Siap Tangani Bencana, BPBD Bojonegoro Bentuk Desa Tangguh

425
Foto : Kepala BPBD Bojonegoro, Andik Sudjarwo saat menjadi narasumber “Seminar Pembentukkan Desa Tangguh Bencana”, di Ruang Angling Dharma Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (09/11/2017).

Bengawanpost.com, Bojonegoro – Dalam rangka memperkuat ketahanan Desa terhadap bencana, utamanya Desa yang rawan bencana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro menggelar “Seminar Pembentukkan Desa Tangguh Bencana”, di Ruang Angling Dharma Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (09/11/2017).

“Tujuan BPBD mengenalkan program ini, untuk menyampaikan informasi hasil capaian Desa Tangguh Bencana di Bojonegoro, dan kesiapan dengan seperti Sibad, Kampung Siaga dan lain sebagainya sebagai mitra,” ujar Kepala BPBD Bojonegoro, Andik Sudjarwo saat menjadi narasumber bersama BPBD Provinsi Jawa Timur dalam seminar ini.

Andik Sudjarwo menambahkan, bahwa Desa Tangguh Bencana di Kabupaten Bojonegoro terdapat di 4 Desa dari 3 Kecamatan. Yakni Desa Kedungprimpen dan Desa Gedongarum, Kecamatan Kanor. Lalu Desa Mojo Kecamatan Kalitidu, dan Desa Bogo, Kecamatan Kapas.

“Sebelum 4 desa dari 3 Kecamatan ini, di Bojonegoro juga sudah ada Desa Tangguh Bencana lainnya. Ini kepentingan bersama yang harus senantiasa didukung oleh semua komponen yang ada,” tambah Andik Sudjarwo seraya mengajak.

Masih dalam kesempatan yang sama, Asisten III Bidang Administrasi Umum Pemkab Bojonegoro, Yayan Rohman, MM. menyampaikan berbagai manfaat yang diperoleh Bojonegoro sebagai daerah yang dilalui sungai besar Bengawan Solo. Dan dirinya juga bercerita tentang 10 tahun yang lalu tentang penanganan bencana akibat luapan banjir sungai Bengawan Solo.

“Titik balik kita diakhir tahun 2007/2008 saat banjir besar melanda, yang mana saat itu sebagian besar wilayah kita tergenang banjir dan lumpuh. Selanjutnya dari hal itu maka kita kini bisa menghitung dampak, waktu dan ketinggian banjir akibat luapan sungai bengawan solo. Bahkan dengan sistem tata kelola bencana, maka kita berhasil meraih penghargaan nasional tata kelola bencana terbaik,” ungkapnya.

Selain itu, disampaikan juga terkait Desa Siaga. Menurut Yayan Rohman, bahwa untuk mewujudkan Desa Siaga maka sosialisasi dan pemahaman warga harus senantiasa diberikan sehingga mereka paham dengan resiko terhadap bencana.

Foto : Para peserta “Seminar Pembentukkan Desa Tangguh Bencana” yang digelar oleh BPBD Bojonegoro, di Ruang Angling Dharma Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (09/11/2017).

Sementara itu, Suherman selaku Kepala Desa (Kades) Gedongarum, Kecamatan Kanor kepada media sebelum acara mengatakan, bahwa BPBD telah menggelar pelatihan dan simulasi penanganan akibat bencana banjir di Desa Gedongarum. Dan pelatihan tersebut melibatkan kader – kader yang kedepannya akan dibentuk pokja pokja dengan 20 indikator.

“BPBD Bojonegoro telah menggelar pelatihan dan simulasi penanganan akibat bencana banjir di Desa Gedongarum. Dan dalam waktu dekat ini, BPBD juga akan melatih pokja – pokja yang kemudian akan dilakukan pemetaan daerah terdampak dan rawan serta ditentukan juga titik evakuasi dan dapur umum,” kata Kades Gedongarum, Suherman.

Dituturkan Suherman, bahwa Gedongarum sering terjadi banjir, dan biasanya banjir mulai melanda pada akhir Desember sampai Maret. Bahkan sebenarnya banjir luapan sungai bengawan solo ini sudah akrab dengan warga, namun dirinya mengakui penanganan yang dilakukan warganya selama ini belum tersistematis.

“Kini dengan ditentukannya Desa Gedongarum menjadi Desa Tangguh Bencana, maka kemampuan warga makin meningkat. Apalagi didukung dengan pelatihan dan pendampingan yang dilakukan BPBD. Karena biasanya selama banjir, hal utama yang dilakukan adalah bagaimana mengamankan areal persawahan, hal ini dilakukan untuk menekan kerugian,” tuturnya.

Ditambahkan, beberapa waktu lalu petani di Desanya melakukan klaim asuransi pertanian sebesar 1,8 milyar rupiah untuk luasan lahan 350 hektar. Perlu diketahui, seluruh petani di Desa Gedongarum sudah mengikuti asuransi pertanian. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk ketahanan petani Desa Gedongarum.

Lebih lanjut Suherman menyampaikan, bahwa warga desanya menyambut baik inisiatif Pemkab dan BPBD yang menjadikan daerah rawan bencana menjadi Desa Tangguh Bencana, karena ini mengedukasi warga agar sigap dan bisa tahu apa yang harus dilakukan dengan berbekal pengetahuan yang didapatkan.

“Kami mendukung pembentukkan Desa Tangguh Bencana oleh BPBD Bojonegoro ini. Karena dengan hal tersebut setidaknya kami mampu mengatasi dan berupaya dengan daya seluruh warga tentunya menangani bencana yang terjadi. Namun jika terjadi hal diluar kemampuan, maka pihaknya akan cepat melakukan koordinasi,” pungkas Suherman seraya berterima kasih. *[Bp]

LEAVE A REPLY