20 Ribu + Gagasan Membangun, Versus 400 Ribu + Jalan Ditempat

94
Foto : Agus Suprianto
Foto : Agus Suprianto

Oleh : Agus Suprianto

”Ya Allah jika jabatan Kades ini baik untukku, agamaku, akhlakku, Desa Klampok dan Warga Klampok maka permudah jalan meraihnya dan berilah barokah dalam prosesnya. Tapi jika jabatann Kades ini buruk untukku, agamaku, akhlakku, Desa Klampok dan Warga Klampok maka ikhlaskan dan gantilah yang lebih baik”.

Ungkapan tersebut sebagai niat ikut kontestasi Pilkades Klampok, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro beberapa hari yang lalu saya menyempatkan diri untuk silaturahmi keberbagai lapisan masyarakat. Mulai dari kalangan Pemerintahan, Petani, Peternak, Pekerja, Mahasiswa, sampai Pelajar. Dari kalangan tua sampai generasi milenial. Dari orang-orang kaya sampai rakyat biasa. Dari obrolan serius sampai obrolan santai bahkan canda tawa.

Tujuannya satu : menggali gagasan membangun desa Klampok. Tentu ide gagasannya beragam. Orang-orang yang paham dalam pemerintahan misalnya, lebih mengeluhkan mekanisme pemerintahan yang kurang benar dan banyaknya etika yang dilanggar.

Orang-orang biasa yang tidak begitu paham aturan negara tentu bicara dalam tataran sederhana dan melihat fakta: Kenapa dengan dana yang sebesar itu pembangunan desa terasa berhenti dan tidak terlihat pembangunan yang signifikan. Mereka tentu tidak akan bicara tentang aturan tapi pakai perasaan dan logika. Pola pikir mereka mengatakan kalau ada dana besar seharusnya ada pembangunan besar juga dong. Dan itu tidak terjadi di Desa Klampok.

Kaum remaja dan milenial idenya lebih segar dan kritis : tingkatkan sarana kreatifitas dan transparansi dana desa. Malah ada yang mengusulkan untuk membuat aplikasi keuangan desa sehingga semua orang bisa mengakses dan mengontrol dana desa dimana saja dan kapan saja.

Semua gagasan itu disampaikan dengan menggebu-gebu dan semangat perubahan. Saya tampung semuanya dengan semangat mewujudkannya juga. Dan saya akan terus membuka gagasan-gagasan baru lainnya dalam rangka perkembangan desa.

Sayangnya di tengah ide gagasan membangun itu sempat terusik dengan sesuatu bernama Rp. 400 ribu. Isu itu menyeruak kuat dalam setiap kunjungan-kunjungan saya. Diiringi dengan kesombongannya akan mampu membeli harga diri setiap orang dengan Rp. 400 ribu itu. Toh selama ini sudah terbukti bahwa siapa yang lebih besar nilainya maka dialah pemenangnya. Tentu setelah itu harus kucing-kucingan untuk mengembalikan Rp. 400rb itu. Dan selalu rakyat yang jadi korbannya. Pembangunan terasa jalan di tempat, rakyat tidak diurusi dan desa semakin tertinggal.

1-2 orang menyarankan melawan Rp. 400 ribu itu dengan Rp. 500 ribu. Karena selama ini memang hanya itu solusinya. Setelah saya hitung, nilainya pun fantastis dan tidak akan cukup penghasilan yang diterima nanti untuk mengembalikan dana sebesar itu.

Alhamdulillah sebagiam besar warga lainya menyarankan ide sebaliknya : lawan Rp. 400 ribu itu dengan Rp. 20 ribu. Rp. 20 ribu yang dimaksud bukan nilai secara harfiah tapi itu simbol. Nilainya bisa naik turun berdasarkan kemampuan dan keikhlasan. Karena itu hanya pesan jangan melawan raksasa dengan kekuatanmu sendiri kalau kamu hanya seorang kurcaci. Jangan tabur garam untuk membuat asin lautan karena itu sia-sia.

Kalau dalam dunia persilatan diajarkan kalau melawan musuh yang lebih kuat dan besar maka gunakan kekuatannya sendiri untuk menjatuhkannya.

Maka saya serahkan sepenuhnya ke warga untuk menentukan siapa yang pantas jadi pemenangnya. Kurcaci ataukah Raksasa. Rp. 20 ribu ataukah Rp. 400 ribu atau Gagasan membangun ataukah jalan di tempat.

Jum’at 8 maret 2019
Dalam perjalanan kereta Bojoonegoro – Semarang

Penulis : Calon Kades Klampok terpilih 2019

data bojonegoro

LEAVE A REPLY