Perhutani KPH Mojokerto Adakan Bimtek PAT Kedelai

580
Foto : Perum Perhutani KPH Mojokerto saat menggelar Bimtek PAT tanaman kedelai kepada LMDH 3 Kabupaten

Bengawanpost.com, Mojokerto – Dalam rangka mendukung kesuksesan Program Perluasan Areal Tanam (PAT) tanaman kedelai, Perum Perhutani KPH Mojokerto menggelar Bimtek tanaman kedelai kepada 60 petani Pokja LMDH dari 3 Kabupaten, yakni Kabupaten Lamongan, Jombang dan Mojokerto, Selasa pagi (11/10/2016).

Bimtek yang salah satu bahasannya tentang bantuan benih kedelai ini menghadirkan narasumber dari Balitbang Kedelai dan Umbi-Umbian Malang, Hadi Harnowo. Tampak hadir juga perwakilan Kementan RI, Kasi PHBM Perhutani Divre Jatim, Bayu Nugroho, Administrator KPH Mojokerto, Agus Sarwedi dan BRI Mojokerto, Imam, dan lainnya.

Kasi PHBM Perhutani Divre Jatim, Bayu Nugroho dalam sambutannya mengatakan bahwa, pemerintah saat ini focus mensukseskan program ketahanan dan kedaulatan pangan dengan swasembada hasil agrokomplek. Adapun swasembada untuk hasil pertanian, diantaranya mulai dari tanaman padi, jagung kedelai dan tebu untuk gula.

“Program PAT ini dalam rangka menyuksesnya program ketahanan dan kedaulatan pangan NKRI, yang salah satunya dengan memberi bantuan benih kedelai kepada petani. Untuk itu, Perhutani mendukungnya dengan memberi ruang / lahannya untuk dikelola bersama LMDH mitra perhutani, yang sudah diakui pemerintah,” katanya.

Selanjutnya Administrator KPH Mojokerto, Agus Sarwedi selaku pelaksana Program PAT membeberkan, “Kami mengapresiasi atas kerjasama dengan berbagai fihak yang sudah dibangun selama ini. Semoga dengan program ini, baik tanaman kedelai maupun jagung dapat membawa kebaikan dan kemakmuran kita bersama,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Kementan RI dalam acara tersebut memaparkan, bahwa lahan program PAT di wilayah hutan KPH Mojokerto ini, seluas 1.500 hektar untuk 50 Pokja LMDH per hektar, dengan anggaran sebesar Rp. 1.550.000,- dari sumber APBN.

“Uangnya untuk benih kedelai bersertifikat, rizopium, 1 hektar 5 sachet. Hal ini dilakukan karena NKRI masih membutuhkan hasil kedelai yang banyak untuk swasembada hasil pertanian agar tidak melakukan impor lagi,” paparnya.

Hal senada diungkapkan Balitbang Kedelai dan Umbi-Umbian Malang,  Hadi Harnowo, menurutnya bantuan benih kedelai dari sumber APBN tidak mensyaratkan badan hukum pada Pokja LMDH penerima. Sehingga dalam pembuatan Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL) sangat beda antara di hutan dengan lahan kepemilikan pribadi.

“Dengan Bimtek ini, kami berharap semua fihak memahami segenap aturan yang ada. Lalu segenap asper dan pimpinan petani berkerjasama menyosialisasikannya kepada fihak terkait, agar semuanya dapat ikut mendukung program ketahanan dan kedaulatan pangan tersebut,” ungkapnya.

Selain itu, petugas BRI kabupaten Mojokerto, Imam menyampaikan, “Kami mendukung percepatan program PAT tanaman kedelai, dengan langsung jemput bola melayani masyarakat desa hutan yang akan membuka rekening di BRI,” tandasnya.

Dilain fihak, para peserta yang terdiri petani sangat antusias mendengarkan arahan dari pemateri. Salah seorang petani asal desa Kupang Mojokerto, Toha menyatakan, “Kami sangat tertarik untuk mencoba teknik tanam kedelai ini, di lahan persil yang kami sudah garap. Harapannya semoga dapat berhasil di panen mendatang,” pungkasnya. *[Mu/Id]

LEAVE A REPLY