Lamongan Alami Fenomena Penurunan Hasil Panen Padi

843
Foto : M. Iqbal, S.Pi., Petani dan Pedagang beras asal Kecamatan Kalitenggah, Kabupaten Lamongan

Bengawanpost.com, Lamongan – Kebutuhan pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar/primer yang harus dipenuhi setiap manusia, sehingga pemenuhannya menjadi salah satu hak asasi yang harus dipenuhi secara bersama-sama, baik oleh negara maupun masyarakatnya. Kebutuhan tersebut diantaranya adalah ketersediaan stok beras.

Karena di Indonesia, beras merupakan salah satu bahan makanan pokok. Namun karena disebabkan banyak factor, menyebabkan banyak Daerah termasuk Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, yang mengalami penurunan hasil panen padi di masa panen kali ini (Agustus 2016), akibatnya padi yang akan menjadi beras ketersediaan stoknya akan menurun juga.

Menurut M. Iqbal, S.Pi., petani dan pedagang beras asal Kecamatan Kalitenggah, Lamongan, mengatakan bahwa dampak penurunan ini tidak hanya dialami para petani. Namun juga dialaminya dirinya sebagai pedagang beras, yang setidaknya bisa memenuhi ketersediaan stok beras dari dalam Negeri, guna mendukung terwujudnya ketahanan pangan Nasional.

“Sekarang kalau dibuat rata-rata hasil panen padi dari Kecamatan Glagah sampai Kecamatan Kalitengah, yang sudah saya beli menghasilkan padi 5 ton perhektar. Padahal tahun lalu bisa mencapai 7 ton – 8 ton perhektar. Semoga panen selanjutnya bisa lebih bagus,” katanya saat ditemui media di rumahnya, Minggu (28/08/2016).

Fenomena saat ini harus mendapatkan solusi dari semua fihak, karena produksi padi adalah bagian dari ketahanan pangan Nasional. Sebelum adanya solusi, perlu dikaji dulu penyebab penurunannya. Selain disebabkan factor pengaruh cuaca saat ini, apa juga disebabkan dari kwalitas bibit yang beredar di Kabupaten Lamongan atau karena faktor yang lainnya.

Lebih lanjut Iqbal menjelaskan, “Meski pupuk hampir stabil dan dibantu teknologi alat tanam walau belum maksimal. Tapi akibat penurunan ini, para petani masih mengeluhkan harga jual gabahnya yang masih kurang tinggi, karena hasil panennya tidak sebanding dengan ongkos produksinya mas,” pungkas alumni Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. [Mu/Red]

LEAVE A REPLY