2 Mei Titik Reformasi Pendidikan di Kabupaten Bojonegoro

274
Foto : Peserta Upacara Peringatan Hardiknas 02 Mei 2017, di Stadion Letjend Sudirman Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (02/04/2017) sore.

Bengawanpost.com, Bojonegoro – Pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2017 merupakan titik reformasi pendidikan di Kabupaten Bojonegoro, Peringatan Hardiknas ini menjadi milik seluruh rakyat Bojonegoro.

Sebab tak hanya pelajar, mahasiswa, guru ataukah dosen, bahkan 2020 pemuda dan pemudi yang drop out atau putus sekolah di Kabupaten Bojonegoro nampak ikuti Upacara Peringatan Hardiknas, di Stadion Letjend Sudirman Kota Bojonegoro, Selasa (02/04/2017) sore.

Kabag Humas dan Protokol Pemkab Bojonegoro, Heru Sugiharto menyampaikan, Stadion Bojonegoro telah menjadi saksi kebulatan tekad Pemkab Bojonegoro dalam melakukan reformasi pendidikan. Yang dimulai dengan menghadirkan seluruh anak bangsa dari seluruh penjuru Bojonegoro untuk menjadi bagian dari reformasi pendidikan ini

“Pelaksanaan Upacara  Hardiknas ini diikuti juga 2020 anak putus sekolah usia 13 – 18 tahun dari jumlah 8000 anak putus sekolah yang ada di 430 desa / 28 Kecamatan di Kabupaten Bojonegoro,” ujar Kabag Humas dan Protokol Pemkab Bojonegoro, Heru Sugiharto.

Kabag Humas menjelaskan, dalam event ini tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemuda dari seluruh penjuru Bojonegoro. Selain itu, anak – anak usia sekolah mulai usia 6 – 19 tahun turut serta menjadi bagian sejarah pembangunan karakter melalui pendidikan.

“Hal ini dilakukan sebagai penjabaran tema Hardiknas tahun 2017, yakni “Percepat Pendidikan Yang Merata dan Berkualitas”. Yang mana Kabupaten Bojonegoro menjabarkan menjadi mantapkan pendidikan yang merata dan berkualitas,” jelasnya.

Masih dalam penjelasannya, Kabag Humas mengungkapkan bahwa gerakan di peringatan Hardiknas ini bukan satu satunya gerakan yang dilakukan oleh Pemkab Bojonegoro. Gerakan Ayo Sekolah adalah salah satu gerakan untuk mengajak anak-anak kembali bersekolah mulai di jenjang pendidikan dasar, menengah dan atas.

Ditambah Gerakan Desa Sehat dan Cerdas (GDSC), lanjut Heru Sugiharto. GDSC merupakan program dari Pemkab Bojonegoro untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan seluruh masyarakat Bojonegoro yang melibatkan segenap komponen.

Selain itu, Pemkab Bojonegoro menyadari betul bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan memerlukan sinergi semua pihak. Karenanya Wali Amanah Desa menjadi satu bagian penting untuk mensukseskan gerakan ini.

Heru menambahkan, tak hanya itu dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Bojonegoro. Pemerintah juga memberikan intervensi langsung berupa Dana Alokasi Khusus Pendidikan (DAK) yang diberikan kepada pelajar-pelajar SMA di Kabupaten Bojonegoro.

“Tak hanya pelajar SMA yang menempuh pendidikan di Bojonegoro akan tetapi semua anak anak Bojonegoro yang menempuh pendidikan di jenjang SMA yang diluar Kabupaten Bojonegoro selama dia adalah anak Bojonegoro yang tercatat dalam keanggotaan Kartu Keluarga (KK) berhak untuk mendapatkan DAK Pendidikan,” tambah Heru.

Untuk diketahui, di Kabupaten Bojonegoro terdapat 52 ribu anak usia sekolah. Maka di tahun 2015 untuk kali pertama DAK Pendidikan bantuan yang disalurkan adalah 500.000 rupiah persiswa, lalu ditahun 2016 meningkat menjadi 2 juta rupiah per siswa. Kini ditahun 2016 ini sistem penyaluran akan dibahas dengan mekanisme yang lebih tepat.

“Telah banyak intervensi pendidikan yang dilakukan di era kepemimpinan Bupati Kang Yoto dan Wakil Bupati Setyo Hartono ini dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan bagi generasi muda. Yang membahagiakan adalah adanya pendidikan vokasional setara diploma di Bumi Angling Dharma ini,” ungkap Heru Sugiharto.

Bahkan pemerintah tak tanggung – tanggung memberikan bantuan. Beasiswa diberikan pula bagi putra dan putri Bojonegoro yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Beasiswa ini diperuntukan khususnya bagi mahasiswa yang menempuh pendidikan akhir atau skripsi.

“Inilah bagian dari kerja nyata Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah menyadari betul bahwa pendidikan adalah jembatan menuju masa depan gemilang. Karya ini adalah karya nyata bukti kecintaan terhadap generasi penerus,” pungkas Heru Sugiharto menjelaskan. *[Bp]

LEAVE A REPLY