Peduli Pedidikan Anak Disabilitas, Bupati Kang Yoto Serahkan Beasiswa

233
Foto : Bupati Bojonegoro, Kang Yoto saat memberikan beasiswa Pertamina peduli pendidikan 25 ABK, di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (01/08/2017).

Bengawanpost.com, Bojonegoro – PT. Pertamina (Persero) melalui Pertamina Foundation memberikan beasiswa kepada 25 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) atau Anak Penyandang Disabilitas (APD) yang terdiri dari 22 SD dan 3 anak SMP di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur dengan berbagai keragaman potensi dan kebutuhannya.

Bertempat di Aston City Bojonegoro, Selasa (01/08/2017). Pemberian beasiswa yang dirancang untuk bantuan pendidikan bagi para putera-puteri sekolah dasar ABK yang kurang mampu dan terpilih ini, bertujuan sebagai bentuk upaya perhatian atau concern Pertamina Foundation untuk mencerdaskan anak bangsa dan menumbuhkan sikap ABK lebih mandiri.

“Beasiswa ini dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Pertamina (Persero). Dan penyaluran ke pendidikan ini sesuai amanat UU, bahwa setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak tanpa memandang apakah anak tersebut penyandang disabilitas atau tidak,” ujar Dewan Pengurus Pertamina Foundation, Wahid Achsanul Budaery dalam sambutannya.

Selain pemberian beasiswa yang dipimpin langsung Bupati Bojonegoro, Kang Yoto. Dalam kesempatan ini, Pertamina Foundation yang dibentuk tahun 2015, dan mulai memberikan bantuan kepada ABK pada tahun 2016 ini juga memberikan diklat peningkatan kapasitas SDM para guru ABK, yang berlangsung dari tanggal 01 – 03 Agustus 2017.

“Sebagai wujud kepedulian kemajuan pendidikan di Indonesia. Kami juga mendatangkan psikolog, dan praktisi maupun orang tua ABK. Hal ini untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap dari para guru dalam hal mengajar ABK, sehingga ABK dapat belajar lebih mandiri. Sedangkan kehadiran orang tua untuk memberikan testimoni tentang keluarga yang hidup bahagia dengan anugerah ABK.,” ungkap Wahid.

Masih dalam kesempatan ini, salah satu anak penyandang disabilitas Dewi Ragilia Utami, yang memperoleh bantuan dari Pertamina menyampaikan, bahwa dia ingin segera dioperasi karena penyakit yang diderita dapat sembuh dengan operasi.

Dengan semangat, Dewi ingin sekali Bupatinya bisa membantu agar dirinya segera bisa dioperasi. Tidak hanya itu saja, Dewi, juga ingin dalam pendidikan dia beserta teman-teman disabilitas lainnya dapat bersekolah di sekolah yang diinginkan.

Dalam kesempatan ini juga, Dewi juga menyampaikan tentang kekhawatirannya dengan teman-teman lainnya nanti kedepan tidak bisa masuk ke sekolah negeri karena batasan umur. Karena saat ini dewi sudah berusia 16 tahun.

“Kita itu tidak masuk sekolah bukan karena nakal atau malas, tapi karena kita sakit yang menyebabkan kita tidak bisa masuk sekolah,” keluh Dewi.

Bahkan mewakili teman-temannya, Dewi mengaku sangat ingin sekolah, dirinya sangat ingin menimba ilmu yang lebih tinggi. Agar kita tidak dipandang sebelah mata lagi oleh masyarakat. Karena sebenarnya penyandang disabilitas mampu untuk sukses, untuk bersaing dengan yang lainnya asal bisa diberi kesempatan yang sama dengan yang lainnya.

“Mungkin secara fisik dan mental kita sedikit berbeda dengan yang lainnya, namun dari segi semangat dan kemampuan kita bisa bersaing, bahkan bisa melebihi yang bukan penyandang disabilitas,” pinta Dewi seraya berharap.

Sementara itu, Bupati Bojonegoro, Kang Yoto dalam sambutannya menegaskan akan segara membuat Peraturan Bupati (Perbub) terkait tidak ada batasan usia bagi ABK untuk sekolah, dan Perbub akan segera dirumuskan melalui Dinas Pendidikan setempat.

“Tidak ada batasan usia bagi ABK untuk sekolah. Karena sebenarnya setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak, dan sesuai harapannya,” tandas Kang Yoto.

Kang Yoto menambahkan, bahwa sebenarnya pelan-pelan sesama manusia akan mengalami disabilitas, yakni pendengaran mulai menurun, penglihatan kabur. Sehingga jangan pernah memandang anak disabilitas sebelah mata, karena mungkin suatu saat dia bisa lebih hebat dari kita.

“Kita jangan pernah memandang anak disabilitas sebelah mata, karena mungkin suatu saat dia bisa lebih hebat dari kita. Mungkin nanti para penyandang disabilitas ini, bisa menemukan penyakit kanker, bisa menjadi musisi yang hebat,” tambah Kang Yoto.

Kang Yoto mencontohkan, seperti halnya Stephen William Hawking seorang fisikawan yang menemukan teori lubang hitam (black hole) yang menderita motor neuron dimana penderita mulai kehilangan penggunaan  lengan, kaki, dan suaranya.

Tidak hanya itu, ada juga Ludwig Van Beethoven seorang musisi dan composer besar dalam sejarah musik, tidak banyak yang tau kalau Beethoven menderita kehilangan pendengaran.

Meskipun dia mengidap penyakit tuli, masih kata Kang Yoto, dia bisa menghasilkan karya-karya terbaik dalam sejarah musik.

“Anak-anak kita harus mulai kita didik dimana anak kita nanti tinggal, dengan siapa dia tinggal, dan bagaimana cara dia agar bisa bertahan hidup,” tutur Kang Yoto.

Lebih lanjut dalam pidatonya, Kang Yoto memberikan 9 hal keterampilan hidup, yakni :

  1. Keterampilan hidup, diantaranya yang pertama terampil niat hidup.
  2. Keterampilan berkarya yang layak laku dijual sebagai amal soleh.
  3. Keterampilan berkomunikasi.
  4. Keterampilan berpikir kritis reflektif.
  5. Keterampilan berkolaborasi / bisa bekerjasama.
  6. Keterampilan berkreasi dan berinovasi.
  7. Keterampilan dalam berkemampuan meraih hidup bahagia.
  8. Keterampilan hidup sehat.
  9. Keterampilan hidup dalam kebencanaan.

“Boleh saja kita mengajarkan anak-anak kita untuk memiliki cita-cita yang tinggi, namun kita juga harus bisa memberikan atau mengajarkan hal baru lainnya kepada anak kita. Karena anak-anak kita, harus bisa mengahadapi segala kemungkinan kedepannya nanti,”  pungkas Kang Yoto seraya berpesan. *[Bp]

 

LEAVE A REPLY