Kabar Bata Merah dari Kesamben Timur Tuban

742
Foto : Ekonomi kreatif Bata merah di Desa Kesamben Timur, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban

Bengawanpost.com, Tuban – Bata merah/batu bata, adalah salah satu jenis bahan dasar pembangunan rumah yang sangat umum digunakan sejak dulu sampai sekarang di Indonesia. Hal itu cukup bisa dimaklumi, kenapa bata merah masih lebih banyak digunakan daripada bata ringan/batako press, karena selain nyaman dan adem, bata merah sudah teruji kekuatannya yang tahan api, serta mendapatkan jenis material ini pun tidak susah.

Namun seiring perkembangan zaman, pengerajin bata merah mengalami kemunduran. Seperti yang dialami para pengerajinnya di Desa Kesamben Timur, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban. Padahal dulu, warganya banyak yang menjadi pengerajin bata merah. Namun kini, tinggal beberapa pengerajin yang masih bertahan, Sedang yang lainnya, hanya bisa pasrah dan mencari pekerjaan lain untuk menghidupi keluarganya.

Menurut Marwi (56 Tahun), salah satu pengerajin bata merah dari desa kesamben timur yang masih bertahan sampai sekarang, “Dulunya banyak warga sini dapat membuat bata merah, namun kini sudah mengalami kemunduran, tak semaju jaman dulu lagi. Karena sekarang hampir semua pembangunan menggunakan batu kumbung/Batu kapur Putih dari Gunung atau bukit,” katanya kepada media di tempat usahanya, Senin (29/02/2016).

Lebih lanjut, Marwi menjelaskan alasan kenapa sekarang masyarakat lebih banyak membangun dengan menggunakan batu kumbung. Karena dengan Batu kumbung, katanya akan menghemat semen. Sedangkan membangun dengan bata merah akan banyak menggunakan semen, dengan begitu akan lebih menghemat dana dalam pembangunan.

“Orang bilang, membangun dengan batu kumbung menghemat semen. Itu realif, karena batu merah mempunyai keunggulan tersendiri. Namun karena harga antara bata merah dengan batu kumbung tidak terlampau jauh berbeda, mungkin ini yang menjadi penyebab bagi orang-orang yang membangun, lebih memilih batu kumbung sekarang ini mbak,” tambahnya.

Atas kondisi ini, menyebabkan banyak warga yang mengeluh, dan banyak warga memilih bekerja di pembakaran gamping dan bertani untuk menghidupi keluarganya. Sedang yang perempuan, kini banyak yang memilih menggembala kambing, maupun bekerja lainnya. Dampak ini juga dirasakan anak muda yang biasa bekerja sampingan menata bata merah, tapi kini mereka kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan sampingan di lingkungan sekitar.

Sementara itu, dengan banyak gunung/bukit di daerah Kabupaten Tuban yang dimanfaatkan untuk membuat batu kumbung, batu urukan dan bahan industri semen, sekarang kondisinya sudah mulai berkurang/bahkan habis. Hal ini, berdampak serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang, sebab gunung/bukit berserta pohon-pohonnya yang selama ini berfungsi sebagai penampung air saat hujan dan penahan longsor lingkungan sekitarnya.

Dengan kondisi ini, maka semua fihak harus memberikan perhatian serius secara bersama-sama, khususnya perhatian dari fihak Pemerintah Kabupaten Tuban, yakni dengan membuat kebijakan untuk memberikan solusi terbaik bagi semuanya. Diharapkan dengan kebijakan tersebut, maka masyarakatnya dapat memenuhi kebutuhan ekonominya, sambil tetap menjaga kelestarian lingkunganya. [St/Red]

LEAVE A REPLY