Hari Kesaktian Pancasila, Kartika Hidayati Tegaskan ini

127
Foto : Wabup Lamongan, Hj. Kartika Hidayati bersama Jajaran Forpimda Lamongan, saat ikuti Upacara Hari Kesaktian Pancasila, Selasa (01/10/2019).
Foto : Wabup Lamongan, Hj. Kartika Hidayati bersama Jajaran Forpimda Lamongan, saat ikuti Upacara Hari Kesaktian Pancasila, Selasa (01/10/2019).

Bengawanpost.com, Lamongan – Wakil Bupati (Wabup) Lamongan, Hj. Kartika Hidayati mengikuti Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang dipimpin Bupati Lamongan, H. Fadeli, di Alun-Alun Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Selasa (01/10/2019).

Upacara yang diikuti juga oleh jajaran Forpimda Lamongan, OPD, TNI, Polri dan segenap masyarakat setempat ini, dibuka lagu Indonesia Raya lalu mengheningkan cipta, kemudian pembacaan naskah pembukaan UUD 1945 dan naskah Ikrar Pancasila.

Adapun Naskah Ikrar Pancasila tersebut berisi kebulatan tekad untuk tetap mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai sumber kekuatan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ikrar tersebut diawali dengan narasi bahwa sejak awal kemerdekaan telah terjadi rongrongan terhadap NKRI, baik dari dalam maupun luar negeri.

Wabup Lamongan, Hj. Kartika Hidayati menyampaikan, Upacara 1 Oktober yang mengandung makna hari perkabungan nasional atas pemberontakan G 30 S/PKI ini, merupakan wujud untuk membulatkan tekad dalam mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai kekuatan dan kebersamaan dalam memperjuangkan keutuhan serta kesatuan dan persatuan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

“Upacara ini adalah wahana untuk menanamkan keyakinan pada hadirin dan masyarakat, bahwa Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa dan dasar NKRI yang tidak boleh diubah oleh siapapun. Selain itu, Upacara ini sebagai wujud untuk mengenang dan menghormati para jasa pahlawan revolusi,” tegas Hj. Kartika Hidayati, usai upacara tersebut.

Foto : Bupati Lamongan, H. Fadeli, saat memimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila, Selasa (01/10/2019).

Sementara itu, Bupati Lamongan, H. Fadeli dalam sambutannya menyampaikan, bahwa 1 Oktober merupakan salah satu momentum ketika Pancasila berhasil diamankan dari ancaman ideologi Komunisme.

“Peristiwa itu, dikenal dengan sebutan G 30 S/PKI,” ujar Bupati Lamongan, H. Fadeli.

Pancasila, kata Bupati, merupakan salah satu ideologi yang tak tergantikan oleh ideologi apapun.

“Pancasila, merupakan fundamental bagi negara Indonesia,” tegas H. Fadeli.

Penting diketahui, bahwa penetapan hari ini pun terkait erat dengan peristiwa yang biasa disebut G30S (Gerakan 30 September). Saat itu berlangsung peristiwa pembunuhan terhadap sejumlah jenderal.  

Perwira yang tewas pada G30SPKI terdiri dari enam jenderal TNI AD dan satu perwira TNI AD, yakni Ahmad Yani, Raden Soeprapto, Mas Tirtodarmo Haryono, Siswondo Parman, Donald Isaac Panjaitan, Sutoyo Siswodiharjo, dan Pierre Andreas Tendean.

Foto : Suasana Upacara Hari Kesaktian Pancasila di Alun – Alun Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Selasa (01/10/2019).

Lalu, mengapa 1 Oktober bisa dikukuhkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila? Apa kaitannya dengan G30SPKI? Berikut ini, uraian mengenai cikal bakal terjadinya Hari Kesaktian Pancasila.

Pada peristiwa Gerakan 30 September 1965, enam jenderal dan satu perwira TNI AD menjadi korban. Sebelumnya para jenderal dan satu perwira TNI AD dibawa dan dimasukan kedalam sumur berdiameter 75 sentimeter, dengan kedalaman 12 meter. Sumur itu di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur. PKI menuduh para jenderal itu akan bertindak makar terhadap Soekarno melalui Dewan Jenderal.

Usai menculik dan menumpaskan enam jenderal dan satu perwira, pasukan Letkol Untung keesokan paginya berhasil mengambil alih Radio Republik Indonesia (RRI), dan menyebarkan propagandanya.

Akan tetapi, perampasan itu hanya terjadi selama kurang dari satu hari, lantaran Kostrad mampu merebut kembali RRI. Selanjutnya, jenazah Ahmad Yani, beserta enam orang lainnya diketemukan di Lubang Buaya.

Selama lima hari, pemberontakan berhasil diredam. Dibawah perintah Mayjen Soeharto, sisa-sisa pemberontak diburu ke seluruh penjuru, termasuk Aidit yang diduga otak Gerakan 30 September atau disingkat G30S.

Berkat segala perannya, dan karena telah gugur di medan perang, yaitu di Lubang Buaya, akhirnya 7 orang itu diberi kehormatan dengan menyandang gelar sebagai Pahlawan Revolusi.

Jasad para jenderal dan satu perwira pertama itu pun akhirnya berhasil ditemukan di sumur Lubang Buaya pada 3 Oktober 1965. Kemudian pemerintah orde baru menetapkan 30 September sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September. Sedangkan 1 Oktober sebagai hari kesaktian pancasila. Pancasila memiliki kesaktian yang tidak dapat tergantikan oleh paham apapun. *[Bp]

data bojonegoro

LEAVE A REPLY