Akhirnya KADIN Paradigma Baru Bojonegoro Adakan Muskab

510
Foto : Bupati Bojonegoro, Kang Yoto bersama Ketum KADIN Paradigma Baru Jatim, Basa Alim Tualeka dan Ketua Carteker Bojonegoro, Anwar Sholeh serta lainnya saat Muskab.

Bengawanpost.com, Bojonegoro – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Paradigma Baru Kabupaten Bojonegoro, menggelar Musyawarah Kabupaten (Muskab), di Hotel dan Resto Griya MCM Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (19/11/2016).

Dengan mengambil tema “Penguatan dan Pemberdayaan Pengusaha Bojonegoro Dalam Mewujudkan Lumbung Pangan dan Energi Berbasis Ekonomi Kerakyatan”, Muskab dibuka Bupati Bojonegoro, Drs. H. Suyoto (Kang Yoto).

Muskab yang diikuti 100 pengusaha Bojonegoro ini, dihadiri Ketum Kadin Paradigma Baru Propinsi Jawa Timur, Dr. H. Basa Alim Tualeka, M.Si., Owner dan Founder PT. TWU, Rudi Tavenos, Mahasiswa STEM Cepu, Perwakilan organisasi dan lainnya.

Dalam sambutannya, Ketum KADIN Paradigma Baru Jatim, Basa Alim Tualeka menyampaikan bahwa Kadin sebagai mitra strategis pemerintah akan selalu bersinergis dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

“Adanya KADIN Paradigma Baru guna menjawab tantangan jaman. Untuk itu, fokus kami selain konstruksi juga kembangkan UKMK dan peningkatan SDM, agar bangsa Indonesia dapat berkompetisi dan bukan hanya sebagai penonton saja,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Ketua Carteker KADIN Paradigma Baru Bojonegoro, Anwar Sholeh. Menurutnya, dengan Muskab ini diharapkan kedepan eksitensi pengusaha di Bojonegoro dapat memberikan manfaat untuk Kabupaten Bojonegoro.

“Dengan melibatkan semua pengusaha Bojonegoro baik kecil maupun besar, saatnya KADIN Bojonegoro berperan aktif mengawal pembangunan Bojonegoro. Karena adanya KADIN harus bermanfaat untuk wujudkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, setelah pembukaan dilanjutkan Dialog tentang peran usaha dan prospek bisnis Migas dalam mewujudkan Bojonegoro sebagai Lumbung Pangan dan Energi serta adanya kesejahteraan masyarakat lokal.

Bupati Bojonegoro, Kang Yoto selaku narasumber dialog mengungkapkan, kekayaan alam Bojonegoro bisa menjadi kutukan, bila tidak dikelola dengan baik. Oleh karenanya, Pemkab membuat kebijakan yang mendukung hal tersebut.

“Untuk penanganan potensi penghambat eksplorasi dan eksploitasi migas, Pemda terbitkan Perda No. 23 Tahun 2011 dan penguatannya dengan Perbup No. 27 Tahun 2012 tentang Peta Lokasi/Letak Pembangunan Fasilitas Non Teknis atau Fasilitas Pendukung Pembangunan Zona Development,” ungkap Kang Yoto.

Kang Yoto menambahkan, bahwa untuk pendayagunaan Dana Bagi Hasil (DBH) migas, Pemkab Investasikan dalam bentuk modal jangka panjang guna menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih besar dan dapat dinikmati generasi selanjutnya (Endowment fund).

“Dari Hasil DBH Migas Bojonegoro Pemkab menjadi 4 besar pemegang saham di Bank Jatim, dan juga berinvestasi di BPR Bank UMKM Jatim. Hal itu bisa digunakan untuk pengembangan UMKM dan peningkatkan pendidikan Bojonegoro,” tambahnya.

Selain itu, lanjut Kang Yoto. “Adanya eksplorasi ini, kita jadikan momentum untuk meningkatkan keahlian anak Bojonegoro dalam bidang migas, dan hasilnya mereka sudah ada yang bekerja di bidang migas baik dalam maupun luar negeri,” lanjutnya.

Sesudah Kang Yoto, narasumber berikutnya dari Owner dan Founder PT. TWU, Rudi Tavenos memaparkan cara penghematan biaya produksi migas, dengan cara membuat kilang-kilang mini, dan pentingnya BUMD Migas yang professional dan sinergitas semua fihak guna meningkatkan taraf perekonomian masyarakat Bojonegoro. *[Bp]

LEAVE A REPLY