Online, Online..!! UNBK Antara Menjerit dan Kemajuan

381
Ilustrasi

Oleh : Gus Glory Muchtar

Bagi sampean yang punya anak duduk di bangku kelas 3 SMP atau SMU, hari hari ini merupakan waktu tersibuk mereka. Sibuk, serius dan cenderung tidak mau diganggu. Kebetulan dua anak saya duduk di kelas 3 SMU/Aliyah, seorang lagi di kelas 3 SMP/Tsanawiyah. Sejak awal Maret sudah penuh jadwalnya oleh rentetan berbagai jenis tes. Try out UNBK, Simulasi UNBK, USBN BK, dan untuk Aliyah ada UAMBN BK.

Terus emboh apa lagi. Saking banyaknya jenis tes, nyerah saya kalau disuruh menyebutkan berbagai nama tes dengan singkatan yang rumit itu. Kita tinggalkan dulu sisi betapa stressnya anak dengan tumpukan jenis ujian hanya untuk lulus SMU itu. Kali ini saya ingin menyoroti tentang sistem online-nya.

Konon berhimpit – himpitnya jenis – jenis ujian dan tes itu dalam rangka komputerisasi sistem pendidikan. Ujianpun dilaksanakan dengan sistem online. Tujuan yang bagus. Sebuah upaya yang juga perlu diapresiasi. Tanpa mengurangi husnudhon pada niat para pengambil kebijakan pendidikan, ijinkan saya curhat beberapa hal terkait program komputerisasi sistem pendidikan kita.

Beberapa tujuan komputerisasi yakni mengurangi kecurangan siswa. Memberantas perjokian. Sentralisasi data. Memudahkan upload and download data yang dibutuhkan. Tapi apa iya demikian?

Sistem online yang sedang diterapkan di dunia pendidikan, secara konsep memang tampak progresif. Namun harus diakui masih menyisakan banyak PR. Sistem Dapodik di TK. Sistem data Emis dan Simpatika di MI/SD. Harus diakui ini terobosan yang niscaya. Sesuatu yang memang harus dilakukan mengingat dunia kencang berlari ke arah digitalisasi data dan komputerisasi informasi.

Sayangnya banyak praktisi pendidikan baik institusi maupun personil yang belum siap dengan hal ini. SDM, sosio-geografis, pembiayaan, serta sarana prasarana pendukung seperti jaringan internet yang masih low quality. Dampaknya, program ini belum benar – benar dirasakan sebagai kebutuhan oleh para penyelenggara pendidikan. Mereka tidak merasa mendapat manfaat, selain hanya sekedar melaksanakan kewajiban.

Ekses lainnya adalah memberikan beban kerja berlebih pada staf sekolah yang bertanggungjawab pada sistem database online ini yang disebut operator sekolah. Mereka sering harus lembur jauh melebih jam kerja untuk memasukkan data absensi staf dan guru.

Traffic data yang masuk ke server mengalami overload disebabkan oleh ketidaksiapan sistem menerima data yang diupload secara bersamaan oleh para operator sekolah di jam jam kerja. Terpaksa mereka harus mantengin laptop untuk bisa memasukkan data menunggu longgarnya lalu lintas data ke server. Sampai sampai ada sebutan, “Operator sekolah dilarang tidur di bawah jam 10 malam”. Gila toh?!

Ilustrasi

Program ini membutuhkan biaya yang mahal. Memaksa sekolah mengeluarkan budget ekstra untuk pembelian perangkat komputer yang tidak murah. Untuk menyelenggarakan Ujian Berbasis Komputer, sekolah harus membeli perangkat komputer dengan jumlah puluhan unit sebanyak jumlah siswa. Bagi kebanyakan sekolah terutama yang di pedesaan itu bukan perkara mudah.

Bagi yang tega ya narik iuran ke siswa. Bagi yang ga tega melihat mayoritas wali murid tidak mampu, beban lari ke yayasan penyelenggara. Untuk sekolah yang kaya dengan SPP per siswa ratusan ribu, tentu hal kecil. Lain soal bagi sekolah pas – pasan yang untuk gaji guru saja “sakwelase”. Menjerit…!!

Sistem online membutuhkan ketersediaan jaringan internet yang lancar. Saya hanya bisa membayangkan betapa ruwet urusan sistem ini di daerah – daerah terpencil yang jangankan urusan sinyal, hardware komputer saja mungkin baru tahap pengenalan. Untuk urusan koputerisasi menejemen sekolah mungkin operator sudah dilatih.

Masalah kerap timbul untuk ujian berbasis komputer. Bagaimana dengan siswa yang baru pertama kali menyentuh keyboard dan memegang mouse. Boro – boro mikir materi ujian, mikir cara menjalankan aplikasinya saja nunak nunuk. Apalagi konon aplikasi yang di try out-kan pernah berbeda dengan aplikasi yang dipakai saat ujian aslinya. Garuk – garuk kepala pas ujian bukan karena mikir jawaban tapi kebingungan mana yang harus dipencet.

Terkait tujuan mengurangi kecurangan siswa, meminimalisir nyontek. Yang terjadi malah transformasi kecurangan. Unik toh.. Sekolah dituntut meluluskan siswanya. Disaat yang sama para pengajar sadar betul siswa belum siap dengan soal yang rumit ditambah dengan ujian berbasis aplikasi on line.

Kekhawatiran anak – anak tidak mampu menjawab, memantik pergeseran kecurangan. Biasanya murid yang nyontek, kini pihak sekolah kerap curang. Ada upaya upaya bagaimana agar anak bisa mengisi jawaban. Mereka berkepentingan agar anak lulus dengan nilai cukup. Sssttt.. Konon banyak lho para guru yang malah ngasih kunci jawaban ke siswa.. Hayo ngaku..

Saking gandrungnya sama makhluk yang bernama online ini, euforianya sampai membuat sebuah institusi di sebuah kabupaten yang menerapkan sistem online untuk meeting dengan pejabat. Jadi kalau ada pihak sekolah ingin ketemu dengan salah satu pejabat di institusi tersebut harus daftar secara on line.

Secara teori efektif, tapi secara praktik malah memperpanjang alur birokrasi dan waktu. Sudah berada di kantor institusi tersebut belum tentu bisa ketemu hanya karena sistemnya ngadat dan belum dapat nomor antrian. Maunya mempermudah, dapetnya mempersulit. Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah.

Ah.. Kepala sekolah idealnya sebagian besar porsi waktu dan konsentrasinya untuk bersama dengan para guru merumuskan strategi belajar mengajar yang efektif dan tok cer. Itu yang saya praktikkan waktu dulu sepuluh tahun jadi kepala sekolah. Kini itu susah dilakukan.

Menggunungnya beban tugas administratif memaksa kepala sekolah menghabiskan waktunya di kubangan “paper work”. Terlebih sistem online yang baru tumbuh dan belum “baligh” ini benar – benar menguras waktu dan konsentrasi. Dus, kepala sekolah tak ubahnya seorang administratur. Fungsi menejerial bergeser pada acara – acara seremonial nan formal. Bukan salah mereka. Kondisi sistem yang menggiring pergeseran itu.

Jadi gimana dong? Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.. Atau kita diskusikan Yuuuk..

Salam Semangat..!! Bismillah..

Penulis adalah : Putra dari Bapak Guru MA Muchtar, Pendiri Ponpes SPMAA Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

LEAVE A REPLY