Inilah AMDAL Untuk Integrasi 9 Juta Barel Minyak Kedungkeris ke Banyuurip Blok Cepu

147
Foto : Kepala DLH Kabupaten Bojonegoro, Nurul Azizah, Rabu (09/05/2018).

Bengawanpost.com, Bojonegoro – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro, Nurul Azizah mengikuti sidang Addendum (Perubahan) Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup – Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RKL – RPL) untuk rencana integrasi pengembangan Migas Blok Cepu dari sumur minyak Kedung Keris (KDK) ke Lapangan Migas Banyu Urip.

Sidang yang bertempat di ruang Angling Dharma Pemkab Bojonegoro ini, dipimpin oleh Ary Sudijanto, selaku Ketua Tim Teknis Komisi Penilai AMDAL Pusat, sekaligus Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan Usaha dan Kegiatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, serta diikuti Operator Migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) selaku pemrakarsa, bersama para stakeholder terkait.

Kepala DLH Bojonegoro, Nurul Azizah menyampaikan, sidang addendum ini telah menyepakati beberapa hal diantaranya, membangun jaringan pipa baru sepanjang 16 KM, dengan besar pipa 8 inci. Yang mana sepanjang 14 KM pipa ditanam dilahan milik EMCL, dan 2 KM menggunakan tanah milik warga yang saat ini sedang tahap pembebasan.

“EMCL akan membangun jaringan pipa baru sepanjang 16 KM untuk mengalirkan minyak mentah dari sumur KDK di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, menuju pusat fasilitas pemerosesan (Central Processing Facility / CPF) Lapangan Banyu Urip di Kecamatan Gayam. Karenanya, diharapkan EMCL dalam pembebasan tanah milik warga memberikan harga yang layak dan menguntungkan warga,” harapnya, Rabu (09/05/2018).

Foto : Ary Sudijanto, selaku Ketua Tim Teknis Komisi Penilai AMDAL Pusat, sekaligus Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan Usaha dan Kegiatan, Kementerian LH dan Kehutanan RI, saat memimpin sidang Perubahan AMDAL dan RKL – RPL rencana integrasi sumur minyak Kedung Keris ke Lapangan Migas Banyu Urip Blok Cepu, Rabu (09/05/2018).

Ditambahkannya, jangan sampai masyarakat Bojonegoro hanya menjadi penonton. Oleh karenanya, sebagai bentuk komitmen atas integrasi sumur KDK ke lapangan Banyuurip disepakati juga ruang terbuka hijau dengan memperbanyak penanaman pohon di seluruh wilayah Kabupaten Bojonegoro. Sehingga hal itu dapat mengurangi dampak peningkatan suhu panas akibat eksplorasi migas di Kabupaten Bojonegoro.

Selain itu, lanjut Wanita yang ramah ini menyampaikan, EMCL diharuskan mendukung terkait isu – isu lingkungan hidup (Pertanian, Air, dan lainnya) di Bojonegoro, dan memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar termasuk melibatkan tenaga local dalam pelaksanaan eksplorasi migasnya. Hal tersebut bertujuan agar masyarakat Bojonegoro juga merasakan kesejahteraan dari hasil kekayaan migasnya.

“Jika lahan milik warga untuk pembangunan jaringan pipa baru sudah dibebaskan dan kesepakatan lainnya dijalankan, maka izin untuk eksplorasi sumur migas KDK yang mempunyai kandungan minyak sekitar 9 juta barrel akan diterbitkan,” tandas Nurul Azizah meyakinkan.

Foto : Peserta sidang Perubahan AMDAL dan RKL – RPL rencana integrasi sumur minyak Kedung Keris ke Lapangan Migas Banyu Urip Blok Cepu, Rabu (09/05/2018).

Sementara itu, EMCL menerima hasil kesepakatan sidang AMDAL tersebut. Menurut Vice President for Public and Government Affairs EMCL, Erwin Maryoto saat menghadiri sidang AMDAL ini menyampaikan, dalam perubahan AMDAL tersebut, KDK tidak lagi menjadi lapangan mandiri, melainkan berubah menjadi sumur yang terintegrasi dengan Lapangan Banyu Urip. Sehingga EMCL berharap izin untuk operasional KDK segera turun. Agar setelah lebaran, EMCL bisa mulai pekerjaannya.

“EMCL menerima hasil kesepakatan sidang AMDAL ini. Yang mana KDK inklud menjadi satu di Lapangan Banyu Urip, sehingga dengan perubahan status itu diikuti dengan perubahan desain dan pengelolaan lingkungan seperti fasilitas pengolahan, flare, dan injeksi dari Bengawan Solo di Desa Ngablak, tidak ada lagi. Karena itu, semoga izinnya cepat terbit dan setelah lebaran kita bisa mulai pekerjaannya,” ucap Erwin Maryoto.

Dijelaskannya pula, rencananya pipa yang ditanam sedalam kurang dari 1,5 meter di samping pipa 20 inci milik EMCL sepanjang 16 KM dari sumur KDK menuju CPF Banyu Urip akan dibangun PT. Maindo. Pipa tersebut melewati sejumlah desa di tiga Kecamatan. Yakni Desa Sukoharjo dan Leran, Kecamatan Kalitidu, Desa Wadang, Jampet, Jelu di Kecamatan Ngasem, dan Desa / Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro.

“Ada satu sumur minyak di KDK yang produksinya akan kami naikkan dari 5 ribu barel per hari (bph), menjadi 10 ribu bph. Dan minyak mentah dari KDK nantinya akan lebih dulu dialirkan ke CPF Banyu Urip di wilayah Kecamatan Gayam, untuk dipisahkan antara air dan gasnya sebelum dialirkan ke Floating Storage and Offloading (FSO) Gagak Rimang dilepas pantai Palang, Kabupaten Tuban,” pungkas Erwin Maryoto menjelaskan. *[Bp]

LEAVE A REPLY