Konflik Khasmir Dalam Perspektif Hubungan India-Pakistan

638
Foto : Ahmad Burhan Hakim

Oleh : Ahmad Burhan Hakim

India dan Pakistan adalah dua Negara yang selalu bertempur dan tidak pernah sepakat mengenai wilayah teritori negara mereka khusunya wilayah yang diperebutkan yakni Khasmir. Memang batas dan tertorial negara adalah suatu yang mutlak untuk dipenuhi sebagai syarat dibentuknya sebuah negara selain factor-faktor pendukung lainya. Dengan demikian isu-isu batas wilayah Negara dan kekuasaannya menjadi suatu hal yang sensitive.

Yang menjadi sensitive yakni persoalan kekuasaan negara atas wilayah tersebut dan tentunya wilayah territorial sebagai bagian dari kedaulatan akan diperjuangkan secara mati-matian oleh negara yang bersengketa.Wilayah ini menjadi sengketa perbatasan yang tak kunjung selesai. Entah apakah sengketa wilayah tersebut didasari atas nama historis, agama, ideology, ekonomi maupun geopolitik atau hanya sekedar klaim semata, kasus sengketa perebutan wilayah ini sering terjadi antar dua negara atau bahkan lebih.

Kashmir yang terletak di kaki Gunung Himalaya memang patut mendapat julukan surga. Tanahnya subur, pemandangannya indah, dengan sungai-sungainya yang mengalir. A garden of eternal spring dan an iron fort to a palace of kings menjadi julukan Kashmir atas keindahan alamnya yang luar biasa. Namun nasib rakyat Kashmir tak seindah dengan julukannya, mereka hidup dalam kegetiran dan ketakutan.

Wilayah Kashmir memiliki keuntungan yang sangat menggiurkan dari segi ekonomi. Kashmir merupakan obyek wisata yang terkenal dengan keindahan alamnya dan juga merupakan pusat industri wol, karpet, serta dengan tanahnya yang subur. Selain itu Kashmir merupakan tempat mengalirnya sungai-sungai besar Indus, Jhelum yang penting bagi sektor pertanian.

Khasmir yang disebut sebagai surga Dunia di Asia Selatan tentunya apabila dikelola dengan baik untuk ekonomi wisata maka akan menghasilkan devisa yang tinggi bagi negara yang memilikinya. Maka tidak heran apabila india dan Pakistan selalu berseteru untuk memeperbutkan wilayah tersebut. Namu ada berbagai latar belakang lain yang menjadi penyebab konflik india-pakistan atas wilayah khasmir.

Masa sebelum kemerdekaan kedua negara juag berperan penting dalam isu sengketa wilyah khasmir. Terbentuknya india dan Pakistan tentu tidak lepas dari campur tangan Mahatma Gandhi, J. Nehru , B.G. Tilak , Banerjee, Moh. Ali Jinnah, Iskandar Mirzadan Liquat Ali Khan. Namun ada tiga tokoh yang paling terkenal dalam sejarah berdirinya India Pakistan yakni Mahatma Gandhi, Jawaharul Nehru dan Mohammad Ali Jinnah. Ketiga tokoh inilah yang paling berperan besar dalam dinamika kemerdekaan kedua negara.

Tentunya dipihak India maupun Pakistan punya dasar dan argumentasi tersendiri untuk terus berjuang memperebutkan wilayah khasmir. Namun seiring berkembanganya zaman dan waktu, kasus sengketa perbatasan ini malah semakin meluas. Mulai terjadi perang terbuka antara India dan Pakistan, persoalan perang inilah yang menjadi momok dalam setiap konflik perbatasan yang ada.

Bagi saya tidak ada satupun negara dunia yang menginginkan peperangan terjadi, namun terkadang atas nama national prestige, national interest dan mungkin juga national security hal demikian bisa terjadi. Saya melihat kasus konflik perbatasan india-pakistan ini mengandung banyak motif, politik, agama,ideology maupu secara ekonomis.

Khasmir : Bergabung ke India atau Pakistan

Selain beberapa hal yang telah dibahas diatas ada beberapa factor yang menyebabkan konflik khasmir ini tidak menemui titik kesepakatan antara india dan Pakistan. Sikap plin-plan dari pemimpin Khasmir pada waktu itu Harry Singh yang terkadang membuat geram india dan Pakistan, disalah satu sisi Harry Singh ingin bergabun dengan Pakistan dengan dasar mayoritas penduduk Khasmir adalah muslim.

Jammu Kashmir berada dalam kekuasaan pemimpin yang beragama Hindu, dalam tindakannya Maharaja Harry Singh bertindak ragu untuk tidak memilih India ataupun Pakistan dan ini menimbulkan keresahan rakyat Jammu Kashmir yang mayoritas ingin bergabung dengan Pakistan karena dari segi historis, emosional dan kultural Kashmir memiliki kedekatan dengan Pakistan karena faktor agama yang sama yaitu Islam, karena dari sekitar 12.000.000 jiwa penduduk Jammu-Kashmir 77 % persen adalah Muslim.

Kemudian yang terjadi adalah terbaginya Jammu Kashmir menjadi dua friksi besar antara Muslim (Kashmir) dan Hindu (Jammu). Sikap Harry Singh ini menimbulkan kemarahan rakyat Kashmir dengan melakukan protes yang dibantu oleh Pakistan yang berdampak pada semakin terdesaknya posisi Harry Singh. Dalam posisi yang demikian, ia meminta bantuan kepada India, PM Jawaharal Nehru bersedia membantu dengan syarat ada jaminan bahwa Kashmir akan bergabung dengan India. Penandatanganan penggabungan wilayah Kashmir dengan India terjadi pada tanggal 26 Oktober 1947 berdasarkan perjanjian asesi.

Hal ini yang menyebabkan terjadinya perang antara Pakistan dan india, tentara masing-masing negara dikirim diwilayah khasmir. Pakistan mempertanyakn keabsahan perjanjian tersebut, apakah perjanjian tersebut perjanjian tersebut hanya atas dasar perwakilan elit antara india dan khasmir atau benar-benar itu adalah kehendak rakyat khasmir. Mengingat yang menjadi dasar keteguhan Pakistan yakni mayoritas penduduk khasmir adalah muslim, dan tentunya mereka akan senang ketika bergabung dengan Pakistan.

Perang terbuka antara Pakistan dan india akhirnya berakhir dengan gencatan senjata 1 Januari 1949 dengan membuat garis demarkasi di Jammu & Kashmir, yang memisahkan daerah sebelah Timur (lembah Kashmir, Jammu dan Ladakh) dijaga oleh pasukan India, sebelah Barat (dikenal sebagai Azad Kashmir), diawasi oleh Pakistan.

Diplomasi Kriket (Menuju Perundingan Damai)

Perang 1965 membawa dampak yang begitu buruk kepada Pakistan, selain kekalahan mereka dalam perang tersebut, posisi Kashmir menjadi semakin dekat ke India. Kekalahan ternyata tidak mengajarkan banyak hal kepada Pakistan, mereka tetap bersikeras menjadikan Kashmir bagian dari mereka. Pada 1971, pecahlah perang berikutnya antara Pakistan dan India-Kashmir, perang ini bukan hanya menjadi ajang kekalahan Pakistan untuk kesekian kalinya, tetapi pada perang 1971 ini Pakistan mengalami disintegrasi, Pakistan Timur menyatakan dirinya merdeka dan mengubah namanya menjadi Bangladesh.

Dengan kondisi yang semacam ini tentunya konflik antara Pakistan dan india semakin memanas. Dalam kasus perlu treatment khusus untuk bisa menyelesaikan persoalan ini. Pakistan walaupun kalah perang dengan india namun kalah perang tersebut malah membuat Pakistan semakin bernafsu untuk menguasai wilayah khasmir. Tentunya Pakistan malu dengan kekalahan perang tersebut, sikap malu ini hanya bisa ditebus dengan kemenangan perang atas india dan berkuasanya Pakistan atas khasmir bagi saya ini adalah persoalan gengsi (prestige) antar negara tersebut.

Pada tahun 1972, dibentuklah sebuah perjanjian di kota Simla, yang kemudian dikenal dengan nama  Simla Agreement, dalam perjanjian tersebut dijelaskan bahwa kedua negara, India dan Pakistan, berjanji untuk mencari penyelesaian masalah Kashmir secara bilateral, tanpa adanya campur tangan dari pihak ketiga seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa. Perjanjian Simla ini juga merubah beberapa hal, antara lain adalah perubahan nama garis batas. Pada awalnya garis batas antara Kashmir, India dan Pakistan dibentuk akibat gencatan senjata pasca perang 1947, sehingga garis tersebut dikenal dengan nama Cease-fire Line. Pasca perang 1971, garis batas antara tiga wilayah itu dikenal dengan nama Line of Control.

Kriket adalah sebuah jenis olahraga yang diperkenalkan inggris pada masa penjajahnya di india, yang pada akhrinya penduduk india dan Pakistan sangat gemar memainkan kriket. Akhirnya olahraga ini semacam menjadi olah raga nasional yang dilakukan dan disukai hampir mayoritas penduduk India dan Pakistan. Diplomasi kriket ini pertama kali dimulai pada tahun 1987, ketika itu pemimpin Pakistan Zia-ul Haq diundang ke Jaipur untuk menonton pertandingan kriket India dan Pakistan oleh Perdana Menteri India Rajiv Gandhi, seusai pertandingan kedua pemimpin tersebut melakukan pertemuan bilateral terkait dengan penyelesaian kasus Kashmir.

Perang Kargil pada tahun 1999, kembali membuat kedua negara ini berada pada posisi yang panas. Baru padatahun 2005, dibawah kepemimpinan Jenderal Pervez Musharaff diplomasi kriket kembali bergulir. Pada tahun 2005, kedua negara telah berada pada tingkatan baru, kedua negara tersebut telah mengembangkan fasilitas nuklir, sehingga akan sangat berbahaya jika muncul konflik baru dan menimbulkan perang. Diplomasi kriket pada 2005 diawali dengan kunjungan Pervez Musharaff ke India untuk menyaksikan pertandingan kriket, berbeda dengan diplomasi sebelumnya, pada kesempatan ini Musharaff bersama Manmohan Singh berunding satu meja, di tengah-tengah pertandingan kriket.

Pada tahun 2008, hubungan India dan Pakistan kembali memanas, hal ini terkait dengan serangan bom di Mumbai yang ditengarai dilakukan oleh kelompok ekstrimis Islam Pakistan, memang sejak  dekade 1980-an, kelompok radikal Islam tumbuh subur di Pakistan. Pertemuan antara pemimpin kedua negara kembali berlangsung pada tahun 2011, momennya masih sama yaitu pertandingan kriket. Pada waktu itu, kedua negara bertanding di semifinal Piala

Dunia Kriket yang berlangsung di Mohali, India. Yousaf Riza Gilani adalah pemimpin Pakistan yang lahir setelah berpisahnya Pakistan dari India, pertandingan kriket tersebut adalah pertama kalinya Yousaf menginjakan kaki di India. Untuk masalah satu ini, memang India dan Pakistan terkesan unik, kedua negara ini bisa bertemu duduk bareng membahas isu konflik khasmir melalui media yakni permainan olah raga kriket.

Jadi terkadang olahraga bisa menjadi media pemersatu bangsa ditunjukkan oleh india-pakistan melalu diplomasi kriket yang dilator belakangi olahraga kriket itu sendiri, walaupun hasil-hasil perundingan tersebut tidak begitu secara serius mendamaikan konflik antara Pakistan-India namun setidaknya mereka bisa bertemu dan duduk bareng melaui media kriket tersebut.

Pendekatan Realism dalam konflik India-Pakistan

Paradigma / pendekatan realism bisa kita gunakan dalam membedah suatu konflik,khususnya dalam konflik perbatasan (khasmir) antara India dan Pakistan. Realism menekankan pada suatu pola kecurigaan dan ketidak percayaan antar negar untuk bisa berdamai kecuali kedua negara tersebut punya kekuatan militer yang masing-masing bisa dianggap kuat untuk tidak terjadi sebuah peperangan, dalam artian bahwa kedua negara tersebut saling memahami posisi dan kekuatan masing-masing negara sehingga negara tersebut akan berfikir ulang untuk berperang.

Dalam kondisi ini kedua negara masuk dalam kategori anarki karena mereka tidak percaya pada lembaga internsional untuk meyelesaikan konflik yang sedang mereka hadapi atau menganggap bahwa dikedua belah pihak masing-masing adalah negara yang punya kebencian dan tak mau di ajak damai. [1] Dengan demikian apabila kita kaitkan dengan konflik yang terjadi antara india dan Pakistan dalam perebutan wilayah khasmir, jelas terlihat bahwa baik pihak india dan Pakistan sama-sama penaruh curiga yang kuat.

Mereka sama-sama beranggapan bahwa kedua negara tidak akan bisa diajak untuk berdamai soal khasmir. Dalam pedekatan realism militer adalah salah satu alat yang sering dan paling mujarab dalam menyelesaikan konflik. Memang India dan Pakistan sering melibatkan militer mereka dalam menyelesaika konflik di khasmir, kemudian mereka percaya bahwa dengan militer (sebut keuatan militer) maka perdaimaian akan tercipta dengan kondisi bahwa salah satu pihak akan menyerah atas kekalahan dalam perang. Dalam study konfik pada pendekatan realism, perang adalah suatu kondisi dan piliah logis untuk bisa menyelesaikan konflik.

Mengapa perbatasan menjadi suatu hal yang krusial bahkan sensitive untuk bisa menimbulkan konflik. Ingat bahwa perbatasan adalah suatu bentuk dari keuasaan dan kemerdakaan suatu bangsa dan negara. Karenanya perbatasan punya nilai yang cukup tinggi untuk dipertahankan mengingat perbatsan tersebut juga mengandung banyak motif salah satunya yakni Kedaulatan Negara. Pakistan sebagai Negara Islam ingin menyatuka khasmir sebagai wilayah Negaranya, dengan asumsi bahwa mayoritas penduduk khasmir adalah muslim.

Sedangkan India   selain motif yang hampir sama dengan Pakistan namun dengan persektif hindunya, mereka juga merasa layak untuk memperbutkan khasmir karena khasmir juga masuk wilayah india. Dengn demikian akan sangat sulit tercipta perdaimain antara kedua belah pihak. National Interest adalah suatu konsep dasar dalam pardigma realism, dimana masing-masing negara akan melakukan segala cara (termasuk perang) demi terwujudnya kepentingan mereka.

India dan Pakistan tentu punya perspekif sendiri dalam menentukan kepentingan nasionalnya, namun yang jelas kedua negara ini sama-sama punya kepentingan untuk menguasai wilayah khasmir dengan berbagai motif. Entah apakah unsur ekonomi, budaya ataukah untuk agama dan ideology yang sudah dijelaskan diatas. Mereka juga tidak ragu untuk melakukan perang terbuka untuk menggapai kepentingan nasional mereka.

Balance of power (perimbangan kekuatan) adalah suatu konsep yang menyatakan adanya perimbangan kekautan antar Negara baik itu berupa militer, politik dan ekonomi yang ditujukan meningkatkan bargaining positions di masing-masing pihak, namun perimbangan kekuatan ini malah akan menciptakan suatu dinamika yang dinamakan balance of terror. dalam kondisi ini baik India maupun Pakistan akan secara terbuka melakukan penguatan militernya untuk menunjukkan negara mana yang paling kuat dan siap untuk berperang.

Dana yang besar akan digelontorkan masing-masig negara untuk memperkuat basis militernya. Hal ini akan menyebabkan suatu perimbangan kekuatan, yang mana pihak India maupun Pakistan akan berpikir ulang untuk melakukan perang, walupun dalam sengketa tersebut mereka pernah mengalami hampir tiga kali perang terbuka.

Dalam pendekatan keamanan secara tradisional National Security adalah suatu bentuk sistem pertahanan nasional yang mana kekuatan militer menjadi basis utama dalam menciptakan keamanan Nasional. Dalam perspektif klasik pendekatan militeristik masih sangat berpengaruh dalam menciptakan suatu keamanan nasional. maka india dan Pakistan merasa apabila wilayah khasmir tidak mereka kuasai atau jatuh dikuasai oleh salah satu pihak maka National Security mereka akan terganggau dan mereka akan merasa kedaulatan negara mereka akan terusik.

Dengan demikian mereka (india-pakistan) akan sekuat tenaga untuk bisa menguasai wilayah khasmir. Motivasi yang seperti inilah yang terkadang sulit untuk bisa di fahami, pertahan nasional sebagai suatu jaminan kemerdekaan negara menjadi patokan yang khas dalam sengeketa antara india dan Pakistan.

Barang kali apabila india-pakistan siap untuk berdamai maka rakyat dikawasan Khasmir akan secara pelan-pelan merasa aman. Yang menjadi permasalahan yakni rakyat khasmir lah yang harus menanggung semua konsekuensi atas konflik tersebut. Padahal khasmir adalah wilayah yang diperebutkan, harsunya memang rakyat khasmir, india maupun Pakistan harus mendukung adanya referendum untuk kemerdekaan khasmir. Atau paling tidak mereka diberika pilihan ingin merdeka sendiri, bergabung dengan india atau Pakistan.

Selain itu harus ada niatan yang baik oleh kedua negara (India-Pakistan) untuk segera mengakhiri konflik yang berkepanjangan ini, karena konflik yang terus berjalan dan tanpa solusi ini menyebabkan ketidaktenangan warga khasmir tentunya hal ini sangat menggangu dan bisa dinggap pelanggaran HAM. Selama solusi ini belum final maka khasmir akan selamanya menjadi bulan-bulanan invasi India dan Pakistan.

Penulis adalah pengamat ahli Politik Internasional

LEAVE A REPLY