Renungan Puasa Ramadhan Bagi Ummat Islam

427
Foto : Soimin Delahoya

Oleh : Soimin Delahoya

Patut kita syukuri dan panjatkan puji syukur kehadiran Allah SWT, yang telah mempertemukan kembali Ramadhan di tahun 1437H / 2016M ini dengan niat yang ikhlas dan tulus untuk menjalani “perintah” menunaikan “ibadah puasa”. Yang telah “diwajibkan” atas semua ummat Islam untuk menunaikan puasa, sebagaimana ummat terdahulu. Untuk itu, kita perlu mempersiapkan diri bekal dan tekad yang membaja guna menelusuri jalan “tarbiyah” selama satu bulan penuh, untuk memerangi “hawa nafsu” dari syahwat “batiniah” maupun “lahiriah”.

Sehingga dengan tekad dan niat yang sudah tertanam, dalam menjalankan ibadah puasa mampu menghidupkan malam ramadhan dengan salat “taraweh” dan “tadarrus” Al-Quran, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah SWT melalui puasa, dengan tidak makan dan minum tetapi juga tidak melakukan hal-hal yang dapat membatalkan ibadah puasa dari sisi pahala, seperti tidak berbuat maksiat. Dari pengertian tersebut, maka ibadah puasa adalah ibadah yang menahan diri dari hawa hafsu baik “lahir” maupun “batin”.

Maka “puasa” tidak hanya membatasi pada menahan makan, minum dan berhubungan suami-istri, tetapi juga digunakan untuk manahan bicara yang kotor atau jelek, bahkan yang menyakitkan atau menyinggung perasaan orang lain. Lebih dari itu, kaum Sufi, merujuk kepada hakikat dan tujuan puasa, menambahkan bahwa kegiatan yang harus dibatasi selama melakukan ibadah puasa mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh, hati, dan pikiran dari melakukan segala macam dosa.

Maka sangat wajar jika “palaha” yang Allah SWT janjikan bagi umat Islam yang menunaikan ibadah puasa, dengan sebenar-benarnya puasa maka tidak ada pahala yang lebih baik daripada ibadah puasa. Hal itu telah ditegaskan dalam Hadis Qudsi yang menyatakan: “Al-Shaumu liy wa Ana Ajziy”; yang artinya bahwa Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberi ganjaran (H.R. Al-Bukhari). Mengingat capaian dari proses ibadah puasa adalah proses “tarbiyah” (penggemblengan) pada umat Islam untuk menuju “ketaqwaan”.

Dengan begitu, tujuan dari proses ibadah puasa melalui “tarbiyah” itu dalam rangka mencapai ketaqwaan (la’allakum tattaqun). Implikasi atas perwujudan dari proses “penggemblengan” ibadah puasa selama satu bulan penuh itu, harus berdampak pada kehidupan sosial pada akhirnya. Karena capaian menjadi manusia yang menyandang predikat “la’allakum tattaqun” adalah manusia yang mencapai drajat yang tertinggi dihadapan Allah SWT.

Sehingga la’allakum tattaqun tidak hanya dalam konsepsi tujuan puasa untuk kepentingan yang berpuasa sendiri, yakni agar terhindar dari siksa api neraka melainkan juga bisa menjadi cermin umat beragama, yang menunjukan ahklaq yang baik. Dengan begitu, ibadah puasa di bulan suci Ramadhan dibutuhkan oleh semua manusia untuk kepentingan pribadi dan masyarakat, agar terbangun sikap yang kuat secara pribadi maupun sosial. Dengan kata lain, pribadi-pribadi yang la’allakum tattaqun adalah “insan kamil”.

Hal ini mengisyaratkan bahwa dengan berpuasa, manusia berupaya dalam tahap awal dan minimal meneladani sifat-sifat Allah. Sehingga umat Islam memiliki keunggulan dalam ibadah (tauhidiyah) tetapi juga memiliki kesalehan sosial. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW: “Takhallaqu bi akhlaq Allah”; yang artinya Teladanilah sifat-sifat Allah.

Oleh karena itu, ibadah puasa harus berorientasi pada mempertinggi rasa persaudaraan dan kepedulian sosial, sekaligus juga ibadah puasa mengasah dan mengasuh manusia agar memiliki sifat sabar dan jujur. Semoga ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan suci Ramadhan ini nantinya dapat melahirkan nilai-nilai ketaqwaan, nilai-nilai persaudaraan, kebanaran dan kejujuran dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, di sekitar lingkungan kita sampai selepas bulan Ramadhan khususnya untuk 11 bulan ke depan.

Penulis adalah : Praktisi pemberdayaan masyarakat.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY