Memahami Ideology Dunia

410
Foto : Ahmad Burhan Hakim, M.IR.

Oleh : Ahmad Burhan Hakim, M.IR.

Tidak semua orang faham dan mengenal apa makna dan fungsi Ideology. Sedangkan Ideology tersebut sebenarnya lekat sekali dengan rangkaian kehidupan masyarakat yang ada. Misalkan adanya nilai kepercayaan, adat istiadat (local wisdom), yang sebenarnya hal tersebut masuk sebagai kategori yang ada pada ideology.

Yang mana ideology tersebut berarti sistem kepercayaan dan nilai kelompok pada wilayah tertentu yang berkaitan dengan bagamana kehidupan mereka ditata dan dilakukan dengan pedoman apa yang seharusnya dilaksanakan dan mana yang senyatanya ada dalam kerangka factual. [1]

Bisa kita fahami bahwa adanya sistem tata nilai tersebut yang membuat individu maupun kelompok melakukan spesifikasi aktifitas sebagaimana apa yang mereka percaya sebagai ideology. Maksudnya bahwa ideology ini berfungsi sebagai tuntunan dan ajaran yang bersifat fungsional  (nilai kebaikan bersama ) maupun structural  (kebijakan, formulasi). [2]

Secara singkat namun tidak sepele kita mampu memahami pengertian ideology tersebut tanpa harus melakukan berbagai macam tafakur yang membutuhkan waktu yang lama. Lalu mengapa pengetahuan  ideology ini penting, banyak orang yang kemudian melakukan misinterpretations terhadap berbagai macam ideologi yang ada.

Padahal pengetahuan akan ideologi berguna untuk mem-filter, dan mendiskursuskan berbagai tafsiran akan makna ideology tersebut yang hari mulai bergesar dan disalah gunakan demi kuasa pragmatisme.  Mahasiswa punya peranan sebagai penyambung lidah rakyat akan membutuhkan  pengetahuan ideologi sebagai kebutuhan akademis yang (mutlak)  untuk dipelajari.

Hari ini banyak mahasiswa yang tidak faham apa itu komunisme, liberalisme, fasisme maupun kapitalisme. Yang sebenarnya ini penting untuk dipelajari guna mewujudkan perdababan insan akademis ( keintelektualan, keindonesian dan keislaman) yang utuh sesuai disiplin ilmu maupun inter dislipiner.

Aneka Ideology Dunia

Komunisme, kemunculan faham komunisme ini tidak terlepas dari adanya proses industrilasi Negara barat, yang mana dari proses industrilasai tersebut membentuk dua social class , yakni kaum borjuasi dan kaum proletar.

Dua segmentasi (stratifikasi) masyarakat tersebut mewakili golongan, Pertama kaum borjuasi pemilik tanah (feodal), pengusaha, bangsawan yang mana sendi social dan ekonomi banyak dikuasai oleh kaum ini. Kedua, kaum proletar yang dihuni oleh para buruh pabrik, buruh tani yang mana bekerja pada sistem ekonomi paling bawah.

Inti dari idelology komunisme ini terletak pada revolusi proletar (kelas) untuk melawan bentuk-bentuk kelas  borjuasi guna mewujudkan  struktur masyarakat tanpa kelas. [3]

Kekuasaan tertinggi ada pada Negara dan seluruh alat-alat produksi juga dikuasai oleh Negara, hal ini  berakibat pada  bergesernya tatatan social dimana hak individu tereduksi dan hampir sama sekali hilang karena keseluruhan di kuasai oleh Negara.

Komunisme ini sangat menentang (melawan) adanya bentuk sistem kapiltalisme yang akan membentuk individu yang jauh dari realitas kemasyarkatatan yang biasa disebut dengan alienasi pada proses dan aktifitasnya sebagai buruh untuk menunjang Industri-industri kapital. [4]

Berbeda dengan Komunisme, Liberalisme punya pandangan yang berbeda terkait nilai yang ada pasa masyarakat. Liberalisme melakukan penekanan pada hak individu mutlak, maksudnya individu punya hak dan kemerdekaan tanpa harus ada intervensi yang berlebih dari Negara.

Faham individualism menjadi tolak ukur pertama bagi Liberlisme. Dengan kata lain ketika aspek social dan ekonomi lebih  ditekanan pada individu maka secara komunal individu-individu ini akan membentuk pola interaksi yang lebih bertanggaung atas dirinya masing-masing. [5]

Individu berhak menentukan dengan nasib apa mereka hidup dan dalam bentuk struktuk apa mereka ada pada dinamika social. Liberalisme ini lekat hubungan dengan demokrasi maupun kapitalisme, seluruh alat-alat produksi bisa dikuasai oleh perorangan,

Negara hanya sebagai fasilitator atas terselenggaranya kegiatan ekonomi, misalkan dengan membuat kebijakan yang pro pasar yang dituangkan dalam bentuk Undang-undang maupun Peraturan Daerah. [6]

Aspek kompetisi sangat kental di kapitalisme, seluruh struktur masyarakat akan saling bersaing menciptakan produk ekonomoni baru karena semua harga dan permintaan tidak diatur oleh Negara tapi diserakan ke pasar.

Selanjutnya ada Fasisme, ideologi ini berkembang di Negara Jerman (Nazi), Jepang, Italia dan Argentina pada masa Perang Dunia II 1933-1945. Fasisme memiliki corak lebih doktriner dan anti rasional. Keberadaan Negara mutlak secara hukum dan dalam semua dimensi baik itu social, budaya dan ekonomi.

Faham fasisme tidak percaya dengan kemampuan nalar karena hal tersebut akan menghambat rasa cinta pada negara, fanatisme menjadi keutamaan pada ideologi ini.

Maka terlihat jelas pada masa Nazi di jerman, Hitler begitu berkuasa dan seakan menjadi Tuhan pada saat itu, begitu pula Mussolisni di Italia semua unsur yang berbau individi diterabas dengan pedang fanatisme kenegaraan. Unsur totaliterianisme, rasialisme dan imperialisme menjadi kategori unggulan untuk melangggengkan kekuasanya. [7]

Bagi penulis faham fasis ini lebih cenderung tidak berprikemanuasiaan, adanya rasial pada faham fasis menimbulkan segmentasi dan strastifaksi social yang cukup jauh. Tidak ada bangsa yang lebih unggul dari bangsanya sendiri (Arya), bangsa kami adalah bangsa dewa mungkin seperti kalimat yang sering disampaikan oleh Hitler pada saat berkuasa.

Catatan Kaki :

  1. Lihat selengkapnya di Deden Fathurohman, Pengantar Ilmu Politik. Malang, UMM press . 2002 hal. 46.
  2. Lihat pada Ramlan Surbakti. Memahami Ilmu Politik. Jakarta. Gramedia. 1992 hal. 32-33.
  3. Lihat William Ebenstein. ISME-Isme Dewasa ini. Jakarta. Erlangga. 1987. Hal 31.
  4. Ibid hal 38.
  5. Lihat pada Ramlan Surbakti. Memahami Ilmu Politik. Jakarta. Gramedia. 1992 hal. 33-34.
  6. Cit William ebenstein. Isme-Isme Dewasa ini. Jakarta. Erlangga. 1987. Hal . 148-149.
  7. Hal 123-130.

Penulis adalah : Dosen STAI Sunan Drajat Lamongan, dan Aktivis KAHMI Lamongan

LEAVE A REPLY