mereka sudah positif menderita TB MDR maka resiko menularkannya 100 persen. Untuk itu, kami mengharapkan agar semua pihak turut serta menekan jumlah pasien TB MDR yang menghentikan pengobatan, dengan cara ada 1 pendamping pasien TB di setiap Desa,” harapnya.

Dian menambahkan, resiko pasien DO TB MDR / TB akan mengalami resisten terhadap obat, bahkan sumber penularan. Karenanya peran keluarga agar senantiasa mengingatkan pasien mau rutin berobat dan keluaga selalu setia mendampingi ketika mereka melakukan pemeriksaan. Selanjutnya Dian juga menghimbau pola hidup sehat dan rajin membersihkan lingkungan sekitar, guna mencegah berkembangnya TB.

“Pasien DO merupakan sumber penularan, suatu waktu bisa menjadi Bom Waktu, yang siap meledak. Apalagi ironisnya, setiap tahun mengalami penurunan anggaran, dari data dari tahun 2013 sebesar 1,061 Miliar, tahun 2014 sekitar Rp 67 juta dan tahun 2015 menjadi Rp 47 juta, ironisnya lagi di tahun 2016 hanya Rp 42 juta. Jadi jika Bojonegoro mau terbebas penyakit TB maka semua fihak harus sinergis,” tambahnya.

Sementara itu menanggapi hal tesebut, perwakilan RSUD Sosodoro Djatikusuma Bojonegoro, dr. Agus menjelaskan bahwa, kini layanan poli paru di RS Veteran sudah terpisah demikian juga untuk rawat inap. Di RS Veteran di poli paru dibedakan menjadi 3 yakni khusus penderita TB, Non TB dan TB MDR. Jika selama ini masih tercampur maka di RS Veteran semua sudah sesuai klasifikasi hasil pemeriksaan.

Perlu diketahui, Global TB Report dari WHO menunjukkan 1,5 juta orang meninggal akibat TB pada tahun 2014. Yang mana jumlahnya di Indonesia tahun 2014 mencapai 183/100.000 penduduk, ini 300.000 lebih banyak dari jumlah yang meninggal akibat HIV. Melihat ini, dapatkah terwujud rencana strategis nasional dari Kemenkes RI pada 2015 hingga 2019 Indonesia, tetap memakai prevelensi TB 272 per 100.000 penduduk

Padahal jumlah suspect TB segala jenis di Kabupaten Bojonegoro saja tahun 2014 terdapat 436, 123 BTA dan 78 CNR. Tahun 2015 jumlahnya 476 orang suspect, 167 BTA dan 168 CNR. Lalu tahun 2016 terus meningkat menjadi 903 warga Bojonegoro suspect, 199 BTA dan 308 CNR. Kondisi ini benar – benar memprihatinkan, dan sangat memerlukan kepedulian semua fihak untuk ikut beperan serta menyelesaikannya. *[Bp]

LEAVE A REPLY