Seminar Kefarmasian dan Workshop PAFI Bojonegoro Dibuka Pak Mul

480
Foto : Sekda Kabupaten Bojonegoro, Soehadi Moeljono (Pak Mul), saat membuka acara "Seminar Kefarmasian dan Workshop PAFI Bojonegoro”, di Gedung Islamic Center Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (26/11/2017) pagi.

Bengawanpost.com, Bojonegoro – Bertempat di Gedung Islamic Center Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (26/11/2017) pagi. Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Bojonegoro, Soehadi Moeljono (Pak Mul) membuka acara “Seminar dan Workshop Kefarmasian PAFI (Persatuan Ahli Farmasi) Bojonegoro”.

“Kami mengapresiasi eksistensi dari Pengurus Cabang (PC) PAFI Bojonegoro. Karena PAFI ini merupakan bagian dari 4 (empat) pilar penting yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, dan harus saling berkoordinasi untuk kesuksesan pembangunan bidang kesehatan,” ujar Sekdakab Bojonegoro, Pak Mul dalam sambutan pembukaan acara ini.

Dijelaskannya, adapun 4 Pilar pembangunan bidang kesehatan yang pertama adalah Pilar Pemerintah, Pemerintah sebagai fasilitator dan pendorong. Pilar yang kedua yaitu Element Masyarakat yang terdiri Perguruan Tinggi, Sekolah-Sekolah Farmasi. Kemudian Pilar Yang Ketiga, adalah Para Pengusaha atau Pembisnis. Dan pilar yang keempat adalah dari sisi masyarakat itu sendiri.

“Di Kabupaten Bojonegoro ini, konsen pembangunan bidang kesehatannya kepada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), dan Sarana Prasarana Kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas, dan lain – lain. Sehingga saya berangan-angan, kesehatan dibangun dengan 4 pilar, tetapi dengan pelayanan masyarakat yang terbaik dan dilayani oleh petugas-petugas yang profesional,” jelas Pak Mul.

Foto : Sekda Kabupaten Bojonegoro, Soehadi Moeljono (Pak Mul) bersama Jajaran Pengurus PAFI dan lainnya, Minggu (26/11/2017) pagi.

Sementara itu, dalam acara ini nampak dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro, Ninik Kusmiayati, Ketua Pengurus Daerah (PD) PAFI Jatim, Hendro Tripancoro, Ketua PC PAFI Bojonegoro, Mochamad Salim dan praktisi – praktisi kefarmasian lainnya.

Ketua PD PAFI Jatim, Hendro Tripancoro menyampaikan, bahwa acara yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan Tenaga Tehnis Kefarmasian (TTK) ini, dikuti sekitar 700 peserta dari TTK, serta para mahasiswa dan pelajar sekolah-sekolah farmasi Se- Jatim.

“Tujuan acara ini, selain untuk memperkenalkan Sistem Oline Surat Tanda Registrasi (STR) TTK maupun Kartu Tanda Anggota Nasional (KTAN), juga untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para TTK terkait kerfarmasian, serta memberi pengetahuan terkait identifikasi serta pencegahan penyakit jantung akut,” papar Hendro Tripancoro.

Masih dalam kesempatan ini, Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro, Ninik Kusmiayati menyampaikan bahwa, guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, maka tenaga kefarmasian yang merupakan bagian tenaga kesehatan keberadaannya sangat penting. Oleh karena itu, tenaga kesehatan itu harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan.

Diungkapnya, bahwa tenaga kefarmasian di Kabupaten Bojonegoro adalah tenaga yang langka. Diantaranya hanya ada 100 apoteker, lalu di 36 puskesmas hanya 7 puskesmas yang mempunyai TTK lulusan setara D3 Farmasi. Sehingga ada 29 puskesmas yang belum mempunyai TTK. Bahkan di Rumah Sakit di Bojonegoropun masih kekurangan tenaga apoteker dan TTK.

“Semoga pada seminar ini, ada titik temu adanya mis komunikasi terkait TTK di Bojonegoro, sehingga diharapkan nantinya untuk standart pelayanan kefarmasian di setiap puskesmas utamanya di Kabupaten Bojonegoro ini harus ada TTK,” pungkas Ninik Kusmiayati seraya berharap. *[Bp]

LEAVE A REPLY