Kisah Perjuangan Sadina Aisha Menuju Festival Karya Tari Jawa Timur 2018

315
Foto : Sadina Aisha bersama tim divisi tari UKM Kesenian Unigoro, saat tampil menari.

Bengawanpost.com, Bojonegoo – Prestasi membanggakan ditorehkan oleh Sadina Aisha (19 th), mahasiswi Semester 4 Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Bojonegoro (Unigoo) tersebut berhasil menjadi juara Duta Penari Bojonegoro 2018.

Ia bersama dengan 10 orang lainnya terpilih menjadi duta tari dalam pemilihan Duta Penari Bojonegoro 2018 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, pada awal Februari lalu.

Gadis ayu asal Kecamatan Kota Bojonegoro tersebut juga berhasil lolos untuk mewakili Bojonegoro dalam Festival Karya Tari Jawa Timur 2018, yang akan dilaksanakan di Suarabaya pada April 2018 nanti.

Menjadi seorang penari merupakan pilihan hidup yang sudah dijalani oleh Sadina, semejak kecil ia sudah tertarik dengan dunia seni gerak tubuh berirama tersebut.

Meski mengaku tidak mengikuti kursus tari di sanggar, Sadina terus mengembangkan bakatnya menari dengan mengikuti kegiatan ekstra kulikuler sekolah sejak di bangku SD, SMP hingga SMA.

Untuk melatih gerakan tarinya, Ia banyak belajar dari melihat video YouTube dan rutin mewakili sekolahnya dalam kegiatan Porseni Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Dukungan dari kedua orangtua dinilainya menjadi motivasi yang membuatnya semakin mencintai kesenian tradisional tersebut, hingga akhirnya ia berhasil menjadi salah satu perwakilan Bojonegoro dalam Festival Karya Tari  di tingkat Jawa Timur.

“Saya bersyukur bisa mewakili Bojonegoro untuk Festival Karya Tari Jawa Timur, saat ini saya dan teman-teman setiap hari berlatih untuk mempersiapkan yang terbaik bagi kota tercinta,” ujar ketua divisi tari UKM Kesenian Unigoro tersebut, kepada Bengawanpost yang menemuinya, Kamis (08/03/2018).

Berkat kerja kerasnya, beberapa tari tradisional Bojonegoro seperti Tari Thengul, Tari Khayangan Api dan Tari Rondo Songo berhasil ia kuasai dengan baik.

Sadina menceritakan keberhasilannya menjadi duta penari tidak dilalui dengan mudah, ia bahkan sempat mendapat musibah saat melakukan gladi resik menjelang malam gran final yang dilaksanakan di Waduk Desa Bendo, Kecamatan Kapas beberapa waktu lalu.

“Pas gladi resik saya sempat jatuh dan tercebur ke waduk, tapi untungnya tidak terjadi apa – apa dan saya bisa melanjutkan hingga final,” kenangnya.

Kerja kerasnya akhirnya terbayar saat ia dinobatkan sebagai duta penari Bojonegoro dan menyisihkan belasan penari-penari lain yang berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bojonegoro.

Kecintaannya pada seni tari juga coba ia tularkan kepada teman-temannya di Divisi Tari UKM Kesenian Unigoro.

Meski belum banyak jumlah peminatnya, Sadina tetap berusaha untuk menghidupkan tari di hati para generasi muda.

“Menari adalah hal yang saya sukai, saya menemukan jati diri saya saat menari, saya berharap bisa berbagi ilmu kepada teman-teman di UKM Kesenian dan bisa belajar bersama-sama dengan mereka,” lanjutnya.

Saat ini, bungsu dari 3 bersaudara tersebut tengah fokus untuk melatih teknik menarinya sebagai persiapan mengikuti festival di Jawa Timur.

Sadina juga berharap kedepan ia bisa menjadi penari profesional dan dapat menjaga eksistensi seni tari tradisional di era digital seperti saat ini. *[Bp]

LEAVE A REPLY