Pentingnya Budaya Literasi Bagi Mahasiswa

1221
Foto : Arik Abd Muhyi (Arik)

Oleh: Arik Abd Muhyi (Arik)

Berbicara pendidikan mari berbicara tentang literasi, literasi yaitu keberaksaraan bisa membaca, menulis dan berbicara (publik speaking). Sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kesadaran literasi mulai dari sekolah dasar sampai jenjang s1 diperguruan tinggi.

Kampus sebagai jenjang tertingga dalam dunia pendidikan sudah memberikan ruang bagi para mahasiswa untuk bisa menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang merupaka salah satu tujuan pencapain yang harus dilakukan oleh perguruan tinggi tersebut. Karena setiap perguruan tinggi haruslah melahirkan orang – orang yang memiliki semangat juang yang tinggi yang selimuti pemikiran – pemikiran yang kritis, kreatif, mandiri, inovatif

mahasiswa dengan sederet title dan peran-nya, dianggap sebagai figur penting yang bisa memberikan kontribusi nya-ta terhadap kehidupan sosi-al. Kekuatannya sebagai seorang elite intelektual, dituntut memberikan pemikiran-pemikiran yang cemerlang yang bisa di ekseskusi secara real dalam kehidupan nyata. Ide-ide yang cemerlang sering menjadi cirri khas, sehingga tak salah apabila bangsa ini menyimpan harapan besar dipundak para mahasiswa sebagai generasi penerus yang bisa meneruskan estafet kepemimpinan bangsa.

Di era media sekarang ini budaya literasi membaca, menulis dan berbicara adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan mahasiswa hal ini merupakan ciri khas mahasiswa sebagai elit intelektual. Berbagai ruang untuk membaca dan menulis sudah dijawab oleh zaman dengan sederet mediasosial yang ada. Facebook, twitter, instagram serta media online yang memberikan ruang bebas untuk kita budayakan budaya literasi.

Betapa banyak mahasiswa melupakan tradisi intelektual seperti membaca, menulis, diskusi dan riset. Aktivitas mahasiswa banyak dipusatkan kegiatan hedonisme dan nongkrong tanpa kejelasan. Saya sempat berfikir, jika mahasiswa malas membaca mau jadi apa bangsa Indonesia di masa depan? Sebab berdasarkan survei Unesco, minat baca masyarakat Indonesia terendah di ASEAN. Dari 39 negara di dunia, Indonesia menempati posisi ke-38. Tidak kalah memprihatinkan, data UNDP menunjukkan posisi minat baca Indonesia berada di peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname.

Sementara untuk kawasan Asia Tenggara, hanya ada dua negara dengan peringkat di bawah Indonesia, yakni Kamboja dan Laos yang masing-masing berada di urutan angka seratus. Merespons kebuntuan itu, agaknya mahasiswa membutuhkan penyadaran yang serius.

Sadar literasi akan menjadi soal bagi civitas akademika kampus. Terkhusus bagi mahasiswa baru untuk menanamkan pola atau ciri mahasiswa sesungguhnya. Masa peralihan dari siswa menjadi mahasiswa adalah proses yang tersulit dalam hidup. Karena pola pikir dan gaya hidup serta metode pembelajaran sangat berbeda antara masa SMA dengan perguruan tinggi.

Disaat peralihan inilah jati diri sendiri ditemukan. Sesorang akan terlihat sifat aslinya dimasa-masa perguruan tinggi. Mungkin akan berbeda dengan sifat yang sebelumnya. Itupun juga tergantung pada pergaulan dan sudut pandang seseorang. Dengan persoalan ini mahasiswa baru akan menemukan wajah kemahasiswaan kita sesungguhnya ketika hidup di dunia perkuliahan.

Diakhir tulisan ini saya mengajak kepada teman-teman mahasiswa untuk sadar, betapa pentingnya melek budaya literasi. Mahasiswa banyak membaca cenderung mudah menyampaikan gagasan, berpengetahuan luas dan merangsang penalaran kritis. Dengan menulis mahasiswa banyak menyampaikan wacana dan berbicara menumbuhkan sikap kritis tanpa harus anarkis.

“Membacalah agar engkau tidak lupa

Menulislah agar engkau tidak dilupakan”

Penulis adalah Aktivis Mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

LEAVE A REPLY