Pesan Kang Yoto Saat Wisuda STIKES Insan Cendikia Bojonegoro

450
Foto : Bupati Bojonegoro, Drs H. Suyoto, M.Si., (Kang Yoto) saat menghadiri wisuda dan Dies Natalis ke VII, foto bersama group paduan suara dan civitas akademika STIKES Insan Cendekia Bojonegoro.

Bengawanpost.com, Bojonegoro – Bertempat di gedung serba guna, Sabtu (24/09/2016) pagi tadi, keluarga besar STIKES Insan Cendekia  Bojonegoro melaksanakan wisuda S1 Ilmu Keperawatan, D III kebidanan serta Pelantikan Ners tahun akademik 2015/2016. Dalam rapat senat terbuka wisuda dan dies natalis ke VII ini diikuti oleh 9 prodi kebidanan, 37 S1 keperawatan dan 50 untuk profesi Ners.

Bupati Bojonegoro, Drs H. Suyoto, M.Si., (Kang Yoto) dalam orasinya menyatakan, bahwa semangat sebagian besar orang saat ini bagaimana  merebut warisan. Mereka yang berpikir mengambil kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) baik hutan dan laut, maka bila mereka mendapatkan kesempatan mengambil warisan kekayaan alam ini, akan mendirikan perusahaan untuk mengeksplorasi kekayaan. Mereka adalah golongan orang yang merebut warisan.

“Kultur golongan orang yang merebut warisan ini sudah membudaya dalam kehidupan kita. Contohnya kita sering menimang anak-anak, dengan harapan kelak agar menikah dengan orang kaya, apalagi anak tunggal supaya warisannya banyak. Sedangkan semanga dan cara hidup yang mengandalkan warisan justru membuat kita makin terpuruk,” ujarnya.

Namun Kang Yoto memberikan perbadingan, dengan mencontohkan kondisi rel kereta api, irigasi dan hutan saat ini jauh lebih rusak dibandingkan jaman belanda. Belanda memang menjajah, namun memiliki semangat untuk menjaga dan melestarikan SDA. Berbeda sejak kemerdekaan, Indonesia alami eksplorasi besar besaran terhadap kekayaan SDA. Ini adalah buah alam pikir merebut dan mengambil warisan.

Selanjutnya Kang Yoto menanggapi issu HAM, seakan-akan semuanya benar. Padahal keadilan yang dimaksud distribusif bukan partisipatif. Sedang hakekat Keadilan adalah dimana semua orang punya hak dan kewajibannya. Membangun HAM adalah tidak hanya hari ini namun masa lalu, kita harus melihat masa lalu jangan menyalahkan masa lalu.

“Retorika hidup tidak hanya untuk menyalahkan, dan sekarang yang diperlukan adalah bagaimana membangun keadilan distributif. Dalam hal ini pemerintah bersama akademisi, bisnisment, dan komunitas mewujudkan semangat kemanusian, kehormatan dan persamaan. Kumandangkan HAM adalah bukan mana bagian saya namun sebaliknya adalah orang orang yang mampu menciptakan warisan untuk generasi yang akan datang,” tandasnya.

Selain itu, Beberapa waktu lalu Kang Yoto menceritakan bertemu beberapa orang yang mendapatkan penghasilan dari ekonomi kreatif. Kami berpesan kepada seluruh mahasiswa untuk menjadi orang yang mampu menciptakan warisan berupa modal ekonomi, modal social, modal budaya dan modal politik. Karena Bojonegoro saat ini, tidak bisa mengandalkan pertanian apalagi migas. Terbukti migas mengalami naik turun, dan tidak bisa diprediksikan.

‘Oleh karenanya, Pemkab yang pertama, mengembangkan sektor industri pedesaan, dan pemerintah memberikan insentif, industri manufaktur dan industri kreatif. Kedua, adalah mengembangkan sektor pendidikan yang akan menjadi salah satu sector berdaya saing. Ketiga, sektor wisata yang akan dikembangkan di beberapa wilayah di Bojonegoro seperti teksas wonocolo, atas angin sekar dan agrowisata belimbing desa ngringinrejo,” ungkapnya.

Perlu diketahui, bahwa sektor wisata ternyata jika dikembangkan memiliki sektor yang menjanjikan. Yakni ekonomi kreatif dan wisata jika berkembang maka akan berdampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi rakyat Bojonegoro. Sementara itu seusai menyampaikan orasinya, Kang Yoto berkenan berfoto bersama dengan group paduan suara dan civitas akademika STIKES Insan Cendekia Bojonegoro. *[Bp]

LEAVE A REPLY