Pembelajaran Kelas Dunia, Cerita Sukses dari Finlandia

612
Foto : Saat pelaksanaan seminar pendidikan bertema “Pembelajaran Kelas Dunia, Cerita Sukses dari Finlandia”, Jum’at (20/01/2017).

Bengawanpost.com, Bojonegoro – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bojonegoro menggelar seminar pendidikan bertema “Pembelajaran Kelas Dunia, Cerita Sukses dari Finlandia”, di Ruang Angling Dharma Pemkab Bojonegoro, Jum’at (20/01/2017).

Seminar yang diikuti seluruh Kepala Sekolah dan Pengawas Pendidikan, baik dari Disdik maupun Kemenag Bojonegoro dan stakeholder terkait ini, guna meningkatkan kompetensi tenaga pendidik di Bojonegoro dalam menghadapi tantangan era abad 21.

“Kegiatan seminar pendidikan ini sangat penting untuk masa depan pendidikan, karena dengan kemajuan pendidikan, maka dapat mendukung pembangunan di Bojonegoro ini,” ujar Kepala Disdik Kabupaten Bojonegoro, Hanafi, MM., selaku penyelenggara.

Dalam seminar ini menghadirkan beberapa narasumber kelas dunia, antara lain Mr. Allan Scahneitz, Mr. Jussi Hurmula dan Mr. Tarmo Teikkanen, serta Bupati Bojonegoro, Kang Yoto sebagai keynote spekaernya.

Mr. Allan selaku narasumber menyampaikan, bahwa sistem pendidikan di Finlandia mengedepankan 4 C. yakni komunikasi (Communication), kolaborasi (Collaboration), berpikir kristis (Critical Thinking), dan terakhir adalah kreatifitas (Creativity).

“Fokus sistem pendidikan di Finlandia ada 4 C. Yakni Communication, Collaboration, Critical Thinking, dan Creativity,” kata Mr. Allan yang berprofesi sebagai guru yang telah berkeliling ke belahan dunia untuk menemukan formula sistem pendidikan yang baik.

Hal senada dipaparkan Mr. Jussi. Menurutnya Finladia dibangun karena pendidikan, dituturkan dahulu masyarakat tidak demikian percaya dengan pendidikan. Saat itu kerja terberat adalah bagaimana menyadarkan masyarakat tentang pendidikan.

“Dari pengalaman membangun pendidikan disekitar tempat saya, maka hasilnya pemerintah Finlandia menunjuk saya untuk mengubah sistem pendidikan menjadi komunitas pembelajaran yang melibatkan seluruh komponen sekolah,” paparnya.

Jussi menjelaskan, komunitas pembelajaran ini mulai guru, siswa dan orang tua untuk mensukseskan sistem pembelajaran tanpa memandang batas waktu dan tempat. Membangun life journey, memberikan kesempatan kepada siapapun untuk belajar.

“Sistem pembelajaran komunitas ini dibangun dengan memberikan contoh langsung, tak hanya teori namun bagaimana mereka belajar melakukan secara langsung. Yang mana ilmu bisa ditransformasikan oleh semua anggota komunitas,” jelas Jussi.

Jussi mencontohkan seperti saat dirinya bersama istri membuat rak sepatu, kemudian oleh komunitasnya ilmu itu dibagi. Jadi dengan sistem  pembelajaran komunitas ini tak masalah manakala seorang profesorpun harus belajar pada seorang pengrajin sepatu.

Jussi juga menyampaikan bahwa sekolah di eropa juga bermasalah dengan pendidikan budaya mereka, karenanya mereka menggabungkan pendidikan budaya untk dipelajari bersama. Yang mana kompilasi tersebut dilakukan antara kearifan lokal dan sistem pendidikan yang baru dengan melibatkan teknologi digital.

“Sistem pendidikan tak hanya di jenjang formal namun bagaimana mengaktulisasikan kearifan lokal dalam membangun sistem pendidikan dengan dipadukan dengan kecanggihan teknologi. Oleh karenanya kita harus memanfaatkan era digitalisasi ini sebagai bagian dari transfornmasi pendidikan,” imbuh Jussi.

Selanjutnya narasumber lainnya, ahli psikoligi pendidikan Finlandia, Tarmo Toikennen menyampaikan Finlandia dari tahun 1970 sudah membangun perencanaan bagaimana membangun sistem pendidikan yang baik untuk diterapkan di Finlandia.

“Hasil membangun sistem pendidikan, pada tahun 2001 Finlandia menjadi sistem pendidikan terbaik didunia, dan berlanjut ditahun 2014 Finlandia kembali mendapatkan prestasi yang sama yakni penyelenggara pendidikan terbaik didunia,” ungkapnya.

Namun menurut Tarmo yang selama ini telah melakukan penelitian dan kajian bagaimana mengukur prestasi sekolah di dunia. Memandang optimis, bahwa Indonesia bisa menciptakan system pendidikan yang bagus, yakni dengan menerapkan sistem pendidikan yang kolaboratif dengan semua komponen.

Sementara itu, Bupati Bojonegoro, Kang Yoto mengapresiasi Mizan selaku fasilitator acara ini. Juga kepada para pembicara yang jauh-jauh datang dari Finlandia, bahkan yang membanggakan adalah Mr. Allan yang mengenakan batik Bojonegoro.

“Selamat datang kepada para praktisi pendidikan. Khusus kepada Mr. Allan, meski dia masih muda namun pengalaman pendidikan jauh lebih banyak, karena itu saya menyayangkan seharusnya bertemu Allan beberapa tahun lalu,” ucap Kang Yoto.

Selain itu, Kang Yoto menyampaikan, mengapa kita hadir disini, karena pendidikan ini adalah tanggungjawab membangun sebuah jembatan menuju arah masa depan yang baik untuk generasi muda Bojonegoro dalam menghadapi tantangan zamannya.

Untuk itu, kita harus mereformasi sistem pendidikan kita, tambah Kang Yoto. Karena kita percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk menciptakan kesuksesan bagi generasi mendatang. Namun yang penting bagaimana sistem pendidikan itu dibangun.

“Belajar dari sistem pendidikan di Finlandia, kita akan belajar bersama dari keberhasilannya membangun generasi barunya. Selanjutnya kita akan berusaha menerapkannya dalam system pendidikan kita agar menjadi lebih baik,” tuturnya.

Bahkan Kang Yoto menyampaikan, OGP di Bojonegoro ini, bisa diadopsi kedalam system pendidikan. Yang mana orang tua harus berperan aktif dalam mensuskeskan pendidikan anak, dan tak hanya menyerahkan pada sekolah semata. Karena point pentingnya system pendidikan di Finlandi adalah peran aktif keterlibatan semua fihak. *[Bp]

LEAVE A REPLY