Menjadikan Pasar Sebagai Gerakan Peradaban Budaya Baru

507
Foto : Bupati Bojonegoro, Kang Yoto didampingi Kadis PU Bojonegoro, Andik Tjandra, saat bersama arsitek kelas dunia, Florian Heinzelmann dan Daliana Suryawinata, perancang Pasar Banjarejo - Bojonegoro.

Oleh : Kang Yoto

Sembilan tahun sudah Bupati Bojonegoro, Kang Yoto menerapkan kebijakan melarang investor masuk dalam pembangunan Pasar Pemkab dan Pasar Desa, yang rata – rata masih disebut tradisional. Namun bukan berarti pasar tradisional harus kumuh dan jorok. Karena puluhan miliar rupiah Pemkab gelontorkan untuk stimulan Pasar Desa, dan puluhan milyar untuk revitalisasi Pasar Pemkab baik dana APBD maupun APBN.

Kali ini pemkab sedang  membangun Pasar Banjarejo, Kecamatan Bojonegoro, tempat parkir dan bagian untuk wlijo sudah hampir jadi, setelah ini bangunan induk dan musholla. Inilah pasar yang dirancang untuk memanusiakan manusia secara beradab, pasar yang memanusiakan setiap pengunjungnya dan pedagangnya.

Pedagang dan pembeli/pengunjungnya mendapat tempat yang layak, desainnya dirancang sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan bau, karena aliran udaranya lancar dan memiliki nilai artistik sehingga setiap mereka yang datang akan memiliki konsep dan pandangan baru tentang bagaimana hidup itu harus dijalankan.

Pasar ini dirancang oleh arsitek kelas dunia yaitu pasangan suami istri, Florian Heinzelmann dan Daliana Suryawinata. Saya bertemu dua orang idealis ini di rumah sahabat saya Adi Harsono dan Mari Pangestu (Mantan Menteri). Keduanya lebih tepat disebut profesional aktifis idealis untuk membangun peradaban baru, daripada profesional bisnis.

Secara sederhana Pasar Banjarejo ini terdiri dari 4 suplemen yaitu:

  1. Pasar Utama yang akan dibangun mulai tahun ini,
  2. Pasar Palawija, yang atapnya dibuat secara khas untuk pembeda antar penyewanya.
  3. Atap Parkiran yang dibuat seperti anyaman sehingga cahaya masih bisa masuk
  4. Mushola yang dimodel seperti bangunan Ka’bah.

Nantinya kios dalam pasar ini tidak boleh diperjualbelikan, hanya disewakan untuk mereka yang selama ini berjualan.  Harga dibuat progresif, sewa satu kios lebih murah, maksimal hanya dimungkinkan tiga kios dengan harga yang lebih mahal. Kios hanya boleh dimanfaatkan oleh penyewa sendiri, tidak boleh disewakan lagi kepada pihak lain.

Mohon doanya agar niat baik untuk memfasilitasi dan memberdayakan pelaku usaha kecil dan mikro ini bisa terwujud seperti yang kita impikan. Yakni menjadikan Pasar Sebagai Gerakan Peradaban Budaya Baru. Masio ndeso tapi bahagia. Lihatlah pasar baru buat polowijo Banjarejo Kec Bojonegoro.

#BojonegoroMatoh
#JatimProduktif

Penulis adalah : Bupati Bojonegoro – Jawa Timur.

LEAVE A REPLY