H.Qosdus Sabil Sang Santri Nginthil

571
Foto : H. Qosdus Sabil, SP. M.Si.

Oleh : H. Qosdus Sabil, SP. M.Si.

Saat kecil saya sempat berkeinginan masuk Pondok Pesantren (Ponpes) Gontor Ponorogo. Bukan karena nama besarnya semata, tapi lebih karena saya begitu tertarik dengan kalender Ponpes Gontor dengan foto – foto atraksi drumband santri dan keikutsertaan Ponpes Gontor dalam berbagai Jambore Kepanduan Internasional.

Terlebih karena suatu hari, ada dua orang santri Ponpes Gontor asal Malaysia yang sowan ke rumah orang tua kami di Lamongan… Selanjutnya dalam benak saya, Gontor ini pasti “sesuatu” banget… Sehingga saya pun bertekad, pokoknya nanti begitu lulus Madrasah Ibtidaiyah saya pengen lanjut kesana…

Singkat cerita, lulus MI saya malah masuk SMP Negeri, walaupun sudah diterima tanpa test di MTsN favorit di kota Lamongan. Anehnya, tidak masuk pesantren formal, justru menjadikanku lekat seperti seorang santri tulen, dengan menjuarai berbagai lomba pidato hingga lomba baca Al-Quran.

Bahkan, di SMP itulah pertama kali saya khutbah Jum’at. Khutbah di dalam ruang perpustakaan sekolah yang setiap Jum’at tiba berubah fungsi untuk Jum’atan. Pak Moh. Yahya, Guru agama Islam saya di SMP kental bermadzhab Syafii, kelak di kemudian hari menjadi salah seorang Kyai NU.

Lanjut SMA 2 Lamongan, saya langsung bergabung menjadi anggota FPI… bahkan sebelum “FPI” didirikan oleh Habib Rizieq. Di Forum Pengkajian Islam itulah, saya mulai menjadi radikal dan Islami… Dari mengharamkan pacaran, ikut melawan kebijakan sekolah yang masih melarang jilbab, hingga aktif menyebarkan dialektika pemikiran dan gerakan Islam yang baru mulai mendapatkan perhatian rezim orba sesaat setelah ICMI berdiri.

Saya pun banyak berguru kepada para senior yang telah menjadi mahasiswa di UNAIR/ITS. terkadang kami agak berbohong denga minta izin kepada guru sekolah untuk ikut seminar tertentu, dengan maksud supaya dapat sangu, tetapi niat sebenarnya adalah agar setelahnya kami sekaligus dapat mengikuti berbagai kajian Islam di kampus…

Secara formal saya tidak pernah masuk pesantren. Saya banyak belajar dari Aba saya sendiri, KH. Oemar Hassan… Namun, Aba saya rupanya punya metode lain untuk saya. Selain menyimak kajian kitab/tafsir yang Beliau sampaikan di surau kami setiap ba’da Maghrib/Shubuh, Beliau sering mengajakku untuk “Nginthil” saat Beliau memberikan ceramah di Masjid/Musholla di berbagai pelosok kampung di kabupaten Lamongan. Bahkan terkadang hingga ke Bojonegoro, Tuban maupun Jombang…

Saya-pun dapat merasakan langsung situasi dimana aparat keamanan di daerah kadang masih berlaku represif terhadap muballigh… apalagi Aba kami pernah menerima vonis sebagai tahanan politik orba. Sementara, di Kota Surabaya Beliau justru bebas memberikan ceramah, bahkan rutin memberikan pengajian di Masjid Baitul Haq Kejati Jatim…

Selepas SMA, saya melanjutkan kuliah ke Kota Jember – Jawa Timur. Masuk Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember. Alhamdulillah, tradisi santri makin lekat dalam keseharian saya… Tinggal di asrama mahasiswa di lingkungan kampus, saya-pun sering mengenakan sarung terutama jika tiba waktu sholat.

Namun, kadang saya lupa masih memakai sarung saat ada keperluan resmi di kampus. sebagai aktivis kampus beberapa kali saya menemui Rektorat masih memakai sarung. Mungkin hal ini biasa saja, jika saya menjadi mahasiswa IAIN atau terjadi di Universitas Darul Ulum Jombang…😄

3 tahun di Jember, predikat santri nginthil kembali saya lakoni… berguru dan nginthil kepada KH. Baharuddin Rasyid dalam memberikan ceramah pengajian di PTPN-PTPN Nusantara di Jember, Lumajang, Bondowoso, Situbondo hingga Banyuwangi.

Suasana perkebunan yang masih feodal, membuat saya makin betah jadi santri nginthil. Tidak jarang, tangan saya ikut diciumi jamaah pengajian, mungkin dikira sama berkahnya dengan mencium tangan Pak Kyai.

Beberapa kali panitia penyambut salah hanya membukakan pintu mobil di sisi saya, dan tidak membukakan pintu buat Pak Kyai yang sesungguhnya…. Tetapi, bukan itu bagian yang saya suka…

Walaupun lokasi perkebunan PTPN berada di pedalaman hutan dan semak belukar, namun fasilitas kediaman ADM-nya setara hotel bintang lima, dimana jamuan makan malamnyapun pasti berkelas…

Sementara tuan rumah mempersilahkan Pak Kyai untuk dahar, justru seringkali Pak Kyai Bahar malah menyuruh saya untuk terlebih dahulu mencicipi dan menyantap hidangan yang telah disiapkan. Bukan hanya karena Beliau sudah mulai diet dengan menu makan malam (hidangan pesta), tetapi saya sangat yakin itu lebih karena Beliau memang sangat pengertian, sebab itulah saat perbaikan gizi buatku…. 😄

Nikmatnya Jadi santri nginthil…

Penulis : Mubaligh dan Tokoh Pemuda Asal Kabupaten Lamongan – Jawa Timur

data bojonegoro

LEAVE A REPLY