Paha Sylpi Bangkitkan Gairah Peternakan Masyarakat Pinggir Hutan

699
Foto : Kepala Disnakan Kabupaten Bojonegoro, Ardiyono Purwanto SH, Msi. (Tengah), saat pemaparan dihadapan para panelis Kompetisi SINOVIK Kementerian PANRB RI tahun 2017, Kamis (04/05/2017).

Bengawanpost.com, Jakarta – Dihadapan para panelis Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (SINOVIK) tahun 2017, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Bojonegoro memaparkan Inovasinya, di Kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia (PANRB RI), Kamis (04/05/2017).

Hal tersebut dilakukan Disnakan Kabupaten Bojonegoro bersama dengan Daerah lainnya yang berhasil maju ke top 40 setelah melalui seleksi yang begitu ketat, dari sebanyak 3054 inovasi yang ikut SINOVIK tahun 2017. Adapun inovasi yang lolos dari Bojonegoro ini adalah mengembangkan sistem silvopastura yang dinamakan dengan PAHA SYLPI.

“Untuk membangkitkan semangat dan gairah para peternak dalam meningkatkan populasi sapi khususnya yang berada dalam kawasan hutan. Maka kami mengembangkan sistem SILVOPASTURA yang dinamakan PAHA SYLPI,” ujar Kepala Disnakan Kabupaten Bojonegoro, Ardiyono Purwanto SH, Msi., saat pemaparan dihadapan para panelis SINOVIK tahun 2017.

Ardiyono menjelaskan, Silvopastura adalah sebuah sistem atau cara menggabungkan kegiatan kehutanan, pertanian dan peternakan, dimana dibawah tegakan hutan dapat ditanami hijauan pakan ternak tanpa merusak tanamam utama. Harapannya dengan Inovasi ini dapat mewujudkan Bojonegoro sebagai daerah lumbung pangan dan energi.

Lebih lanjut Ardiyono memaparkan, Paha Sylpi ini mulai diterapkan di Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2015. Lokasinya ada di kawasan hutan Desa Setren, Kecamatan Ngasem, dan kini juga telah direplikasikan ke wilayah hutan lainnya di Desa Sekaran, Kecamatan Kasiman.

“Program Paha Sylpi ini dapat terlaksana dengan baik setelah adanya perjanjian kerjasama dengan lintas sektoral dari Pemkab Bojonegoro, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, Perhutani dan LMDH untuk pemanfaatan hutan di Bojonegoro,” paparnya.

Ardiyono menambahkan, tujuan kerjasama adalah merubah perilaku masyarakat agar lebih memperlakukan hutan dengan baik guna meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar hutan itu. Dan Inovasi ini lahir dari tekad bersama antara pemerintah dengan masyarakat untuk merubah ancaman menjadi peluang, dan mengurangi kemiskinan di Bojonegoro.

“Cara inovasi ini dengan memanfaatkan lahan hutan kritis untuk ditanami jati sebagai peremajaan hutan, lalu diselingi penanaman tanaman pangan (kacang tanah, padi, kacang hijau, kedelai, cabai) dan rumput gajah untuk pakan ternak, khususnya sapi,” tambahnya.

Menurutnya, pemberian makan rumput gajah unggul pada sapi dapat merangsang birahi dan meningkatkan produktifitas dan juga dapat meningkatkan bobot badan hewan tersebut, sehingga hasilnya dapat meningkatkan populasi ternak ditengah keterbatasan lahan, masyarakat juga diajak untuk menjaga kelestarian hutan, mendapatkan nilai tambah dari penamaman tanaman pangan lainnya.

Masih dalam kesempatan ini, Kabag Organisasi dan Tata Laksana Kabupaten Bojonegoro selaku fasilitator pelaksanaan SINOVIK ini menyampaikan, kedepan diharapkan Organisasi Perangkat Derah (OPD) Pemkab Bojonegoro agar dapat terus menciptakan inovasi dan terobosan yang dapat dilakukan secara berkelanjutan,

“Guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat untuk menjadikan Wong Jonegoro yang sehat cerdas, produktif dan bahagia. Maka paling tidak, satu OPD minimal satu inovasi” imbuhnya.

Sementara itu, Asisten Deputi Perumusan Kebijakan dan Pengelolaan Sistem Informasi Pelayanan Publik – Kementerian PANRB RI, Muhammad Imanudin beberapa waktu yang lalu pada saat memberikan arahan dalam sosialisasi kompetisi ini mengatakan, kompetisi ini bertujuan untuk menjaring, menetapkan, dan menggunakan inovasi yang terpilih sebagai bahan transfer teknologi dan replikasi pelayanan publik untuk menunjang pembangunan bangsa dan Negara. *[Bp]

LEAVE A REPLY