Menghimpun Do’a – Do’a Mujarab

94
Foto : Agus Suprianto (Kaos Putih)
Foto : Agus Suprianto (Kaos Putih)

Oleh : Agus Suprianto

Saat silaturahmi ke rumah-rumah warga, saya sangat bersemangat kalau bertemu orang-orang yang sudah Sepuh. Tatapan matanya dan kehangatan dalam menyambut selalu terlihat tulus. Maka saya selalu merasa terharu dan nyaman untuk berlama-lama berbincang dengannya.

Awalnya mereka biasanya mengeluhkan bagian-bagian tubuhnya yg mulai sakit. Kepala yang sering pusing, pinggang sakit saat berdiri, kaki yang mulai sering kesemutan dan lainnya. Kalau sudah begitu biasanya saya pijat-pijat sedikit bagian yang dikeluhkan.

Setelah itu orang-orang Sepuh biasanya akan mulai bercerita. Dan ini bagian yang saya suka. Biasanya mereka mulai bercerita jaman-jaman waktu masih mudanya. Juga bercerita tentang nama-nama Mbah Desa Klampok jaman dahulu. Juga tentang kondisi Desa Klampok yang sekarang sudah banyak berubah. Atau tentang kawan-kawan seusianya yang semakin lama semakin sedikit karena banyak yang sudah meninggal.

Cerita-cerita itu bener-bener saya dengarkan dgn seksama. Saya terharu mendengarnya. Bahkan pernah juga menitikkan air mata mendengar cerita-cerita mereka.

Mereka biasanya juga bercerita tentang kakek saya, Mbah Parto Wijoyo, yang pernah menjadi Kepala Desa Klampok lebih dari 40 tahun lamanya. Sejak jaman Belanda, Jepang, Bung Karno sampai meninggal tahun 1983/1984 saat jaman Pak Harto.

Saya yang kelahiran 1982 tentu tidak sempat mengenal lebih baik dengan kakek saya tersebut.

“Mbah Nggi iku wonge sabar lan apikan Le,” begitu kata orang-orang Sepuh menggambarkan tentang kakek saya.

Saya mengangguk-ngangguk tanda mendengarkan dgn seksama.

Saat berbincang dengan orang-orang Sepuh saya memang lebih sering mendengar. Karena bagi saya setinggi apapun pendidikan dan sehebat apapun seseorang tidak akan pernah bisa sebijak orang-orang Sepuh. Karena ada lebih banyak masa yang telah dilaluinya tanpa bisa kita lalui.

Bagi saya orang-orang Sepuh itu butuh perhatian. Butuh teman bicara. Butuh kasih sayang. Maka saya berkomitmen jika terpilih jadi Kepala Desa Klampok nanti akan menjadikan Lansia sebagai salah satu program yang diutamakan.

Diakhir percakapan biasanya mereka akan memberikan nasehatnya. Wejangan-wejangan Pitutur Luhur untuk Tumindak sing Becik dan nasihat-nasihat baik lainnya.

Sebelum pamit saya selalu minta di doakan. Dan terucaplah rapal-rapal doa kebaikan untuk saya. Dengan suara lirihnya. Dengan tatapan tulusnya. Dengan raut-raut kebijaksanaan di wajahnya. Dengan tepukan-tepukan kecil di pundak atau dada saya. Itulah doa yang paling menggetarkan dan paling mujarab bagi saya.

Desa Klampok, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. 04 Mei 2019 (085230882830).

Foto : Agus Suprianto (Baju Hitam Hijau)

#Wayaheberubah

Penulis : Calon Kades Klampok terpilih 2019

data bojonegoro

LEAVE A REPLY