Banjir Kota Lamongan dan Gagasan Mahasiswa

941
Foto : Banjir yang selalu terjadi setiap turun hujan agak lama di salah satu ruas jalan Kota Lamongan, Jawa Timur.

Bengawanpost.com, Lamongan – Permasalahan banjir masih belum bisa diatasi, hal itu terbukti setiap kali hujan turun yang agak lama saja, sudah menjadi suatu hal yang pasti kenangan akan ada di setiap ruas jalan di Kota Lamongan. Kondisi seperti itu tentunya membuat tidak nyaman para pengendara jalan dan juga masyarakat sekitar.

Akitvis Forum Mahasiswa Peduli Suara Rakyat (FMPSR), Muhammad  Shodikul  Wahib (Diqul) dalam rilis media, Sabtu (14/01/2017) menyampaikan, kejadian banjir yang selalu melanda ruas jalan Kota Lamongan disetiap turun hujan agak lama ini, harus menjadi perhatian semua fihak, terutama Pemkab untuk segera menangganinya.

“Karena buruknya system drainase di Kota Lamongan, maka banjir selalu melanda disetiap turun hujan agak lama. Padahal mestinya Pemerintah faham bahwa Kota Lamongan berada di dataran rendah dan daerah pertemuan air dari berbagai sungai, seharusnya menyiapkan kebijakan untuk mengatasi masalah tersebut,” ujarnya.

Namun selain buruknya drainase, Diqul meminta Pemkab Lamongan mempunyai rencana kebijakan yang komperhenshif dalam penataan tata ruang Kota Lamongan. Kebijakannya dari normalisasi sungai/kali/telaga yang berada di Kabupaten Lamongan, sampai bersinergis dengan masyarakat untuk mewujudkan Lamongan bebas banjir.

“Kami sebagai masyarakat yang mendambakan Lamongan sebagai Kota bebas banjir, berharap kepada semua fihak bisa bersinergis untuk mewujudkannya. Yang mana dari fihak Pemkab Lamongan membuat kebijakan menata system drainase dan normalisasi sungai/kali/telaga, sedang masyarakat tidak buang sampah sembarangan,” harapnya.

Foto : Aktivis Forum Mahasiswa Peduli Suara Rakyat (FMPSR), Muhammad Shodikul Wahib (Diqul).
Foto : Aktivis Forum Mahasiswa Peduli Suara Rakyat (FMPSR), Muhammad Shodikul Wahib (Diqul).

Diqul menambahkan, untuk mewujudkan hal tersebut maka harus dimulai dari rencana anggaran biaya pembangunan lingkungan berdasarkan kebutuhan, dan fakta di lapangan, juga mendengar gagasan-gagasan dari mahasiswa serta masyarakat, bukan hanya copy paste rencana anggaran biaya kegiatan tahun-tahun sebelumnya.

“Kedepan kebijakan pembangunan di Kabupaten Lamongan harus lebih komperhensif, agar tidak ada lagi program yang tidak tepat sasaran. Seperti pengaspalan beberapa jalan yang kondisinya masih bagus, namun beberapa jalan yang rusak dibiarkan begitu saja tanpa ada kegiatan perbaikan jalan,” tambah aktivis FMPSR ini menandaskan.

Lebih lanjut Diqul memaparkan, jika Pemkab terus copy paste dari kegiatan tahun sebelumnya, maka bencana ataupun hambatan-hambatan publik seperti banjir yang terjadi di beberapa ruas jalan Kota Lamongan saat Hujan datang, juga akan dicopy paste atau dengan kata lain tiap tahun ada pengulangan banjir setiap Hujan terjadi.

“Semoga Pemkab Lamongan memprioritaskan penyelesaian masalah banjir ini, dengan cara mengkaji ulang program yang tidak efektif dan efisien untuk dievaluasi ulang. Lalu programnya dialihkan pada penyelesaian permasalahan-permasalahan yang serius seperti banjir tersebut demi kemaslahatan masyarakat Lamongan,” pungkasnya. *[Mu/Red]

LEAVE A REPLY