Keren.. Unigoro Bekali Alumninya dengan Sertifikat International

483
Foto : Saat penandatangan MoU kerjasama antara Rektor Unigoro Slamet Kyswantoro dengan Indonesia Representatif Ednovation – International, Mega Candra, Jumat (23/12/16).

Bengawanpost.com, Bojonegoro – Bertempat di ruang Fakultas Hukum Universitas Bojonegoro (Unigoro), Jumat (23/12/16). Rektor Unigoro, Slamet Kyswantoro dengan Indonesia Representatif Ednovation – International, Mega Candra menandatangani MoU kerjasama pengembangan kurikulum dan sertifikasi Internasional.

MoU yang disaksikan Ketua Pusat Bahasa, Budaya dan Keberlanjutan (PUSAKA) Unigoro, Nina Megawati ini, diawali dengan pre tes toefl oleh 52 mahasiswa/wi Unigoro semester 5 dan 7, sebagai syarat mendapatkan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Yang mana setiap mahasiswa/wi minimal harus memiliki nilai toefl 450.

“Syarat kelulusan mahasiswa/wi Unigoro harus memiliki minimal nilai toefl 450, hal itu sebagai SKPI, selain transkrip nilai, sehingga Unigoro menjalin kerjasama ini. Yang mana salah satu kegiatannya menggelar kursus toefl setiap hari Selasa, Kamis dan Jum’at,” ujar Ketua PUSAKA Unigoro, Nina Megawati kepada media sebelum MoU.

Sementara itu, usai menandatangani MoU. Rektor Unigoro Slamet Kyswantoro dalam sambutannya berpesan tentang pentingnya kompetensi mahasiswa/wi Unigoro khususnya penguasaan bahasa bahasa Inggris. Agar alumni Unigoro dapat diterima lapangan tenaga kerja baik dalam maupun luar negeri.

“Saat ini perkembangan dunia tenaga kerja sangatlah dinamis. Oleh karenanya, semoga dengan kerjasama ini, dapat tingkatkan kemampuan mahasiswa/wi Unigoro, khususnya dalam penguasaan bahasa Inggris. Agar saat lulus nanti, mereka dapat bersaing di dunia tenaga kerja baik local maupun Internasional,” harap Rektor Slamet.

Hal senada, diungkapkan Indonesia Representatif Ednovation – International, Mega Candra. Menurutnya, skill / kemampuan teknis Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tidak kalah dengan Tenaga Kerja Asing (TKA). Namun karena TKA mempunyai sertifikat dan banyak yang kuasai bahasa asing, maka menyebabkan TKI kalah bersaing.

“Kelebihan dari TKA karena mereka bersertifikat, padahal dari segi kemampuan tekhnis TKI lebih mahir menguasai bidang kerjanya. Selain itu, TKA banyak yang kuasai bahasa setempat (Asing). Oleh karenanya, selain kerjasama dalam bidang bahasa asing ini, maka kedepan dilanjutkan kerjasama bidang ISO dan lainnya,” pungkasnya. *[Bp]

LEAVE A REPLY