Catatan Pengalaman Bupati KYLC Siska Dwi Indrawati

673
Foto : Bupati Sehari KYLC, Siska Dwi Indrawati saat tampil bersama Wabup KYLC, Nadia Syahda.

Oleh : Siska Dwi Indrawati

Kabupaten Bojonegoro merupakan kota kecil yang indah yang terletak di Propinsi Jawa Timur, kaya akan potensi dan sumber daya alam. Namun sayang, Bojonegoro jarang dikenal oleh masyarakat luar. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Pertama, karena sumber daya manusianya yang mayoritas belum mempunyai skill untuk mengolah dan memperkenalkan potensinya ke mata dunia.

Selanjutnya masalah yang Kedua dihadapi Bojonegoro yakni, Birokrasi pemerintahan yang kurang cakap mengatasi permasalahan daerah. Ketiga, Banjir dimusim penghujan dan kekeringan di musim kemarau merupakan bencana yang setiap tahun harus dialami masyarakatnya. Sehingga kemiskinan dan kekuranganlah yang menjadi nasib masyarakat, tangis dan kesedihanlah yang menghiasi wajah mereka.

Tapi jangan salah, problema itu sudah menjadi masa lalu Bojonegoro. Bojonegoro yang sekarang sudah dikenal dunia dengan sebutan Bojonegoro matoh. Potensi dan prestasinya sudah diakui dunia. Birokrasi pemerintahannya jauh lebih baik dengan Open Goverment Partnershipnya (OGP). Begitu juga masyarakatnya sehat, cerdas, produktif dan bahagia. Banjir dan kekeringan yang dulu bencana kini menjadi sahabat yang mendatangkan berkah, sehingga hanya terlihat senyum di wajah masyarakatnya.

Perkembangan Bojonegoro yang begitu pesat ini berawal sejak pasangan Drs. H. Suyoto, M.Si., dan Drs. H. Hartono menduduki jabatan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro periode 2008-2013 dan kedua kalinya periode 2013-2018. Kang Yoto dan Kang Hartono itulah sapaan akrab para pemimpin yang inspiratif, kreatif, dan inovatif dalam mewujudkan perubahan menuju kemajuan Bojonegoro.

Dengan gaya pemerintahan yang terbuka dan merakyat, telah membuat masyarakatnya bahagia dan hidup dengan penuh cinta, seakan batas antara pemerintah dengan rakyat telah sirna. Sehingga terjalin kepaduan ide untuk mewujudkan kesejahteraan. Menjadikan perbedaan sebagai anugerah yang harus dilestarikan dan dijaga. Memberikan pelayanan yang optimal dan memenuhi hak sebagaimana mestinya.

Sepenggal Perjalanan Hidup Bupati KYLC Siska

Kota kecil inilah tempat saya lahir, hari Ahad Kliwon, 4 Juli 1999. Tepatnya di Dukuh Sidokumpul, Desa Leran, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Saya menatap dunia untuk pertama kalinya setelah lahir dari rahim seorang ibu Kadarwati dan pertama kali pula mendengar adzan yang dikumandangkan oleh seorang pria sederhana Shobirin, ayah saya.

Siska Dwi Indrawati, itulah nama yang diberikan orang tua saya. Kata Dwi disitu menunjukkan bahwa saya adalah anak ke dua, kakak saya bernama Evib Kharisa Amarta. Inilah keluarga yang merawat, menjaga, dan mendidik saya dengan penuh kasih sayang dan cinta.

Usia enam tahun, saya mulai mengenyam pendidikan di tingkat sekolah dasar yaitu di SDN Leran II. Alhamdulillah saya lulus dengan nilai UN tertinggi. Selepas itu saya melanjutkan pendidikan tingkat SLTP ke MTs. Al-Yakin Pungpungan. Disini saya mulai penasaran dan mengikuti berberapa Organisasi yaitu OSIS dan Pramuka. Ini membuat saya mengasah keberanian dalam tampil dan menyampaikan gagasan kepada khalayak ramai seperti monolog, teater, pidato, orasi, dan MC.

Saya suka dan merasa gembira mengikuti organisasi, namun saya juga mempunyai pedoman bahwa saya  juga tidak boleh ketinggalan dalam prestasi bidang akademik.  Alhamdulillah, selama di MTs saya pernah mewakili dalam beberapa perlombaan dan lulus dengan Nilai UN tertinggi pula. Membuat orang tua dan orang-orang disekitarku tersenyum itulah kebahagianku.

Kini waktunya saya melanjutkan ke jenjang SLTA, sekolah yang menjadi pilihanku adalah MAN 1 Model Bojonegoro. Disini saya akan mendapat pengetahuan umum dan juga pengetahuan agama sekaligus ditambah lagi karena jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh saya tinggal di pondok pesantren Ihyaa’ussunnah. Dimasa aliyah ini saya semakin suka dengan organisasi, saya mendaftarkan diri menjadi pengurus OSIS. Alhamdulillah saya dipercaya menjabat selama dua kali periode. Pada periode kedua ini saya dipercaya untuk mengemban amanah menjadi ketua OSIS.

Dari sinilah saya mendapat lebih banyak pengalaman tentang organisasi, dan dari sini pula saya mengenal dan bergabung dengan organisasi diluar sekolah seperti Forum OSIS Bojonegoro, dan IPNU/IPPNU. Organisasi mengantarkan saya bertemu dengan orang-orang hebat, tentunya saya tak mau hanya sekedar bertemu kemudian berpisah tanpa ada bekas. Namun saya memanfaatkan setiap pertemuan itu dengan menyerap ilmu dan mempelajari perjalanan hidup mereka sehingga meraih kesuksesan.

Catatan Seleksi dan Terpilihnya Bupati – Wabup Sehari KYLC

Kamis, 17 Nopember 2016 saya dan Syahrul Hafid mendapat panggilan dari waka kesiswaan dan mendapat tugas mewakili madrasah kami dalam program KYLC “ Kang Yoto Leadership Challenge “ yaitu Bupati sehari. Saya tercengang sejenak mendengar penjelasan tentang program ini, karena belum pernah saya mendengar sebelumnya dan baru pertama program ini dilaksanakan.

Benar – benar gebrakan baru, yang sangat inovatif dan inspiratif dari pemerintahan Kang Yoto.  Sepanjang sejarah inilah yang pertama, memberikan edukasi secara langsung bagi para pelajar SLTA untuk mengenal dunia politik yang merupakan salah satu perwujudan dari OGP. Yakni memberikan kesempatan bagi para pelajar untuk merasakan susah senang menjadi orang nomor satu di Kabupaten Bojonegoro ini.

Senin, 21 Nopember 2016 seleksi bagi para calon Bupati sehari dilaksanakan di tiga wilayah secara serentak, yang merupakan tahap awal dari program KYLC. Ada wilayah timur tepatnya di SMAN 1 Sumberejo, wilayah tengah berada di SMA Negeri 1 Bojonegoro, dan wilayah barat berada di SMA Negeri 1 Padangan, di wilayah tengahlah saya mengikuti seleksi KYLC. Dari dua puluh empat sekolah terdapat dua puluh empat pasangan ketua OSIS dan dan sekretarisnya yang hadir pada bagian wilayah tengah.

Saya dan 20 Ketua OSIS lainnya siap mencalonkan diri sebagai Bupati Sehari, dengan cara berorasilah tahap seleksi ini. Saya dapat nomor urut tampilan ketiga pada waktu itu, rasa deg-degan pastilah ada namun saya yakin saya bisa. Saya selalu berdo’a kepada Allah, semoga saya bisa melakukan yang terbaik sebagai wujud pengabdianku akan amanah ini, dan semoga yang berusaha dengan keraslah yang menjadi juara.

Tema dari orasinya adalah “Impian Bojonegoro di Masa Depan” dan saya menuangkan gambaran Bojonegoro di masa depan itu sebagai kota yang Birokrasi Pemerintahannya Matoh, Rakyatnya Makmur, dan Prestasinya Moncer. Mengapa saya mengambil konsep ini karena saya berfikir bahwa Bojonegoro pada posisi yang sekarang ini sudah mengalami kemajuan yang begitu pesat, dan jangan sampai ini berhenti disini.

Kita sebagai generasi muda harus mempertahankan dan terus kembangkan, sehingga tercapai kemakmuran rakyat yang menyeluruh dan berkelanjutan serta terkenal di seluruh belahan dunia karena prestasinya. Alhamdulillah saya diberi kelancaran dalam menyampaikannya. Kelancaran ini juga tak lepas dari bimbingan Bapak Roli Abdul Rokhman sebagai pembina saya dan do’a dari kedua orang tua, bapak ibu guru dan teman-teman semuanya. sayapun merasa sangat lega setelah tampil.

Selama penampilan dari peserta pertama hingga akhir suasana sportif, saling menghargai, saling menghormati, dan saling memberi apresiasi dari seluruh peserta terasa begitu kental. Jiwa seperti inilah yang akan membawa Indonesia sejahtera khususnya Bojonegoro. Kebersamaan, kesatuan, saling membantu, dan saling membahu antar masyarakat semoga selalu terjalin untuk menyongsong Bojonegoro makmur di masa mendatang, Amin…

Kini tiba saatnya pemungutan suara, rasa deg-degan datang lagi. Setelah saya berusaha, maka ini saatnya saya pasrahkan kepada Allah, siapapun yang berhasil maka itulah yang pantas dan telah berusaha dengan keras. Semua peserta telah gunakan hak pilihnya dan tibalah saat penghitungan suara. Tiigaa… angka pertama yang keluar membuat tubuhku bergetar bagaikan pemilihan bupati sungguhan.

Angka 3 juga muncul sebagai suara terakhir dan penghitungan suara telah usai. Syukur alhamdulillah nomor urut 3 ini mendapat suara terbanyak, karena usaha yang keras, bimbingan, dukungan, dan do’a yang ikhlas akhirnya memberikan buah yang manis. Suara terbanyak sudah diperoleh namun terdapat 2 suara terbanyak kedua, dan harus dilakukan pemungutan suara putaran kedua, untuk menentukan Wakil Bupati Sehari. Akhirnya Nadya Syahada Faradillah, dari SMA Plus Al-Fatiamah mendapat suara lebih unggul para putaran kedua ini dan secara otomatis menjadi Wakil Bupati sehari.

“Bupati Sehari Siska Dwi Indrawati dan Wakil Bupati Sehari Nadya Syahada Faradillah” inilah hasil seleksi dari program KYLC diwilayah tengah. Sungguh hari yang membahagiakan bagi saya dan Nadya, pada hari itu juga terpilih pasangan Bupati dan Wakil Bupati Sehari dari Wilayah Barat dan Timur. Pasangan terpilih inilah yang akan melaksanakan tugas sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro selama sehari pada hari Jum’at secara bergiliran, namun entah wilayah mana yang pertama kita tidak tahu.

Senyum dan kegembiraan mewarnai perjalanan saya dan Hafid, bersama Bapak Roli kembali ke Madrasah tercinta. Sesampainya di madrasah keberhasilan inilah sebagai buah tangan yang kami hadiahkan kepada seluruh warga MAN 1 Bojonegoro. Keberhasilan ini disampaikan melalui pengeras suara sehingga seluruh warga tahu dan ikut gembira. Melihat semua orang tersenyum bangga akan yang kami usahakan itu merupakan kebahagiaan terbesar bagi kami.

Saya sudah lolos tahap seleksi dan telah menggugurkan 21 calon yang lain pada hari itu, dan saya harus berusaha lebih memahami problema-problema yang sedang dihadapi Bojonegoro karena saya akan menjadi orang nomor satu di Bojonegoro dan menjalankan roda kepemimpinan selama sehari. Sulit dipercaya namun inilah kenyataannya. Rabu, 23 Nopember 2016 para Bupati dan Wakil Bupati sehari beserta pengamat mengikuti breefing dari pemerintah kabupaten.

Sebelum meluncur ke Pemkab kami beserta pembina berkumpul di gedung Dinas Pendidikan terlebih dahulu untuk menerima arahan sambil menunggu kelengkapan peserta. Kami disambut hangat oleh Kepala Dinas yaitu Bapak Hanafi dan staf yang lain juga. Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB dan peserta sudah lengkap, kami langsung menuju ke pendopo malowopati pemkab Bojonegoro.

Sampai disana kita diberikan arahan langsung meliputi apa saja yang akan kita lakukan dan bagaimana teknis pelaksanaan program ini, dan pemberitahuan kapan giliran masing-masing wilayah untuk beraksi oleh beberapa protokoler pemkab.  Sebuah kehormatan wilayah tengah mendapat giliran pertama dan itu dilaksanakan pada hari Jum’at, 25 Nopember 2016.

Saya dan Nadya tidak menyangka sebelumnya, namun kami harus selalu siap kapanpun giliran kami dan harus yakin kalau kami tidak akan mengecewakan orang-orang yang telah mendukung kami. Selain mendapat arahan materi, kami juga di ajak untuk berkenalan dengan ruangan-ruangan yang akan kami tempati dan kendaraan yang akan mengantar kemana saja kami sehari besok.

Mendengar arahan dan wilayah tengah mendapat kesempatan pertama Bapak Pembina langsung berkoordinasi dengan Madrasah untuk menyiapkan segala keperluannya mulai dari seragam yang akan dikenakan, sambutan penjemputan dan yang lainnya. Disamping itu kesiapan lahir dan batin sayalah menjadi prioritas utama yang harus dilatih lagi. Kamis, 24 Nopember 2016 ini satu-satunya kesempatan saya untuk menyiapkan segalanya didampingi dengan pembina.

Ternyata tidak hanya saya yang sibuk bersiap, bapak ibu guru dan teman-teman juga turut menyiapkan konsep penyambutan besok dan orang tuaku menyiapkan baju yang akan aku kenakan. Mendengar sorak sorai yel-yel berkumandang saya merasa terharu, karena semua yang mereka lakukan adalah untuk mendukung kelancaran perjalanan saya besok. Ini menjadi cambuk bagi saya untuk terus berusaha keras dan bertekad memberikan yang terbaik. Jangan sampai apa yang telah dilakukan ini sia-sia.

Catatan Perjalanan Tugas Bupati – Wabup Sehari KYLC

Fajar mulai menyingsing, mentari sebentar lagi menampakkan diri dan hari bersejarah ini aka segera dimulai, sayapun bersiap-siap. Safari batik, dan span hitam siap saya kenakan. Bersama pembina saya berangkat menuju ke sekolah, kali ini bukan untuk duduk di kelas dan mengikuti pelajaran namun  duduk di kursi Bupati dan menjalankan tugas-tugasnya. Seluruh warga sekolah sudah memenuhi lapangan, membentuk formasi, dan bersorak sorai melantunkan yel-yel sebagai pelepasan Bupati sehari yang akan bertugas.

Sebelum berangkat ditemani pembina, kepala Madrasah, dan utusan dari dinas pendidikan sejenak saya menyapa dan memohon do’a restu kepada bapak ibu guru dan teman-teman supaya di beri kelancaran dan kemudahan dalam kegiatan ini oleh Allah SWT. Tepat pukul 07.00 WIB mobil dinas Bupati berplat S 1 A diiringi dengan pengawalan lengkap tiba dihalaman madrasah.

Ajudan dan protokoler menghampiri dan memberi hormat kepada saya selayaknya Bupati yang sesungguhnya. Suasana haru, sorak sorai dan gagap gempita bercampur menjadi satu mengiringi setiap langkahku. Air mata bahagia berlinang membasahi pipi setiap orang, apapun itu pastilah do’a yang tulus dan harapan besar untuk kesuksesanku. Sekarang saya bukan siswi MAN 1 lagi, saya adalah seorang Bupati yang siap bertugas.

Selama perjalanan menuju gedung pemkab saya berbincang sejenak untuk menanyakan agenda apa saja yang akan saya lakukan hari ini. Selama bertugas saya di temani oleh seorang ajudan Bupati yang amat sopan tingkahnya dan santun tutur katanya tidak lain adalah Mas Sigit.

Agenda pertama saya adalah berada di ruang kerja Bupati dan kegiatan yang saya lakukan adalah  mendesposisi surat-surat yang masuk didampingi oleh sekretaris pribadi Bupati. Menerima tamu dari utusan Dinas Pendidikan dan menerima laporan tentang pengadaan wisata alam.  Pagi ini beberapa surat dengan perihal yang berbeda-beda pula, mulai dari kasus kriminal, pengajuan program, pengajuan dana untuk korban bencana, dan undangan.

Dari sini saya menjadi tahu dan berpikir bahwa seorang Bupati harus selalu membuka telinga untuk mendengar panggilan rakyat, harus selalu membuka mata untuk melihat keadaan rakyat, harus selalu mau memahami apa yang dirasakan rakyat, yang paling penting mampu memberikan solusi dengan sekecil mungkin kerugiannya untuk semua unsur di daerah dan menyusun skala prioritas yang tepat. Menggerakkan pemerintah untuk memprioritaskan melayani masyarakat dengan pelayanan terbaik.

Pekerjaan di ruang kerja telah selesai, agenda selanjutnya adalah Review menejemen yang bertempat di rumah dinas Bupati. Review manajemen ini didikuti oleh para Kepala SKPD, Camat dari beberapa kecamatan, dan pejabat-pejabat lainnya. Bapak Setyo Yuliono yang lebih akrab disapa Pak Nanang merupakan asisten 1 Bupati Bojonegoro bertindak sebagai moderator pada pagi itu.

Dalam review manajemen ini akan dipaparkan program, kinerja, kendala, dan solusi dari berbagai bidang oleh masing-masing SKPD ataupun Camat yang bersangkutan. Saya dan Nadya hanya mengikuti  sampai pada paparan keempat saja karena kami harus melakukan sidak ke beberapa tempat untuk memeriksa pelaksanaan pembangunan.

Paparan yang pertama oleh dinas Pertanian yang fokus pada pembahasan kelangkaan pupuk bersubsidi di Bojonegoro karena hanya ada sekian stoke dari pemerintah provinsi. Hal itu membuat resah para petani apalagi sekarang adalan masa tanam padi. Menanggapi hal itu rekan saya Nadya Shahada Faradillah memberikan saran dan arahan bahwasanya pemerintah dan para petani Bojonegoro harus lebih mandiri, dengan membuat pupuk organik sendiri. Itu untuk mengantisipasi kalau terjadi kasus semacam ini sehingga kita tidak hanya bergantung kepada pemerintah provinsi lagi.

Dilanjutkan paparan yang kedua disampaikan oleh Camat Kalitidu, pemaparannya begitu kompleks dan mencakup berbagai bidang. Dalam bidang kesehatan, yaitu jumlah kematian ibu meningkat disebabkan mempertahankan kehamilan pada saat ibu sedang menderita penyakit komplikasi dan beberapa penyakit lainnya. Beralih ke bidang wisata, Program wisata naik perahu sambil memetik buah belimbing yang ada di desa Mojo sudah mulai beroperasi namun fasilitas perahu masih minim.

Kemudian keberadaan dua gereja tertua di Bojonegoro yang berdampingan dengan mushola dan masjid, tepatnya terletak di dusun Kwangenrejo, desa Leran. Penduduk dilingkungan itu mayoritas juga beragama nasrani dan rukun hidup berdampingan  dengan umat islam. Inilah salah satu perwujudan dari penghargaan sebagai Kota Ramah HAM yang disandang Bojonegoro.

Dari pemaparan itu saya ungkapkan apa yang saya pikirkan, diantaranya menyarankan bahwa kita bisa memberikan pelatihan pada siswa SMK di Bojonegoro untuk membuat perahu wisata. Mereka telah disiapkan dalam bidangnya mengapa tidak kita memberikan kesempatan kepada mereka berkarya untuk Bojonegoro, kemudian saya menyarankan pula kepada SKPD untuk survei secara langsung ke lokasi tersebut.

Kepala Dinas perijinan memaparkan program barunya yaitu pelayanan secara on-line dan mengemukakan perbedaannya dengan pelayanan manual. Dilain itu digambarkan pula bagaimana pelayanan di gedung yang baru nampak lebih efektif dan nyaman bagi masyarakat. Dari Pihak kominfo kemudian memaparkan beberapa prestasi yang di usung Bojonegoro dalam berbagai ajang. Salah satunya adalah penghargaan Top IT.

Saya dan Nadya diberikan kesempatan untuk menanggapi dan memberikan arahan dari pemaparan tersebut. Saya ungkapkan bahwa program yang dijalankan sudah cukup bagus, namun harus lebih selektif dalam memberikan perijinan. Mengarahkan kepada investor baik lokal maupun asing agar memilih lahan yang tidak produktif dalam mendirikan perusahaan.

Bagaimanapun prinsip kita adalah pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat, jadi dalam pembangunan Bojonegoro jangan sampai ada pihak atau masyarakat yang terganggu  dan dirugikan. Selanjutnya dengan adanya penghargaan Top IT ini supaya dijadian cambuk bagi kita untuk menciptakan progam pelacak yang bisa mengetahui apa saja yang di unduh pengguna internet di wilayah Bojonegoro dan akan terwujud jaringan internet sehat. Semua harapan ini yakin akan kita raih kalau kita mau berusaha keras dan memadukan pikiran untuk kemajuan Bojonegoro.

Jam dinding menunjukkan pukul 10.00 WIB, waktunya kami meninggalkan forum Review manajemen dan segera meluncur untuk sidak di beberapa tempat. Tujuan pertama adalah rumah sakit umum yang berada di jalan Dr. Wahidin. Bangunan yang sudah tua dan sempit terasa amat pengap, sedangkan pasien selalu padat dan datang silih berganti setiap saat.

Ditemani Bapak Kepala Rumah sakit saya dan rombongan Bupati sehari keliling untuk melihat suasana dan Kondisi disini. Sungguh memprihatinkan, kemudian saya berbincang sejenak dengan Ibu yang mengidap penyakit gagal ginjal dan sedang melakukan cuci darah. Beliau merasa sangat terbantu karena sekarang RS. Umum Bojonegoro sudah memiliki alat cuci darah sendiri.

Beliau mengatakan bahwa sebelumnya harus jauh ke Surabaya untuk melakukan cuci darah, namun sekarang tidak perlu lagi dan cukup di Bojonegoro. Melihat semangat dan perjuangan para pasien melawan penyakitnya kita harus memberikan pelayanan yang maksimal untuk mereka. Sebab itu di garap pembangunan RS di Jalan Veteran.

Pemandangan yang berbeda saya temukan ketika melihat langsung pembangunan RS. Dr. Sosodoro Hadikoesoemo yang berada di Jalan Veteran. Waw.. pembangunan yang sempat terbengkalai berkat kegigihan dan tekat kuat pemerintahan Kang Yoto dan Kang Hartono sebentar lagi akhirnya bisa dimanfaatkan masyarakat. Kemegahan bangunan yang terdiri dari 300 kamar dilengkapi dengan fasilitas yang lebih memadai wujud kemajuan pembangunan dan baiknya pengelolaan anggaran daerah.

Tentunya harus didiringi dengan pelayanan yang maksimal terhadap masyarakat. Ternyata Rumah Sakit ini memang didesain sesuai standart Internasional. Semoga semua ini bermanfaat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam bidang pelayanan kesehatan sesuai dengan harapan Bojonegoro.

Kami lanjutkan sidak pelaksanaan program pembangunan jembatan Trucuk. Diharapkan program pembangunan jembatan ini akan mempermudah masyarakat di desa dalam beraktivitas dan mengakses kebutuhan yang ada di kota, begitulah penjelasan dari Mas Sigit  dalam perjalanan ke lokasi. Sesampainya di lokasi pembangunan saya dan Nadya berdialog sejenak seputar pembangunan dengan Kontraktornya. Ini usaha pemerintah memberantas keterbelakangan bagi masyarakat desa.

Setengah hari sudah terlewati dan berjalan lancar tanpa satu kendala apapun. Saya dan rombongan kembali ke pemkab untuk menunaikan sholat jum’at bagi yang mejalankan dan beristirahat sejenak. Saya dan Nadya melepas lelah sambil berdiskusi mempersiapkan diri dan ide pada dialog publik usai makan siang nanti. Sesaat kemudiaan tibalah kedua orang tua saya dan Nadya, Ibuku kemudian memelukku dengan erat sambil meneteskan air mata haru. Ibu tidak menyangka akan apa yang terjadi pada hari ini, apa yang saya impikan terwujud meskipun hanya sehari.

Ini semua juga karena do’a Ibu yang selalu dipanjatkan untukku usai bersujud. Air mata ini tak terbendung lagi dan akhirnya menetes. Hal yang tak terfikirkan sebelumnya, namun saya percaya tidak ada yang mustahil didunia ini. Ruangan yang luas dan megah yang berada di lantai tujuh gedung pemkab yang baru hari ini adalah milik saya dan harus saya nikmati. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya jabatan ini bukanlah sesuatu yang sakral dan siapa saja bisa menduduki jabatan ini. “Desakralisasi” memang itu tujuan Kang Yoto mencetuskan Program ini.

Suasana makan siang dirumah dinas terasa begitu santai, tercermin pemerintahan yang begitu merakyat. Siapa saja yang datang pada hari itu dari seluruh lapisan masyarakat baik yang berpangkat ataupun tidak akan disambut dan disilahkan makan dengan menu khas Bojonegoro bersama Bupati Wakil Bupati dan pejabat yang lain . Semua bisa berdiskusi dan berbincang dengan santa mengenai berbagai persoalan.

Pada hari itu saya dan Nadya adalah tuan rumahnya, usai makan siang kami mendapat kesempatan untuk berdialog santai dengan Bapak Wakil Bupati yang sesungguhnya yaitu Bapak Hartono dengan ditemani secangkir minuan hangat. Beliau dengan ramah dan senyum menjawab pertanyaan yang kami lontarkan dan memberikan kami motivasi untuk terus berkarya.

Beliau begitu terbuka mengenai persoalan pemerintahan kepada kami dan itu menjadi pelajaran yang berharga bagi kami bahwa jabatan tidaklah menjadikan kita berkuasa dan semena-mena. Sebaliknya dengan jabatan inilah kita bisa berperan mencurahkan segala tenaga dan fikiran untuk menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat. Mendapat kepercayaan dari rakyatnya adalah penghargaan terbesar bagi para pemimpin dan itu harus dijaga, dipertahankan jangan sampai hilang. Sebelum kami hadir pada dialog publik kami dipertemukan dengan ibu Mahfudhoh Istrinya Kang Yoto.

Dialog publik sudah dimulai, ini waktunya kami tampil sebagai Bupati dan Wabup sehari dihadapan masyarakat. Mendengarkan aspirasi-aspirasi yang disampaikan rakyat sebagaimana yang dilakukan Kang Yoto dan Kang Hartono. Orang tua, Bapak dan Ibu guru, Saudara, dan teman-teman saya hadir menyaksikan saya sebagai Bupati sehari. Itu merupakan spirit bagi saya untuk menampilkan yang terbaik dan tidak ada alasan bagi saya mengecewakan mereka.

Sampai detik ini masih tidak percaya, ini mimpi ataukah kenyataan saya berada disini. Biasanya kami hanya siswi biasa tapi sekarang mejadi sorotan semua orang. Lalu kami menyampaikan gagasan-gagasan untuk Bojonegoro yang disaksikan seluruh hadirin dan didengarkan seluruh masyarakat Bojonegoro lewat radio Malowopati FM. Sorak sorai dan tepuk tangan menjadi semangat bagi kami untuk menampilkan yang terbaik. Saya berusaha untuk tetap tenang menanggapi berbagai aspirasi dari masyarakat dan memposisikan diri dan menata mental  sebagai Bupati sungguhan.

Gemuruh tepuk tangan menyambut kedatangan Kang Yoto beserta Ibu dan beberapa tamu. Sosok yang penuh inspiratif ini sangat dicintai oleh rakyat, dan siapapun yang menatap beliau akan merasakan ketentraman hati dan bahagia. Beliau kemudian memberikan petuah kepada segenap hadirin dan pendengar yang ada diseluruh Bojonegoro dengan gaya santai namun tegas dan meyakinkan khas beliau.

Ditengah sambutan beliau meminta orangtua dari Bupati dan wakil Bupati KYLC untuk menyampaikan perasaan melihat anak-anaknya berada ada posisi sekarang ini. Ketika Ayah melangkahkan kaki menuju podium dan memegang mikrofon sontak air mata ini mengalir begitu derasnya, karena saya tidak pernah melihat ayah saya berargumen dihadapan publik. Namun hari ini beliau melakukan itu untuk saya.

Saya sangat terharu dan menyadari bahwa orang tua akan melakukan apapun selagi mampu untuk anak-anaknya. Ayahku menyampaikan kesan dengan kata-kata sederhana, berterima kasih, dan penuh harapan semoga saya bisa terus mengukir prestasi dan membuat semua orang bangga.

Dialog publik ini kemudian diakhiri dengan penyerahan piagam penghargaan kepada Bupati dan Wakil Bupati serta KYLC para pengamat tak lupa diirngi dengan foto bersama Kang Yoto, Bu Yoto dan para pejabat lainnya. Dipenghujung acara ini juga banyak media yang melakukan wawancara kepada kami dan orang tua kami juga. Saya beserta kedua orang tua dan Nadya beserta kedua orang tua diberikan penghormatan terakhir hari ini dengan di antarkan kerumah kita masing-masing.

Kesan Pesan dan Harapan Bupati Sehari KYLC Siska

Jalan yang bergelombang dan begitu terpencil itulah kondisi tempat tinggal saya. Hujan deras, angin kencang dan petir mengiringi perjalan kami. Beberapa meter lagi sampai di rumah tinggal saya namun ada pohon tumbang yang menghadang dan menghalangi mobil untuk melaju. Dari sisni saya melihat pengabdian para ajudan dan protokoler daerah kepada pemimpinnya. Tak peduli hujan mengguyur dan rintangan menghadang, para ajudan itu turun dan dengan segenap tenaga menggeser pohon-pohon itu.

Semua agenda telah usai saya laksanakan dengan usaha yang maksimal hari ini, dan saya berterima kasih sekali kepada banyak pihak atas segala apresiasi dan perhatiannya. Terutama Bapak H. Roli Abdul Rokhman yang telah membimbing saya dengan segala totalitas. Saya terus mengingat pesan-pesan beliau selama saya menjalani kegiatan hari itu, sehingga dapat saya raih keberhasilan yang sedemikian ini.

Pengalaman hari ini tidak akan pernah saya lupakan dan akan menjadi sejarah yang selalu saya kenang sepanjang hidup saya. Begitu banyak nilai- nilai yang saya ambil dari sini, saya belajar banyak bagaimana politik yang baik itu dan dengan ini saya bisa meluruskan anggapan orang-orang yang menganggap politik itu buruk, justru politik adalah kebutuhan kita dan tanpa politik negara ini tidak akan tangguh hingga saat ini.

Bagaimana cara menjadi pemimpin yang mengayomi rakyatnya, dicintai rakyatnya, dan sangat memperhatikan totalitas pembangunan untuk rakyatnya, disinilah saya dapatkan semua itu. Melalui ini pula saya tidak menyangka akan membuat banyak orang terharu dan bangga.

Puji syukur kepada Allah SWT, ini adalah anugerah dari Sang Pencipta yang harus saya syukuri dan semoga membuat saya menjadi manusia yang lebih beriman dan bertaqwa. Semua yang saya alami hari ini mengajarkan saya bahwa kekurangan bukanlah hambatan bagi saya untuk terus mengejar mimpi, berkarya, berguna bagi agama, nusa, bangsa, dan dikenal dunia.

Sekali lagi Ingin saya sampaikan kepada teman-teman yang ada deseluruh pelosok Bojonegoro dan negeri ini, keterbatasan bukanlah hambatan bagi kita untuk mencapai mimpi asalkan ada niat, ikhtiar, perjuangan, keyakinan, optimis, dan do’a yang selalu kita panjatkan. Ingatlah bahwa sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya .

Hanya terima kasih yang bisa saya ungkapkan untuk Kang Yoto dan seluruh pejabat pemkab Bojonegoro atas program yang begitu inspiratif ini. Semoga akan terus tercipta Bupati wakil bupati KYLC dimasa mendatang dari berbagai kalangan. Semoga ini adalah gerbang dan langkah awal bagi masyarakat Bojonegoro pada umumnya dan diri saya sendiri pada khususnya untuk menciptakan perubahan bagi negeri tercinta kita Indonesia dan daerah kita tercinta Bojonegoro.

Penulis Adalah : Bupati Sehari KYLC 2016, Siska Dwi Indrawati dari MAN 1 Model Bojonegoro, Jawa Timur

LEAVE A REPLY