Beban Berat Pemuda di Bidang Pertanian, (Siapakah Penerus Petani?)

875
Foto : Arik Abd Muhyi

Oleh : Arik Abd Muhyi

Mungkin pertanyaan diatas adalah pertanyaan sederhana, namun bila kita perlahan-lahan merenungkan kenyataan sekarang dimana pekerjaan seorang petani dinggap hina, tidak layak pekerjaan kotor, tidak keren, jadul dan miskin, untuk generasi sekarang yang notabene generasi berpendidikan.

Dengan sejumlah deretan lembaga pendidikan negeri maupun swasta telah banyak menjamur sampai pelosok desa seakan menjamin kehidupan yang layak. Ekspestasi untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil, orang kantoran misalnya sedang gencar-gencarnya diperebutkan untuk kelangsungan hidup yang katanya lebih layak.

Pertanyaan diatas saya kira menjadi ultimatum terhadap generasi muda sekarang disaat generasi tua sudah habis masa baktinya menjadi petani. Yang mana Bangsa indonesia akan kehilangan lahan-lahan pertaniannya, karena sudah tidak ada yg mau bertani lagi.

Selanjutnya secara otomatis lahan-lahan pertanian tersebut akan disulap menjadi lahan yang penuh dengan bangunan. Maka hilanglah gelar Negara agraris yang selama ini disandang dan diagung-agungkan.

Memang, perkembangan zaman yang menyebabkan pembangunan disana-sini banyak menimbulkan residu-residu pembangnan menimbulkan residu-reidu pembangunan yang menyebabkan masyarakat semakin termarjinalkan secara sosial maupun ekonomi.

Lantas bagaimana peran pemuda desa terhadap pertanian?. Hal ini pemuda desalah yang berhak menjawabnya. Karena secara langsung ia banyak berinteraksi dengan pertanian.

Jika pemuda desa enggan bertani, maka regenerasi pertanian kritis. Bagaimana tidak 52% produk pangan sekarang ditopang pertanian pedesaan.  Hal ini menunjukkan betapa besar sumbangsih pertanian pedesaan terhadap pasokan pangan negara ini.

Pemerintah harus mendorong agar sektor pertanian berkembang dengan baik. Guna membangun pertanian, baik Sumberdaya manusianya ataupun Infrastruktur yang lebih baik dan kuat, demi tercapainya ketahanan pangan di masa depan.

Diantara peran pemuda dalam pertanian adalah diharapkan mampu menciptanya sistem atau konsep-konsep baru dalam dunia pertanian, ataupun teknologi baru sehingga mampu memaksimalkan produktivitas meskipun dengan lahan yang seminimum mungkin.

Keberhasilan pembangunan desa pada akhirnya berarti juga keberhasilan pembangunan nasional. Desa tidak dipungkiri sebagai sumber kebuuhan warga perkotaan. dan sebaliknya ketidak berhasilan pembangunan perdesaan berarti pula ketidak berhasilan pembanguan nasional. Apabila pembanguan nasional digambarkan suatu titik, maka titik pusat lingkaran tersebut adalah pembangunan pedesaan.

Hal sederhana yang perlu dilakukan untuk menyadarkan kembali bahwa Petani itu pekerjaan yang mulia adalah menanamkan pada diri anak-anak kecil yangg kelak menjadi pemuda yang mencintai dan menggeluti dunia pertanian.

Sangatlah jarang kita menemui orang tua yang menginginkan akannya menjadi petani sehingga dari kecil hingga berpendidikan tinggi bahkan mencari pekerjaan pun “didikte” orang tua untuk menjadi yang lebih dari sekedar petani termasuk bagi orang tua petani sekalipun. Hal ini sungguh ironis mengingat sejak kecil di sekolah dasar ditanamkan bahwa bangsa indonesia adalah negara agraris.

* Penulis adalah : Anggota HMI Cabang MALANG Komisariat Teknik UMM.

LEAVE A REPLY