PERNI Jatim Ajak Nelayan Lamongan Stop Buang Sampah Sembarangan

150
Foto : Ketua PERNI Wilayah Jawa Timur, Mas Anas Thoha saat kunjungi nelayan tradisional di Desa Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jum'at (26/07/2019).

Bengawanpost.com, Lamongan – Pada Jum’at (26/07/2019), Ketua Persatuan Nelayan Indonesia (PERNI) Wilayah Jawa Timur, Mas Anas Toha mengunjungi masyarakat nelayan tradisional di Desa / Kecamatan Paciran dan Desa Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan.

Dalam kunjungan tersebut, Mas Anas Toha berdialog dengan para nelayan tentang problem nelayan tradisional khususnya nelayan penangkap rajungan dan banyak hal yang disampaikan oleh para nelayan, diantaranya masalah banyaknya pencemaran sampah plastik di kali juga lautan tempat mata pencahariannya, serta permohonan bantuan alat tangkap “BUBU”.

“Saat ini pantai tempat sandar perahu atau BABAKAN Nelayan kondisinya sangat kumuh akibat banyaknya sampah, utamanya sampah plastik yang dibuang sembarangan oleh masyarakat dikali dan lautan,” ujar Ahyat perwakilan nelayan tradisional setempat.

Ahyat menambahkan, selain problem sampah, dirinya juga mengusulkan untuk para nelayan tradisional di Kabupaten Lamongan mendapat bantuan alat tangkap “BUBU” yang agak banyak, sehingga bisa dibagi rata dengan semua nelayan rajungan yang jumlahnya 1300-an nelayan.

Foto : Suasana dialog Ketua PERNI Wilayah Jawa Timur, Mas Anas Thoha dengan para nelayan tradisional di Desa / Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jum’at (26/07/2019).

Menanggapi masukan tersebut, Ketua PERNI Wilayah Jawa Timur, Mas Anas Thoha  meminta seluruh masyarakat, khususnya masyarakat nelayan untuk mempunyai kesadaran juga keperduliannya terhadap kebersihan lingkungan dan menjaga laut kita menjadi bersih nan sehat, karena laut adalah masa depan kita semua sebagai warga bangsa dan NKRI.

Menurutnya, hasil penelitian Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat menyatakan bahwa Indonesia menjadi negara kedua penghasil sampah plastik terbanyak di dunia, setelah Tiongkok. Dimana hasil penelitian tersebut menemukan fakta bahwa sekitar 4,8 hingga 12,7 juta metrik ton sampah plastik telah memasuki lautan pada tahun 2010. Ini setara dengan kurang lebih antara 4.762.000.000 – 12.700.000.000 kg.

“Kita semua prihatin akan rendahnya kesadaran masyarakat dan negara Indonesia dalam menggunakan serta mengelola sampah plastik. Buktinya total sampah plastik di lautan dari negara Indonesia mencapai 1,29 juta metrik ton per tahun. Sedangkan China sebanyak 3,53 juta metrik ton per tahun. Mengungguli Filipina dan Vietnam yang masing-masing menyumbang 0,75 dan 0,73 juta metrik ton sampah plastik per tahun,” ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskan, sampah plastik berdampak negatif bagi ekosistem di laut. Dimana salah satu permasalahan sampah yang kerap kali ditemukan di laut adalah terganggunya kehidupan biota laut beserta sumber daya laut lainnya, karena sampah plastik membawa partikel mikro dan nano plastik yang diketahui akan sangat berbahaya karena bisa termakan tanpa sengaja oleh ikan.

“Kalau (mikro dan nano) plastik itu masuk ke dalam struktur daging ikan, maka itu akan sangat berbahaya jika kita mengonsumsinya. Ini yang harusnya diketahui banyak orang banyak dan masalah tersebut harus ada penanganan yang komprehensif,” tandas Mas Anas Toha.

Selanjutnya terkait masalah alat tangkap rajungan “BUBU”, Mas Anas Toha menyampaikan, bahwa PERNI Jatim akan mencoba mengusulkan kepada Pemerintah Propinsi Jawa Timur.

“Terkait usulan BUBU, saya kira untuk kepentingan nelayan pasti ada jalan keluarnya,” kata Mas Anas Thoha bersemangat.

Sementara itu, usai dialog dengan para nelayan setempat, Mas Anas Toha melanjutkan agenda kunjungannya dengan berkeliling untuk melihat langsung kondisi BABAKAN nelayan yang rata – rata kumuh dan banyak yang rusak serta perlu mendapat sentuhan perawatan. *[Bp]

data bojonegoro

LEAVE A REPLY