Cuaca “Nambhere’ Kembher” Bagi Masyarakat Madura

492
Foto : Arik Abd Muhyi

Oleh : Arik Abd Muhyi

Madura nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa. Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.250 km2, dengan penduduk sekitar 4 juta jiwa, dan mempu nyai 4 kabupaten yaitu Kabupaten Bangkalan , Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan dan  Kabupaten paling ujung timur pulau madura yaitu Kabupaten Sumenep.

Masyarakat Pulau madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan, juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja keras (abhantal omba’ asapo’ angen). Mungkin itulah bahasa penyemangat bagi orang madura. Tidak hanya itu banyak istilah bahasa-bahasa unik lainnya. Seperti istilah musim penghujan yang terjadi dua kali dalam setahun yang menjadi momok menakutkan bagi masyarakat madura.

Istilah “Nambhere’ & Nemor” istilah bahasa BMKGnya orang Madura. “Nemor” istilah bahasa ini diambil dari kata timur yang berarti Jika ada angin lemah dari arah utara atau timur kemungkinan akan terjadinya musim kemarau sedangkan “ Nambhere’ ” istilah bahasa ini diambli dara kata Barat yang berarti bila angin datangnya dari arah barat atau barat daya, kemungkinan akan masuk musim penghujan.

Pertanda arah cuaca ini yang menjadi acuan masyarakat madura khususnya petani untuk bercocok tanam, memproduksi produk andalannya. Tidak heran lagi jika masyarakat madura fasih memprediksi cuaca, mulai dari kapan datangnya musim hujan, kapan mulainya musim kemarau.

Tembakau dan Garam adalah produk yang produksinya mengandalkan cuaca. ambil contoh produksi garam. Lahan garam di waktu musim penghujan dialih fungsikan menjadi tambak budidaya ikan yang tidak seberapa besar penghasilannya ketimbang hasil garam. Sedangkan pada musim kemarau lahan garam difungsikan lagi untuk produksi garam. Pastinya, Karena produksi garam tergantung cerahnya cuaca.

Garam adalah komoditas terbesar membuat pulau madura tersohor dan terkenal dengan sebutan “Madura Tanah Garam” bagaimana tidak, 70% penyuplai garam terbesar di negeri ini dari Pulau Madura selain Impor. eeh!

Tidak hanya garam, Kualitas Tembakau pulau madura masih layak diperhitungkan oleh pabrik-pabrik besar penyuplai rokok di negeri ini. Namun pada saat tidak menentunya cuaca kebanyakan petani gagal panen dan harga jual tembakau tidak sesuai dengan modal yang dikeluarkan petani diwaktu menanam.

Musim penghujan di indonesia biasanya terjadi pada bulan Oktober sampai bulan April. Sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan Mei sampai Juni. Kenyataannya pada bulan mei sampai bulan juli curah hujan semakin meningkat terkhusus di bagian madura pesisir. Sehingga, ada istilah lagi dalam masyarakat madura dalam melihat cuaca yang tidak menentu ini. Yakni “Nambhere’ Kembher” (musim penghujan Kembar) musim penghujan yang terjadi duakali dalam satu tahun. itu artinya petani madura tidak bisa produksi garam ataupun tembakau dalam satu tahun.

Nambhere’ kember, kesempatan dalam kesempitan bagi para pengepul-pengepul atau pengusaha garam untuk menjual garam hasil dari menimbun satu tahun kemaren dengan harga yang sangat tinggi. Melihat kebutuhan garam nasional meningkat dan minimnya stok garam karena penimbunanserta tidak adanya Regulasi yang jelas dari Pemerintah. Mungkin itu yang namanya Musim Impor sedang berlangsung.

* Penulis adalah Mahasiswa Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Malang asal Kabupaten Sampang Jawa Timur

LEAVE A REPLY