Saatnya Stop Kekerasan Perempuan

490
Foto : Brosur Diskusi Publik "Perempuan dan Kekerasan" yang akan digelar KOHATI ISIP UMM.

Bengawanpost.com, Kota Batu – Pada hari ini Sabtu (26/11/2016) jam 08.00 – 15.00 WIB, di Gedung Graha Pancasila Balai Among Tani, Kota Batu, Jatim. Korps HMI – Wati (KOHATI) Komisariat Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (ISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan menggelar Diskusi Publik bertema “Perempuan dan Kekerasan”.

Kegiatan yang akan dibuka Walikota Batu, H. Eddy Rumpoko ini, menghadirkan Dra. Dewanti Rumpoko selaku stadium general, dan pemateri yakni DPRD Kota Malang, Ya’qud Ananda G, KOMNAS Perempuan, Nahe’I, Women’s Crysis Center Malang, Sri Wahyuningtyas serta Koordinator Koalisi Perempuan Indonesia Malang, Sunarlin.

Ketua Umum KOHATI ISIP UMM, Hanan Nazah dalam rilis media mengatakan, bahwa kegiatan tersebut dalam rangka Hari Internasional “Untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan” yang diperingati setiap tanggal 25 November. Yang mana faktanya sampai saat ini, 1 dari 3 perempuan di dunia telah menjadi korban kekerasan.

“Semoga dengan adanya peringatan ini, dapat menambah ilmu baru untuk kami mengenai prospek litigasi pada kasus kekerasan, dan hasilnya bisa menggerakkan para kaum perempuan Indonesia untuk bersama-sama mencegah kasus kekerasan serta dapat memaksimalkan pengawalan pada korban kekerasan,” kata Hanan.

Untuk mewujudkan hal itu, lanjut Hanan. Fihaknya mengundang organisasi terkait perempuan mulai dari KOHATI se-Cabang Malang, MHTI, KPI, WCC,  Gerakan Organisasi Wanita, LP3A,  Solidaritas Perempuan, BKKBN, Sekolah Perempuan Desa Batu, PMII, IMM, KAMMI, Duta Hijab dan beberapa akademisi perempuan lain.

Menurutnya, selama ini ketika terjadi kekerasan perempuan, kebanyakan semua fihak khususnya aktivis / organisasi perempuan hanya berkonsentrasi pada penghukuman si pelaku kekerasan. Maka harapannya dengan kegiatan ini, peran organisasi perempuan dapat mendukung pencegahan kekerasan sampai penyelesaian masalahnya.

“Harapannya kedepan para aktivis perempuan ini, juga bisa menjadi penopang si korban serta mengiring perjuangan korban melawan tekanan secara fisik maupun batin. Karena melalui aktivis inilah, suara – suara tak terdengar dari perempuan Indonesia bisa terdengar dan membantu memperjuangkan masalahnya,” pungkasnya. *[Ir/Id]

LEAVE A REPLY