Lamongan Butuh Bus-Way ?

739
Foto : Ahmad Burhan Hakim, M.IR

Oleh : Ahmad Burhan Hakim, M.IR

Lamongan adalah salah satu Kabupaten di Jawa Timur yang terletak disebelah barat Kabupaten Gresik, Sebelah Timur Kabupaten Tuban dan sebelah utara Kabupaten Jombang dan Mojokerto. Kabupaten yang punya simbol ikan bandeng dan ikan lele ini menjadi kabupaten dengan potensi bahari dan agraria.

Lamongan juga terkenal sebagai daerah lumbung padi nasional, serta punya beberapa tempat wisata menarik antara lain WBL (Wisata Bahari Lamongan), Maharani Goa dan Secret Zoo, Wisata Religi Sunan Drajat, Makam Syekh Mauluna Ishaq (Ayah Sunan Giri), Pemandian air panas Brumbung, Pelabuhan Ikan Nusantara Brondong, Wisata Waduk Gondang dan beberapa lainya yang masih belum dikelola secara baik.

Hampir seluruh wisata yang terkenal di Lamongan terletak di pesisir utara Lamongan yang berada di wilayah adminitratif Kecamatan Paciran. Kecataman Paciran beberapa tahun belakangan menjadi ramai karena banyak pabrik baru yang didirikan dikawasan tersebut seperti PT. Dok Pelabuhan Lamongan, PT. Lamongan Marine Industri, Lamongan Shorbase, Lintech dan lainya.

Dengan demikian maka perputaran ekonomi di kawasan pantura Lamongan bisa dikatakan sangat besar. Pertumbuhan ekonomi semacam ini bukan menjadi soal, yang menjadi persoalan apakah uang tersebut akan lari ke Kabupaten Lamongan ataukan akan melaju kencang ke kabupaten Tuban, Gresik atau bahkan Surabaya. Penulis melihat bahwa kabupaten yang mendapat retasan pertumbuhan ekonomi pantura Lamongan adalah Tuban, Gresik dan Surabaya.

Penulis tidak membahas mengenai pendapatan asli daerah berupa pajak dan lainya, yang didapat dari tempat wisata, pelabuhan, atau bahkan terminal. Kenapa demikian, kebanyakan orang pantura Lamongan (disekitaran Kecamatan Paciran dan Brondong) lebih suka membelanjakan uang mereka ke Tuban, Gresik atau bahkan ke Surabaya.

Penghasilan masyarakat pantura cukup besar, terlebih mereka yang punya profesi nelayan ( daerah Brondong, Blimbing, Paciran, Kranji dan Banjarwati) dalam musim-musim tertentu atau musim biasa bahkan harian, dan terkadang penghasilan mereka dalam sebulan bisa mengalahkan gaji PNS golongan 4.

Kebutuhan Transportasi Massal Masyarakat Lamongan

Penduduk Paciran mengapa lebih suka menghabiskan uangnya ke Gresik, Tuban atau Surabaya lantaran tiga tempat tersebut punya akses tranportasi yang memadai. Penduduk Paciran dan sekitarlebih tahu detail daerah Tuban, Gresik dan Surabaya dari pada kota Lamongan itu sendiri. Warga daerah Paciran mengalami kesulitan apabila punya urusan yang mengharuskan mereka datang ke Lamongan Kota, misalkan mengurus surat tanah, berobat ke Rumah Sakit Daerah, atau silaturahmi ke sanak famili yang berada di Lamongan Kota.

Warga yang mengalami kesulitan tersebut adalah warga yang tidak punya kendaraan pribadi baik itu motor atau mobil, sedangkan akses transportasi dari Paciran menuju Lamongan Kota bisa dikatakan langkah. Adapun transportasi yang tersedia yakni harus melalui Kabupaten Tuban menuju Babat kemudain sampe di Lamongan Kota. Atau menggunakan transportasi dari Paciran menuju Gresik-Duduk baru sampai ke Lamongan Kota.

Perjalanan menggunakan dua jalur tersebut rata-rata membutuhkan waktu lebuh dari dua jam. Sedangkan menggunakan kendaraan pribadi dari Paciran langsung ke Lamongan Kota menggunakan jalur Sunan Drajat – Sukodadi hanya memakan waktu tempuh tak kurang dari satu jam. Persoalan ketersediaan transportasi yang menghubungkan Lamongan Kota (selatan) menuju Paciran (kawasan pesisir) atau sebalikanya amat langkah ditemui. Adapun yang tersedia yakni dua rute seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Ini sebenarnya adalah suatu permasalahan klise yang dihadapi oleh masyarakat Paciran secara khusus dan masyarakat Lamongan pada umumnnya. Kabupaten Lamongan dengan APBD sekitar 2,1 triliun lebih per tahun harusnya mampu menyediakan transportasi yang aksestabel khususnya yang menghubungkan Lamongan Kota menuju daerah pesisir.

Misalkan ada warga Lamongan Kota yang akan pergi melancong ke WBL, Goa Maharani atau Sunan Drajat dan sebaliknya   tidak mengalami banyak kesulitan dan kendala seperti yang dirasakan saat ini. Kondisi demikian menantang Kabupaten Lamongan untuk bisa berbenah dan melakukan inovasi guna mengembangkan konomi sektoral dengan membangun basis transpotasi umum yang baik dan modern.

Ketersediaan transportasi umum (misalkan berupa bus way atau busrapid trans) dari Lamongan Kota menuju Paciran dan sebaliknya, tidak hanya bermanfaat bagi warga paciran (dan sekitar), Lamongan Kota (dan sekitar) secara khusus atau warga Lamongan secara umum. Tapi akan berdampak pada kecepatan perputaran dan akses ekonomi yang lebih mudah serta akseleratif.

Ketersedian transpotasi tersebut juga memudahkan wisatawan berbabagi dari semisal Jombang, Mojokerto, Kediri, Nganjuk dan sekitar yang ingin berekreasi ke wisata yang terletak di pesisir Lamongan walaupun dengan kantong pas-pasan, bisa dengan mudah menggunakan transportasi umum yang tersedia, yang mana akan menghubungkan langsung dari Lamongan Kota menuju Paciran.

Penulis melihat belum ada niatan serius dari Pemerintah Daerah Lamongan untuk membenahi sistem transportasi tersebut, atau bahkan PemerintahDaerah Lamongan tidak pernah berfikir sama sekali ke arah itu. Ini menjadi polemik serta menjadi kebutuhan mendasar masyarakat modern saat ini. Transportasi umum yang baik akan menambah minat warganya untuk menggunakan bus, angkot dan lain-lain, dan secara pelan namun pasti mulai merumahkan kendaran pribadi mereka.

Selain rute Lamongan Kota menuju Paciran (via sukodadi-sunan drajat), ada rute potensial lainya yang juga membutuhkan transpotasi massal yakni dari rute Babat-Pucuk-Laren sampai ke Pelabuhan Brondong. Selama ini warga Blimbing dan Brondong agak mengalami kesulitan untuk menuju Babat apabila tidak mempunyai kendaraan pribadi. Atau bahkan warga Babat dan sekitar yang punya keperluan di Brondong maupun Blimbing atau sebaliknya. Kondisi yang demikian, seolah tidak dibaca secara cermat oleh pemerintah daerah. Pemda Lamongan seolah hanya fokus pada penarikan investasi yang rata-rata berpusat di kawasan pesisir.

Lamongan Menjadi Kota Pelabuhan Internasional

Industrialisasi yang terjadi dipantura Lamongan harus dibarengi dengan ketersediaan fasilitas umum (khususnya transportasi massal seperti yang disebutkan diatas), bisa juga membangun taman kecamatan, aula atau semacam GOR yang sampai hari ini sulit ditemukan di pesisirLamongan khususnya wilayah Paciran. Apabila Pemda Lamongan mampu membangun jalur transportasi massal yang baik dan ter-integrasi maka Lamongan akan menjadi Kabupaten Pioner transpotasi massal daerah, nasional bahkan Internasional.

Di satu sisi hal tersebut sudah menjadi kebutuhan masyarakat, disisi lain Kabupaten Lamongan sudah harus merubah atau mengkreasikan image lawasnya yang terkenal dengan kota pecellele, kotasoto lamongan, dan Kota langganan banjir menjadi Kabupaten Lamongan yang modern dengan basis transpotasi publik yang terintegrasi, memadai, mudah diakses dan dengan harga terjangkau. Jakarta dengan trans-jakartanya, Yogjakarta dengan trans-jogjanya, Solo dengan trans-batik solonya maka sudah seharusnya Lamongan punya trans-lamongan yang tidak kalah dengan kota-kota yang disebutkan tadi.

Hal ini bukanlah persoalan yang mustahil, hanya butuh niat, keseriusan dan usaha dari Pemerintah Daerah Lamongan untuk bisa mewujudakannya, selain perlu dukungan dan peran serta dari masyarakat Lamongan itu sendiri. Lamongan sudah tidak harus ingin menjadi kota pelabuhan dengan pertumbuhan ekonomi tinggi semacam Surabaya atau Jakarta, tapi sudah harus berpindah mazdhab untuk bisa menjadi seperti Hamburg – Jerman, Buzan – Korea Selatan, Rotterdam – Belanda , Los Angeles – Amerika Serikat dan Shanghai – Cina . Ini tidak mustahil dan masih sangat mungkin untuk diwujudkan.

LEAVE A REPLY