Bojonegoro Kembangkan Tenun Ikat Khas Jonegoroan

683
Foto : Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di Rumah produksi kriya kain tenun ikat khas Jonegoroan milik Muhamad Alim warga Desa Kedungrejo, Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Bengawanpost.com, Bojonegoro – Kriya kain tenun merupakan salah satu kekayaan kebudayaan masyarakat Indonesia. Adapun daerah – daerah yang sudah terkenal dengan teknik kain tenun ikat di antaranya : Toraja, Sintang, Jepara, Kediri, Lamongan, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor dan daerah lainnya.

Berangkat dari hal ini, Muhamad Alim warga Desa Kedungrejo, Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Bojonegoro yang menekuni tenun sejak tahun 2010, ketika bekerja 2 tahun pada pabrik tenun di Kabupaten Kediri, lalu berpindah ke Kabupaten Lamongan, Jatim. Maka akhirnya tahun 2012 dirinya mengembangkan tenun ikat di Bojonegoro.

“Atas kebaikan dan kepercayaan pemilik pabrik tenun di Lamongan, pada tahun 2012 saya mendapatkan tiga buah Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) secara percuma, untuk membuat tenun di Desa Kedungrejo, Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Bojonegoro,” ujar laki – laki umur 37 tahun kepada media dirumahnya, Sabtu (10/12/2016).

Selain itu, keinginan suami Ilil Maefia ini tak berhenti begitu saja, setelah mendapatkan ATBM 3 unit. Dirinya mulai mengajak warga disekitarnya, khususnya kaum ibu dan remaja putri untuk menekuni usaha tenun. Karena hasil tenunnya memuaskan, maka dia mendapatkan bantuan lagi 2 ATBM.

“Kini saya memiliki sejumlah 7 unit alat tenun, diantaranya 2 unit tenun kain batik dan 5 merupakan alat tenun sarung. Bahkan sejak 27 Oktober 2014 saya mulai digandeng Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bojonegoro, untuk mengembangkan tenun khas Jonegoroan yang mengadopsi 14 motif batik khas Jonegoroan,” ungkapnya.

Lebih lanjut Alim menjelaskan, bahwa saat ini dirinya memiliki 5 pekerja yang menggarap sarung tenun dan kain tenun khas jonegoroan, karena saat ini memang mulai menggeluti tenun batik jonegoroan. Bahkan dirinya menceritakan dari 120 kain tenun yang dibuatnya kemarin, habis terjual di acara launching tenun Jonegoroan.

“Dalam minggu-minggu ini saya akan mulai menggarap tenun khas Jonegoroan, hanya saja saat ini alat tenunnya memerlukan sedikit perbaikan. Sebab sedikit mengalami goncangan dan beberapa benang putus saat dibawa kemarin di acara launching tenun Jonegoroan oleh Ketua TP PKK Bojonegoro, Hj. Mahfudhoh Suyoto,” jelas Alim.

Selanjutnya Alim menuturkan harga tenun ini relatif lebih mahal dibandingkan batik, karena tingkat kerumitan pembuatan tenun. Menurutnya pembuatan diawali dengan tahapan pertama Gubin atau  memintal benang putih menjadi gulungan kecil. Kemudian tahapan mlangkang atau membuat pola, yang digambar sesuai pola yang diinginkan.

Setelah itu, benang diikat dengan rafia dan kemudian dilepas dan tahapan selanjutnya adalah pewarnaan. Baru kemudian benang akan disusun  dalam  2.970 gun atau jarum. Alim juga memaparkan tahapan memasukkan benang kedalam Gun, yang memang harus ekstra hati hati, jika salah satu gun saja maka berpengaruh pada hasil tenun.

“Dari proses pembuatan, maka harga tenun lebih mahal. Karena dalam 1 minggu hanya menghasilkan 20 buah sarung dari 5 alat tenun. Sedang untuk kain tenun 1 hari hanya 1 potong kain. Sehingga untuk sarung saja dijual Rp.150.000 – Rp.250.000. Sedangkan kain tenun Rp.170.000 untuk ukuran 105 cm x 225 cm,” tuturnya.

Untuk itu Alim sangat berharap, kedepan tenun ikat khas Jonegoroan akan sama berjayanya dengan 14 motif batik Jonegoroan. Yang mana Batik tersebut sedemikian dikenal, bahkan anak-anak sekolah mengenakannya sebagai seragam. Oleh karenanya dirinya berharap agar Pemerintah memberikan peluang yang sama untuk tenun ini.

“Kain tenun ikat dapat dijadikan pakaian dan perlengkapan busana, kain pelapis mebel, atau penghias interior rumah dan lainnya. Jadi setidaknya Pegawai Negeri Sipil (PNS) mencintai tenun dan menggunakannya di event – event penting. Dan harapnya agar promosi ditingkatkan sehingga tenun Bojonegoro mulai dikenal publik,” pungkasnya. *[Bp]

LEAVE A REPLY