Perhutani Mojokerto Tanam Kedelai Bersama LMDH

433
Foto : Saat 1.000 petani LMDH bersama Perhutani KPH Mojokerto dan Dinas Pertanian serta lainnya melakukkan tanam bersama PAT Kedelai APBNP tahun 2016, di Desa Cerme, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Bengawanpost.com, Lamongan – Ditengah kawasan hutan wilayah Perhutani KPH Mojokerto, BKPH Dradah, RPH Sedah, tepatnya pada petak 40H dilaksanakan gerakan mananam serentak dalam rangka Perluasan Areal Tanam (PAT) Kedelai APBNP tahun 2016. Wilayah hutan tersebut masuk dalam wilayah administrasi Desa Cerme, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Rabu (02/11/2016).

Kegiatan yang dilaksanakan oleh 1.000 petani penggarap persil (pesanggem) yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) LMDH dari wilayah Perhutani KPH Mojokerto ini, dihadiri oleh petugas Kementerian Pertanian RI, Muspika Kecamatan Ngimbang dan pelajar pramuka wilayah setempat serta jajaran petugas Perhutani KPH Mojokerto.

Camat Ngimbang, Anang Taufik mengharapkan, “Semoga kegiatan ini bermanfaat membantu mensejahterakan petani di sekitar hutan. Untuk itu, LMDH yang memiliki Pokja dapat memiliki mindset disamping menanam komoditas seperti kedelai ini, juga melestarikan hutan. Sehingga selain mengupayakan kesejahteraan diri dan anggotanya, juga menjadikan hutan disekitarnya menjadi lestari,” harapnya.

Di tempat terpisah, Ketua LMDH Wana Jaya Desa / Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, Mashudan mengharapkan kualitas benih kedelai yang diberikan ke petani oleh pemerintah kualitasnya baik, agar tumbuhnya tanaman kedelai bisa bagus. Sedang benih kedelai yang baik kualitasnya adalah benih yang Tua dan baru.

Menanggapi harapan petani tersebut, Kepala Bidang Produksi Tanaman, Dinas Pertanian, Jatim, Nur Falakhi menyampaikan bahwa bantuan benih yang diberikannya adalah benih dengan kualitas yang baik, karena pemerintah memberikan benih Kedelai kepada petani secara gratis ini, dengan sistem pengadaan membeli ke penyedia bibit.

“Kami anjurkan untuk cek kecambah benih yang akan ditanam, dengan cara mengambil 100 biji benih yang akan ditanam, jika 80 dari 100 biji itu hidup, maka bisa ditanam. Akan tetapi jika yang hidup kurang dari 80 persen, maka benih tersebut tidak layak tanam, dan benihnya bisa dikembalikan pada penyedia benih,” tandasnya pada media. *[Mu/Red]

LEAVE A REPLY