Sekda Soehadi Membuka Rakor Penekanan Angka Kematian Ibu

433
Foto : Sekda Bojonegoro, Soehadi Moeljono saat membuka Rakor penekanan Angka Kematian Ibu (AKI).

Bengawanpost.com, Bojonegoro – Bertempat di gedung baru Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (13/10/2016), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bojonegoro menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) penekanan Angka Kematian Ibu (AKI).

Rakor yang dibuka Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro, Soehadi Moeljono ini diikuti Kepala Puskesmas se-Kabupatem Bojonegoro, Kepala UPT, Dokter spesialis kandungan Bojonegoro, dan anggota tim pengendali ibu Resiko Tinggi (Risti).

Sekda Bojonegoro, Soehadi Moeljono dalam sambutannya menyampaikan rasa prihatinnya terhadap peningkatan kasus AKI di Bojonegoro dan sampai saat ini belum terselesaikan dengan baik, walau cuma meminimalisirnya.

“Mohon kepada seluruh petugas kesehatan untuk memperhatikan betul masalah ini. Selanjutnya segera lakukan tindakan kongkret untuk pencegahannya secara sistematis dan berkelanjutan,” tandasnya.

Sekda juga menjelaskan, penyelesaian masalah ini tidak cukup tenaga kesehatan saja. Sehingga perlu sinergi antara Pemerintah, para ahli, pengusaha dan komunitas.

“Menyelesaikan masalah pengentasan Risti, bisa dilakukan dengan kekuatan dan dorongan penuh dari berbagai pihak. Sosialisasi bisa dilakukan semua pihak dengan berbagai cara, sehingga akan lebih efisien dan dipercaya masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut Sekda menawarkan solusi pengentasan masalah Risti, Yang pertama, ketersediaan infrastruktur yang meliputi sarana prasarana (alat), dan obat-obatan. Sedang yang kedua tidak ada lagi keterlambatan penanganan.

“Selain alat yang terbatas. Banyak keluhan diterima, diantaranya minimnya persediaan obat, ditambah lambatnya penanganan, khususnya terhadap Risti. Sehingga diharapkan Dinkes bisa lebih concern pada masalah ini,” katanya.

Namun Sekda memaparkan penyebab keterlambatan penanganan Risti. Yakni Pertama, pasien lambat memeriksakan kehamilan, sehingga petugas yang melayani tidak bisa mendeteksi permasalahan yang mungkin di alami sejak awal kehamilan.

Yang kedua, karena terbatasnya tenaga ahli kesehatan, sehingga penanganan pasien yang darurat harus menunggu tim ahli. Yang ketiga terkait sumber daya manusia, yang meliputi kesadaran seorang ibu atau calon ibu untuk memeriksakan sejak awal.

“Sebagai upaya pendeteksian dini, dan peningkatan kemampuan petugas layanan kesehatan. Agar membuat program promotif yang bisa meningkatkan kesadaran pasien dalam melakukan program hamil,” imbuhnya.

Yang terakhir, Managemen, sudah benarkah pelayanan yang kita lakukan untuk menekan risti. Sehingga solusi yang kita lakukan bisa tepat sasaran.

“Lakukan evaluasi kinerja, belajar dan terapkan langkah-langkah yang diambil berbagai pihak dalam melakukan penekanan risti. Untuk itu, Dinkes dan Puskesmas harus bertemu secara periodik untuk mencari solusi dalam penekanan AKI ini,” pungkasnya. *[Bp]

LEAVE A REPLY