Serakahnya Orang, Dukanya Binatang

7123
Foto : Seekor Beruang Madu mati karena kesetrum jebakan listrik untuk babi hutan, di pedalaman Tembilahan, Riau.

Oleh : Gus Glory Muchtar

Tulisan Ini Patut Kita Renungkan Untuk Segera Kita Taubati

Kemarin, di pedalaman Tembilahan, Riau, sedih mendengar kabar seekor beruang madu mati karena kesetrum jebakan listrik untuk babi hutan. Menipisnya ketersediaan pangan akibat dibabatnya hutan untuk perkebunan sawit, memaksa si beruang mencari makan sampai perkebunan jagung para penduduk. Biasanya hanya dengar berita. Kali ini kejadiannya hanya beberapa blok dari tempat saya sedang berkunjung. Rasa berkabungnya terasa beda.

Terbayang oleh saya, mungkin beruang lain yang menyaksikan keluarganya mati karena ulah manusia, dari balik rerimbunan merintih, “Apa salah kami? Kami hanya cari makan karena seluruh makanan kami sudah kalian makan. Tidak cukupkah jutaan hektar rumah kami kalian bakar dan rampas, sehingga harus membunuh kami?”.

Hari ini, makin miris kala BBC memberitakan satu satunya badak terakhir Kalimantan juga mati karena infeksi di kaki akibat luka jeratan kawat yang dipasang manusia. Itu adalah badak langka terakhir yang ada di pulau Kalimantan. Kematian Najaq, nama badak itu, menjadi gong kepunahan spesiesnya. (Lihat http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/04/160405_majalah_lingkungan_badak_kalimantan)

Menurut data, tiap tahun sekitar 75 juta ekor hiu diburu dan dan dibunuh manusia hanya untuk diambil siripnya. Konsumsi menu aneh soup sirip ikan hiu sedang tinggi. China dan Taiwan konsumen tertinggi. Jika berlanjut, spesies tertinggi di rantai makanan lautan ini juga diperkirakan akan punah.

Jadi ingat lagu Linkin Park “what i’ve done”, lirik dan video klipnya. Tentang penyesalan yang agak terlambat. Kita suatu saat pasti akan menyesal jika tidak berhenti menuruti hawa nafsu. Rakus dan loba pada apapun yang ada di planet kita ini, bumi, the only home for us.

Ya. Apa yang sudah kita lakukan ? Tidak bisakah kita hidup sekedar sesuai kebutuhan survival ? Tidak cukupkah kita makan sekedar karena menutup lapar, bukan berdasar rasa penasar ? Tidak cukupkah gaji tinggimu itu tanpa harus korupsi ? Tidak cukupkah kekayaanmu tanpa harus membabat jutaan hektar hutan rumah beruang Riau dan badak Kalimantan itu ?

“Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan”, demikian peringatan Abi Muchtar, guru kami, saat kami tampak makan dengan rakus. Kita memang butuh makanan. Tapi makanlah sesuai kebutuhan tubuh saja. Saat seseorang berburu materi melebihi apa yang dia butuhkan, demi gengsi dan status duniawi, maka sumber daya hidupnya akan dihabiskan untuk perburuan itu. Bila perlu eksplorasi habis sumber daya alam ini. Padahal faktanya yang benar benar dia konsumsi hanyalah sepiring nasi.

Dulu, manusia hanya memakan apa yang bisa dimakan. Sekarang, manusia “memakan” apa yang bahkan tidak bisa dimakan. Kayu, besi, binatang buas, minyak, batu bara, semua “dimakan”. Manusia telah berubah, hidup untuk makan. Bahkan sesama manusia pun “dimakan”.

Harusnya, makan untuk hidup. Kita pergunakan waktu tenaga dan pikiran untuk memperjuangkan kepentingan bangsa, agama dan negara. Prosesnya kita tentu membutuhkan energi. Di situlah kita cari makan, sekedar untuk menyambung hidup. Asal sehat, memenuhi kebutuhan energi, cukup. Ikut kata Nabi, makanlah kamu dan berhentilah sebelum kenyang.

Kurangi wisata kulinari pemuas nafsu syaitoni. Makanlah sekedar kebutuhan kalori. Supaya kamu tidak korupsi, sudahi hidup karena gengsi dan rebutan kursi. Kelebihan rizki ?Jangan habiskan semua di dunia ini, bawalah pulang ke akhirat, kampung abadi. Sedekahkan untuk bangsa, agama, negara dan the most needy. Kekurangan rizki ?

Syukuri apa yang DIA beri. Lihat di bawah kita banyak kondisinya yang lebih ngeri. Stop eksploitasi bumi loba materi. Jaga planet ini, rumah bersama yang sementara ini, tetap lestari. Ingatlah, pada akhirnya kita akan ditanya Ilahi tentang semua ini di akhirat nanti. Salam Kamis Optimis.

Penulis adalah : Putra dari Bapak Guru MA Muchtar, Pendiri Pondok Pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA), Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

LEAVE A REPLY